Soto Kantin sekolahku

0
751

Dulu waktu yang kita tunggu untuk berkumpul bersama teman-teman hanyalah menunggu jam istirahat di sekolah. Sekarang kita butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun atau bahkan kita tidak tahu kapan kita akan bertemu dan berkumpul dan berkumpul kembali dan makan bersama.

Memang ya waktu jam istirahat walaupun hanya sekedar 15 menit adalah waktu dimana kita bisa istirahatkan pikiran-pikiran tentang soal, materi dan teori yang sangat membosakan bukan. Lebih lagi waktu SMA guru matematika suka bilang “jangan berisik!”, ini hal yang paling kami tidak bisa lakukan. Karena pemikiran-pemikiran logis itu bisa kami dapatkan ketika kita bisa share atau diskusi. Lebih menyebalkan lagi ketika kita harus berdiskusi tetapi ibu guru bilang “jangan bersuara!”. Jadi kita harus bagaimana? Kami berdiskusi ala tuna wicara, dan menjelaskan dengan konsep bagan yang kami corat-coret di kertas. Dan siapa kelompok yang paling cepat selesai mengumpulkan hasil diskusi, kami boleh beristirahat lebih awal.

Waktu itu kelompok kami ada 4 orang, memang kami tidak pandai sih, tetapi cukup cerdas. Apalagi antusias kalau sudah selesai boleh istirahat lebih awal, ini salah satu motivasi lho. Istirahat pukul 10.00, akhirnya kami bisa menyelesaikan hasil diskusi kira-kira pukul 9.35 waktu itu. Kumpulkan hasil diskusi lalu kami bergegas menuju kantin sekolahku.

Kantin sekolah ku memang tak semewah di kota-kota besar, cukup dengan dapur kecil dan beberapa kursi meja makan. Sekolah kami di kaki gunung, pantas saja jam menjelang siang masih saja terasa dingin. Menu paling cocok untuk sarapan adalah soto. Makanan ini pasti sudah tidak asing bagi para pelajar bukan? Saya mengenal menu ini sejak saya SD yang dulu hanya seharga 300 rupiah semangkuk hingga sekarang sudah 3000 rupiah harganya. Entah makanan itu ditemukan sejak kapan, tahun berapa, dan siapa penemunya hingga sekarang saya belum sempat juga mencari tahu. Tetapi rasanya tidak ada yang berubah, komposisi nasi, kecambah, seledri, bawang goreng, mie hoen, suwir ayam dan kuah bumbu soto saja. Kami biasanya menambahkan lauk mendoan atau tempe goreng. Karena itu kami juga minta ditambahkan potongan kol kecil-kecil panjang. Ibu kantin sepertinya sudah hafal dengan pesanan kami.

Segera kami santap soto ayam yang masih panas dengan dibumbuhi sambal dan kecap pula. Segar, nikmat, hangat ketika sudah masuk di kerongkongan dan menambat rasa lapar kami. Selesai makan bersama teman-teman bergaurau ria dan ejek-ejekan konyol itu. Ini yang sangat kami rindukan. Hal yang sebenarnya tidak penting tak berarti tetapi yang membuat rasa rindu ketika masa-masa di sekolah. Agar hal-hal yang penting di masa-masa ketika di sekolah itu, tetaplah penting.

Penulis
PUTRI INDAH ARUM SARI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA