Saya Pocong

0
910

Saya Pocong

 

Oleh Alexio Alberto Cesar Rogerio Nessi

 

“Aaaaccchhhh Poccoooonng!,” teriak adik kelas saya. Dia kaget melihat saya menyamar menjadi pocong, yang berada di kamar mandi paling ujung. Saya hanya diam dengan kepala menunduk dan tersenyum senang melihat adik-adik kelas ketakutan.

Waktu kelas dua SMA, saya menjadi senior di kepramukaan. Setiap tahunnya, diadakan acara rutin, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk para pemimpin regu. Dalam acara tersebut ada sesi Jerit Malam, dengan tujuan untuk melatih keberanian mereka.

Menjadi pocong adalah keinginan saya dan itu disampaikan saat rapat. Sebelum acara dimulai, adik-adik kelas dipersiapkan di aula sekolah yang nantinya akan berjalan mengitari sekolah sendirian. Pos saya di kamar mandi perempuan yang paling ujung. Ditemani satu buah lilin dengan badan dibalut kain putih menyerupai kain kafan, saya bersemangat menakut-nakuti.

Tugas adik kelas adalah mencari kupon makan, dimana besuk pagi ditukarkan untuk sarapan. Saya penjaga kupon makan mereka.

Tingkah konyol adik-adik kelas ketika menemui pocong yang berada di ujung kamar mandi sangat bervariasi. Ada yang kaget tapi mencoba tegar dengan mengambil kupon makan yang berada di lantai kamar mandi.

“Eeehh, pisss mas bro,” ujarnya.

Tapi setelah mendapat kuponnya, dia lari dengan kencang. Saya pun tersenyum geli. Kupon makan itu tampak berserakan di bawah lantai, saya berinisiatif untuk meletakkan kupon makan itu di bawah kaki saya. Sehingga para adik kelas tidak langsung mengambil dan terus lari, tapi mencari dahulu dan mau tidak mau harus mengampil kupon itu di kaki saya.

Dengan hanya menggerakan badan saja, sudah cukup membuat mereka merasa ngeri. Belum lagi bau parfum Malaikat Subuh, seperti bau kemenyan, menambah suram suasana. Perlu keberanian ekstra untuk mengambil kupon yang berada di bawah kaki saya.

Menjadi pocong, saya bergantian dengan Dio, teman saya yang berada di luar untuk mengatur adik-adik kelas agar tidak bareng masuknya. Jarak antara kamar mandi dengan Dio sangat jauh, itu disiasati agar tidak mengacaukan kejutannya.

Waktu sudah menunjukan jam tiga pagi. Saya dengan Dio sudah sangat capek menjadi pocong. Di dalam kamar mandi sangat pengap, belum lagi kain putih yang menyelimuti tubuh kami. Akhirnya, ada kakak kelas kami bernama Triga lewat di pos kami, dia membantu acara tersebut. Triga mau menggantikan kami menjadi pocong.

Peserta tinggal satu, aku dan Dio memberikan arahan kepada si adik kelas untuk mencari kupon makan buat sarapan paginya.  Linda itulah namanya. Tanpa pikir panjang dia masuk mencari kupon makan itu.  Linda adalah anak yang kasar, tampak saat membuka pintu kamar mandi. Karena begitu kasar ketika membuka pintu kamar mandi, pintu tersebut membentur dinding. Triga yang menjadi pocong  kaget dan berteriak.

“Waaahhh!!!,” teriak Triga. Ternyata teriakan Triga membuat Linda menjadi lebih kaget lagi. Linda melihat pocong yang berteriak. Seketika Linda pingsan dan tak sadarkan diri untuk beberapa menit. Aku dan Dio yang melihat dari kejauhan bergegas berlari melihat Linda yang ambruk. Semua panik.

Beberapa saat Linda bangun dan melanjutkan sesi Jerit Malamnya hingga selesai. Linda tidak terlalu lama pingsan tapi meski demikian, hal itu cukup membuat kami bingung.

Sangat menyenangkan. Saya ingin kembali ke masa itu dan menambah dua pocong dikamar mandi, biar tambah greget.

 

 

Penulis
Alexio Alberto Cesar Rogerio Nessi
Universitas Kristen Satya Wacana