Terimakasih, Sekolahku

0
1233

Apa yang terlintas dalam pikiran kalian saat mendengar kata sekolah? Sesuatu yang membosankan? Sesuatu sia-sia? Atau justru sesuatu yang ingin terulang kembali? Well, setiap orang punya cara pandangnya tersendiri terhadap sekolah, termasuk aku. Sekolah merupakan salah satu media bagi manusia dalam rangka menuju ke kedewasaan, menurutku. Banyak kejadian menarik yang udah aku alami sejak SD (Sekolah Dasar) sampai SMA (Sekolah Menengah Atas), yang kalo direnungi lebih jauh, kejadian-kejadian tersebut ternyata udah banyak berpengaruh dalam proses pendewasaanku dalam bersikap.

Well sampai usiaku yang udah kepala dua ini, aku merasa kalo aku belum bisa sepenuhnya bersikap dewasa dalam menyikapi banyak hal. Hal tersebut wajar adanya, karena proses pendewasaan diri merupakan sebuah proses yang tanpa ujung. Dia selalu memiliki tingkatan-tingkatan yang mana manusia nggak punya pilihan lain selain mencapai dan melampauinya. Entah udah sampai mana tingkat kedewasaanku ini. Tapi yang pasti, semua kejadian yang aku alami sejak SD sampai SMA udah berhasil mengantarkanku pada suatu tingkat kedewasaan tertentu. Dan tulisan ini berisikan beberapa kisahku yang aku alami―dari SD sampai SMA―dalam misi mencapai level dewasa yang hakiki.

###

Well, saat berusia enam tahun, aku udah duduk di bangku SD, nggak seperti anak-anak pada umumnya, kan? Soalnya pada saat itu, TK (Taman Kanak-Kanak) dimana aku bersekolah sebelumnya, menerapkan sistem masuk siang, sekitar pukul 10.00, kepada semua peserta didik yang memasuki tahun kedua. Bapakku yang jadwal bekerjanya dimulai pukul 7.00, nggak mau repot bolak-balik, dari kantor ke rumah lalu ke kantor lagi, cuma buat mengantarku ke sekolah. Yaa akhirnya, dengan pertimbangan tersebut, Bapakku memutuskan buat langsung menyekolahkanku ke SD tanpa menyelesaikan studi TK-ku.

Bapak menyekolahkanku di sekolah di mana beliau bekerja sebagai guru, di salah satu SD swasta yang―menurut pandanganku sekarang―cenderung berisikan siswa-siswa dari keluarga kelas ekonomi menengah ke atas. Dengan Bapakku yang bekerja di sana, aku nggak mengalami banyak kesulitan buat menjadi salah satu murid di SD tersebut, meski tanpa menyelesaikan studi TK-ku―sedikit aneh sebenarnya. Tapi di sisi lain, Bapakku juga pesimis kalo aku bisa mengikuti pelajaran-pelajaran SD dengan baik, secara pada dasarnya aku belum lulus TK. Jadi saat itu, Bapakku juga udah siap dengan kemungkinan kalo aku nggak naik kelas.

Hmmm, aku rasa Bapakku terlalu meremahkan kemampuan anaknya ini, hehe. Alhamdulillah, aku bisa naik kelas, meski mengalami lebih banyak kesulitan dibanding temen-temenku yang lain. Salah satu kesulitan yang aku alami adalah kesulitan dalam menyesuaikan diri, penyebabnya adalah seragam. Jadi pada masa caturwulan pertama (sekarang semester), aku belum memiliki seragam merah putih kayak anak-anak lain. Jadi untuk mengatasinya, aku terpaksa memakai seragam TK-ku yang dulu. Jujur, aku merasa minder sama temen-temenku pada saat itu. Aku masih ingat, beberapa kali aku merengek, bahkan menangis, kepada ibuku biar bisa membelikanku seragam merah putih secepatnya. Mungkin ini adalah dampak dari proses apply-ku yang sedikit aneh itu.

