Sanggul Lepas, Mikir Keras

0
699

Selamat pagi dan semangat pagi kawan ! Kalau mengingat-ingat pengalaman yang tak terlupakan di sekolah rasa-rasanya terlalu banyak, terlalu banyak cerita, terlalu banyak kejadian menyenangkan sampai yang memalukan. Kejadian sanggul lepas pada saat pementasan, salah satu pengalamanku yang tak terlupakan di sekolah. Bagaimana bisa lupa ? kalau semua orang ingat akan kejadian itu. Aku hanya bisa tersenyum malu.

Sejak TK aku sudah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Seni Tari. Mulai dari tari bali, jawa timur, jawa tengah, hingga tari saman pernah aku ikuti dan  berbagai macam ke hectic-an pun pernah aku alami. Mulai dari lupa membawa perlengkapan, kostum yang tertukar, telat make up yang akhirnya hanya pakai bedak saja, dan ada satu kejadian yang paling memalukan.

Aku dan teman-teman sudah biasa pentas ketika acara wisuda, acara internal sekolah, acara eksternal sekolah maupun mengikuti lomba-lomba. Nah, pada saat pentas di sekolah dalam rangka peringatan hari pendidikan, semuanya berjalan dengan lancar. Sampai tiba-tiba ditengah pementasan aku mendengar suara “bug!” kencang sekali dan apesnya aku tidak hanya mendengar, aku juga merasakannya! Rasanya bagaikan sebuah pukulan melayang telak mengenai kepalaku, lepas sudah sanggulku, seketika membuyarkan konsentrasiku.

Itu terjadi ketika gerakan terseru sekaligus tersulit dalam tarian saman, Laot Sa. Aku menyadari, pukulan yang mengenai kepalaku adalah tangan teman yang ada bukan hanya di kiri, tapi juga di kananku. Gerakan Laot Sa menyerupai ombak, persis seperti liriknya, di mana para penari akan bergerak naik turun berselang-seling. Seandainya aku tidak terlambat sepersekian detik untuk menunduk, kejadian memalukan ini tidak akan terjadi. “Ah, sungguh menyebalkan” gerutuku dalam hati sambil terus menari dan mengembalikan konsentrasi.

Tidak ada lagi yang aku pikirkan, tidak juga rambutku yang sudah berantakan itu, yang aku pikirkan hanya menyelesaikan tarian ini. Aku tetap menari sambil terus tersenyum seolah-olah sanggul itu masih terpasang rapi di belakang kepalaku. Untung saja, gerakan Laot Sa adalah gerakan terakhir dari tari saman ini. Jadi, aku tidak perlu menanggung malu lebih banyak lagi.

“Culik saja adek, bang” pikirku setelah akhirnya tarian itu selesai. Rasanya ingin sekali aku menghilang dari peredaran memikirkan entah apa yang akan mereka katakan tentang sanggulku. Kejadian ini akan sulit sekali untuk dilupakan, sialnya bukan hanya aku, tetapi juga teman-temanku. Terbukti sampai hari ini, kejadian 6 tahun lalu itu membuat aku masih saja di “bully” saat kami bertemu dalam reuni. Tetap saja semua rasa malu ini tidak membuatku berhenti untuk terus menari.

 

Alamat Blog : istiam.blogspot.com

Penulis
Isti Arum Murtiasih
Universitas Diponegoro