Nggak cuma itu, aku juga mengalami kesulitan dalam hal kemandirian. Di saat beberapa temenku udah ada yang berani tinggal di kelas tanpa didampingi ortu-nya (orang tuanya), aku masih aja takut kalo ditinggal ortu di kelas. Aku sekarang sadar kalo aku dulu tipe orang yang membutuhkan waktu lama buat menyesuaikan diri di lingkungan yang baru samasekali. Alhasil, dalam kurun waktu beberapa hari, pada awal-awal caturluwan, mamaku selalu mendampingi dan mengamatiku lewat balik jendela kelas. Tapi seiring berjalannya waktu, aku udah mulai terbiasa, terbiasa dengan suasana kehidupan SD yang―menurutku―sedikit lebih kejam dibanding kehidupan TK. Hahaha… 😀

Ternyata masalah kemandirianku nggak cuma sampai situ. Selesai dengan Mamaku, aku masih belum bisa sepenuhnya lepas dari Bapakku. Jadi gini, kalo aku nggak keliru, sampai kelas 3 SD, aku selalu mencari Bapakku setiap kali selesai sekolah, aku pengen cepat-cepat pulang, udah nggak sabar buat main nintendo. Aku selalu mencari Bapak di kantor guru setelah selesai sekolah. Kalo aku nggak bisa menemkan beliau di kantor guru, aku langsung mencari Bapak ke bagian-bagian sekolah yang lain, nah kalo masih nggak ketemu juga, aku langsung menuju ke ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), dan di sana aku menangis sejadi-jadinya, takut kalo aku ditinggal Bapak di sekolah. Biasanya kalo udah kayak gitu, tiba-tiba Bapakku muncul gitu aja dari balik pintu UKS. Dan tangisku pun mereda setelahnya.

Bapak juga rutin menggemblengku buat menghafal surat-surat pendek Al-Quran. Setiap pagi, di perjalanan menuju sekolah, Bapak selalu menyuruhku buat setoran hafalan. Kalo aku kelupaan atau membuat kesalahan dalam pelafalan, Bapak selalu membimbingku dengan sabar. Dan alhamdulillah, gembelengannya tersebut udah membuatku lebih unggul dibanding anak-anak yang lain di salah satu mata pelajaran agama―aku lupa namanya―yang nilainya diambil dari hasil setoran hafalan surat-surat pendek Al-Quran. Saat guru baru mengajar surat Al-ikhlas, aku udah hafal duluan, saat guru baru mulai mengajar surat Al-kafirun, aku udah hafal surat Al-humazah, dan begitu seterunya. Enak, kan? Hehe…

Aku juga nggak perlu khawatir dengan masalah uang saku. Saat uang saku yang dikasih dari rumah habis, aku bisa dengan mudahnya minta ke Bapak. Tinggal menghampiri Bapak di ruang guru, menengadahkan tangan dengan memasang wajah memelas. Berapa? Buat beli apa? Kata Bapak. Seribu, buat beli siomay, kataku. Dan ya, aku berhasil mendapat uang saku ekstra dengan mudah, hehe. Anyway, bagian tersebut adalah bagian yang menurutku paling menguntungkan dengan hadrrnya Bapak di sekolah, haha.

Jujur nih, Bapak udah menjadi tumpuan utamaku selama aku duduk di bangku kelas 1 sampai 3 SD. Dan hal tersebut udah membuatku tergantung sama Bapak. Nah masuk ke kelas 4, aku udah mulai mandiri―belum sepenuhnya mandiri. Di kelas 4, aku udah rutin berangkat ke sekolah seorang diri pake sepeda. Sebenarnya, pertama kali aku pake sepeda ke sekolah adalah saat aku kelas 3. Aku ingat saat pertama kali ke sekolah pake sepeda, saat itu aku masih didampingi Bapak. Jadi Bapak pake sepeda hitam tinggi berkeranjang, sedangkan aku pake sepeda merah kombinasi hitam. Kami bersepeda bersama dengan Bapak yang selalu mengawasiku dari segala sisi.

Di kelas 4 juga, adalah pertama kalinya aku menjadi petugas upacara bendera. Aku sangat bersemangat kala itu. Bahkan pernah pada suatu waktu, aku lebih mementingkan tugas sebagai petugas upacara bendera daripada tugas menghafal ayat-ayat Al-Quran. Hasilnya yaa udah bisa ketebak. Aku disetrap guru, disuruh menghafal ayat-ayat Al-Quran di hadapan anak-anak yan lain. Udah dari kelas 4, aku selalu bersemangat setiap kali kelasku ditunjuk sebagai petugas upacara, nggak cuma aku sebenarnya, kebanyakan temen-temenku juga. Bahkan pernah di kelas 5, aku dan temenku-temenku kecewa berat, saat pihak sekolah lebih memilih kelas 6 sebagai petugas upacara di upacara 17’an. Kami bahkan sampai protes, kami rasa―pada saat itu―kemampuan kami nggak kalah jika dibanding anak-anak kelas 6.

Oh iya, kalo ngomingin kelas 5, di kelas 5 lah pertama kalinya aku suka sama cewek. Sebut aja Febri. Selain sering menjadi juara kelas, Febri juga memiliki lesung pipi yang membuat dia terlihat lebih menawan. Mungkin itu yang membuatku suka sama dia saat itu. Aku masih ingat kalo di kelas kami dulu menerapkan peraturan bahwa setiap siswa harus sudah menyiapkan buku pelajaran di atas meja sebelum pelajaran mulai. Nah, aku yang belum berani nembak dia secara langsung, mengikuti saran temenku buat menyelipkan secarik kertas dengan kata-kata―yang intinya―aku suka sama kamu di dalam buku tulis Febri. Beberapa kali aku selipkan kertas cinta ke dalam buku Febri, dan beberapa kali juga kertas tersebut berakhir di tempat sampah. Aku rapopo.

Tahu akan kejadian itu, temen-temenku menantangku buat langsung menembak Febri. Awalnya aku takut, tapi temen-temenku terus merayu, bahkan mereka merayu dengan uang. Iya, kalo aku berani menembak Febri secara langsung, mereka berjanji mau memberiku sejumlah uang. Aku lupa berapa nominalnya, tapi yang pasti cukup besar buat ukuran anak SD saat itu. Dan… aku pun termakan oleh omongan mereka. Persis setelah jam pelajaran terakhir selesai, aku langsung mencegat Febri yang baru aja mengambil tempat minum di samping kelas. Aku menatap matanya dengan perasaan malu, Febri bingung. Dan tanpa basa-basi aku berucap, Febri aku suka sama kamu! Bukannya menunggu respon dari Febri, aku malah langsung berbalik arah dan lari sekencang-kencangnya saking geroginya. Kuterobos semua yang menghalangiku. Cepat-cepat aku ambil sepeda di parkiran, dan aku kayuh dia cepat-cepat. Sesampainya di rumah, aku seakan nggak percaya dengan apa yang baru aja aku lakukan, menembak seorang cewek untuk pertama dan terakhir kalinya. Ya, sampai saat ini aku belum pernah lagi yang namanya nembak cewek.

Baiklah, kita beralih ke topik yang lebih ringan, yukk! Kalo aku amati sekarang, ternyata dari dulu sekolahku udah memiliki jadwal pelajaran yang terlalu padat untuk ukuran anak SD. Seingatku, untuk anak-anak kelas 4 sampai 6 memiliki jam aktif pelajaran mulai dari pukul 7.00 sampai 14.00 setiap harinya, kecuali hari jumat, yang hanya dari pukul 7.00 sampai 11.00. Di tengah-tengah jadwal pelajaran yang sangat padat tersebut, kami (aku dan temen-temenku) selalu memanfaatkan waktu istirahat semaksimal mungkin, nggak cuma buat mengisi perut, tapi juga buat bermain. Permainan yang paling sering kami mainkan adalah permainan semacam sepak bola tetapi nggak pake bola sepak, melainkan pake kumpulan kertas yang dibuntal menjadi satu dengan karet, atau tutup bulpoin. Kami biasa bermain di koridor kelas yang cukup luas yang biasa digunakan riwa-riwi orang-orang.

Selain itu, kami juga sering sering bermain engklek―jangka, dalam bahasa jawa aksen ngapak khas Tegal―di lapangan sempit di sebelah kantin. Menjelang waktu istirahat, setiap kali mau bermain engklek, selalu ada perebutan wilayah bermain engklek antara pihak cowok dengan pihak cewek. Jadi menjelang waktu istirahat, udah ada perwakilan dari kedua belah pihak yang bersiap-siap di dekat pintu kelas. Setelah bel istirahat berbunyi, mereka langsung lari sekencang-kencangnya, menerobos apa pun yang mengalangi dan ya, perebutan wilayah bermain engklek pun terjadi. Hasilnya udah bisa ketebak, pihak cowok lah yang sering memenangkan wilayah bermain engklek. Hidup cowok!!!! Hahaha… Ya itulah beberapa permainan yang paling bisa aku kenang selama aku menajalani kehidupan di SD, karena pada dasarnya dunia anak adalah dunia bermain. Permainan itu lah yang paling sering kami lakukan, sampai menjelang kami lulus.

###

Masuk masa-masa SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Anyway, aku melanjutkan studi SMP-ku ke SMP Ihsaniyah, Kota Tegal. Sebenarnya SMP ini bukan SMP yang aku inginkan buat melanjutkan studi, tapi berhubung aku ditolak oleh SMP inceranku, jadinya berakhirlah aku di sini. Kenapa aku nggak sekolah di SMP Al-Irsyad? Bapak pengen memasukanku ke sekolah dengan suasana yang berbeda. Dan ya, aku mendapat suasana yang jauh berbeda di SMP Ihsaniyah.

Jomplang banget. Ya, aku rasa kata jomplang adalah kata yang cocok buat membandingkan kehidupan SD-ku dengan kehidupan SMP-ku. Kenapa? Jadi gini, secara keseluruhan, lingkungan SD di mana aku bersekolah memiliki lingkungan yang sehat jika dilihat dari berbagai aspek. Mulai dari lokasi sekolah yang strategis, jajanan yang sehat, fasilitas yang memadai, SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkompeten, orangnya ramah-ramah sampe ceweknya yang bening-bening. Nah di SMP, hampir semuanya berbanding terbalik. Mulai dari lokasi yang sekolah yang nggak sestrategis SD-ku, jajanan yang nggak seenak jajanan di SD-ku, fasilitas yang nggak senayaman SD-ku, sampe tampang-tampang garang bertebaran di mana-mana. Aku bahkan sempat meminta Bapak buat pindah sekolah saat belum segenap seminggu aku sekolah di sana. Tapi Bapak nggak mengizinkan.

Di SMP ini-lah aku mulai mengenal hal-hal yang benar-benar baru dalam hidupku. Ya, di SMP ini-lah pertama kalinya aku berani ngomong kotor, di SMP ini-lah pertama kalinya aku berani membolos, di SMP ini-lah pertama kalinya aku dipalak, di SMP ini-lah pertama kalinya aku mengenal video bokep, di SMP ini-lah pertama kalinya aku mengenal tawuran, di SMP ini-lah pertama kalinya aku berbuat nggak sopan sama guru, dan masih banyak hal negatif lainnya yang dikenalkan oleh SMP ini kepadaku. Selama di SD aku tumbuh sebagai manusia polos yang cenderung berada di zona nyaman, sedangkan di SMP ini, aku seperti dipaksa buat keluar dari zona nyaman tersebut dan mendorongku buat mulai mengenal kehidupan dari sudut pandang yang berbeda sama sekali.

Di SMP ini juga aku dipertemukan Tuhan dengan orang-orang yang luar biasa. Jika saat SD kebanyakan temenku berasal dari keluarga mampu, di SMP justru kebanyakan temenku berasal dari keluarga sederhana. Aku bahkan sempet kaget, saat pertama kalinya aku main ke rumah salah seorang temenku. Rumahnya sederhana, sangat sederhana bahkan, tapi semua orang di sana bersikap bersahaja, sangat ramah kepada para tamu, termasuk aku. Mereka selalu mengajakku makan setiap kali aku berkunjung ke rumahnya. Rumahnya yang hanya membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki dari SMP, membuat rumahnya menjadi basecamp kami (gerombolanku) saat istirahat ke-3 menjelang jam pelajaran tambahan. Sampai saat ini, aku masih sesekali mengunjungi rumahnya, sekedar silaturahmi, mempererat tali persaudaraan yang bisa kendor kapan aja oleh waktu. Bisa melihat arti kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, membuatku bersyukur bisa bersokalah di SMP Ihsaniyah.

Satu hal lagi yang membuatku lebih bersyukur bisa bersekolah di sini adalah, aku bisa menghafal asmaul-husna (nama-nama lain Allah) yang jumlahnya 99 itu.Jadi,  SMP Ihsaniyah Kota Tegal mewajibkan semua siswa dan guru untuk melafalkan asmaul-husna sebelum memulai proses belajar-mengajar, setiap hari. Dan alhamdulillah, sampai sekarang aku masih hafal, soalnya setelah lulus SMP, aku selalu diingatkan Bapakku buat terus melafalkan asmaul-husna minimal satu kali dalam sehari, selesai sholat. Dan ya, itu adalah satu-satunya ‘pelajaran’ saat SMP yang masih aku ingat sampai sekarang.

###

Masuk ke masa SMA (Sekolah Menengah Atas).

Lagi-lagi aku gagal masuk ke SMA incaranku. Singkat cerita, aku kembali ke lingkungan Al-Irsyad. Ya, aku melanjutkan studiku ke SMA Al-Irsyad, Kota Tegal. Suasana kehidupan di SMA Al-Irsyad nggak berbeda jauh dengan kehidupan di SMP Ihsaniyah. Di SMA, aku banyak menemukan hal negatif yang juga aku temui di masa SMP. Aku jadi nggak kaget dibuatnya. Tapi terlepas dari itu semua, SMA ini udah berjasa besar buat membuka mata dan pikiranku akan suatu hal yang penting. Dan itu merupakan pengalaman yang sungguh berarti buatku.

Hal utama yang pengen aku soroti adalah tentang gaya hidup anak-anak di SMA-ku. Well, dari sekian ratus anak di angkatanku, cuma satu orang yang berangkat sekolah pake sepeda. Sisanya, hampir 95% menggunakan sepeda motor, termasuk aku tentunya. Hal yang jauh berbeda berlaku di SMA N 1, Kota tegal, yang banyak orang menganggapnya sebagai SMA terbaik sekota Tegal. Mereka masih memiliki banyak anak yang mau menggunakan bersepada buat ke sekolah. Kalo dilihat dari segi prestasi, tentu SMA-ku masih kalah jauh dibanding SMA N 1. SMA-ku cuma bisa mengimbangi mereka dalam olahraga basket. Ya, kalo aku amati sekarang, anak-anak di SMA-ku dulu belum memiliki prinsip hidup yang kuat, mereka masih dengan mudah terbawa arus hedonis yang perlahan tapi pasti dapat menghabisi potensi besar dalam diri mereka.

Budaya membaca di SMA-ku dulu juga sangat kurang digembar-gemborkan pihak guru. Guru-guru SMA-ku lebih fokus pada materi pelajaran. Selesai mengajar, ya udah, mereka seperti udah lepas dari tanggung jawab. Padahal membaca adalah salah satu cara efektif buat membuka pikiran seseorang. Aku pun sekarang menyesal, kenapa nggak dari SMA aku mulai membaca, kenapa nggak aku sisihkan uang sakuku buat beli buku, kenapa guru-guru SMA-ku nggak pernah menyuruhku buat membaca buku, kenapa, kenapa dan kenapa. Aku merasa kalo aku udah banyak membuang waktu berhargaku di SMA, aku banyak melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat, kayak nongkrong, ngobrol sesuatu nggak penting, dan lain sebagainya. Harapanku sekarang adalah, mudah-mudah-an guru di SMA-ku sekarang nggak lagi terlalu fokus sama pemberian materi aja, Ujian Nasional aja, akreditasi sekolah aja, tapi tolong lebih fokuslah pada pengembangan potensi diri masing-masing siswa, dimana nantinya siswa-lah yang berkembang, yang maju, bukan sekolah. Ya, itulah setitik harapanku buat almamater SMA-ku yang aku hormati. Aku nggak mau apa yang terjadi dengan angkatanku, terjadi juga kepada angkatan-angkatan selanjutnya.

Kita ganti topik yang lebih ringan, yuk! Nggak lengkap rasanya kalo kehidupan SMA nggak dibumbui sama bumbu-bumbu asmara. Selama SMA, aku pernah deket sama dua orang cewek. Hubunganku dengan si cewek pertama udah deket banget, bahkan aku udah pernah main ke rumahnya dan dia juga udah pernah maen ke rumahku. Hubungan kami begitu dekat, sampai pada suatu waktu aku kenal sama anak SMA N 1. Ya, hubungan kami mulai merenggang setelah itu, aku lebih memilih melanjutkan pendekatan terhadap anak SMA N 1 yang baru aku kenal. Singkat cerita, setelah aku masuk ke Unnes (Universitas Negeri Semarang), hubungan kami (aku dan anak SMA N 1) juga mulai merenggang, aku lebih memilih anak jurusan Psikologi yang baru aku kenal saat ospek. Hubungan kami pun nggak berlangsung lama, dengan alasan yang sama. Dan… sampai saat ini pun aku masih belum sama siapa-siapa, alias masih single. Aku memang belum pernah secara resmi pacaran, tapi aku udah pernah deket sama beberapa cewek.

Ya, dengan apa yang aku tuliskan di atas, aku bisa menarik kesimpulan kalo apa yang dikatakan Raditya Dika itu benar adanya: Cuma ada dua tipe cowok di dunia ini, kalo dia nggak homo, dia ba**ngan. Kalian nilai sendiri-lah aku masuk tipe cowok yang mana, hehe. Aku sadar, kalo apa yang udah aku lakukan adalah salah dari berbagai sudut pandang, apalagi dari sudut pandang agama. Makanya mulai sekarang, aku mau berkomitmen buat nggak mendekati cewek lagi kecuali aku benar-benar serius dengannya. Sulit memang, tapi bisa.

###

Well, itu adalah beberapa pengalaman yang udah aku alami selama aku berkecimpung dalam dunia persekolahan. Semuanya udah menjadi kenangan yang nggak pernah lelah menghias kisah perjalananku. Aku nggak akan dengan mudah melupakan semua kenangan ini, soalnya aku udah banyak berkorban waktu dan materi buat mendapatkannya. Akan menjadi bijak, jika semua kenangan ini aku jadikan sebagai pembelajaranku untuk dapat bersikap lebih dewasa dalam mengambil langkah-langkah penting selanjutnya. Ya, semoga Tuhan mengizinkanku buat selalu mengingat kenangan ini. Aaamiin. 😀

Alamat Blog: zulkarnainakhyar.blogspot.com

Penulis
Zulkarnain Akhyar Wicaksana
Universitas Negeri Semarang