Prestasi di Balik Tekanan

0
538

Aku Hanny Yunita tidak dilahirkan dari keluarga yang kaya raya, orangtua yang berpendidikan tinggi, punya kekuasaan melangit. Tidak! Aku hanya seorang gadis yang dilahirkan dari keluarga sederhana. Ibuku hanya memiliki usaha warung kecil-kecilan di rumahnya dan papahku hanyalah seorang pegawai perusahaan asuransi di Jakarta. Papah yang mulai sakit-sakitan terpaksa harus berhenti dari kerjanya. Mulai dari sakit darah tinggi hingga paru-paru basah dan harus rutin mengecek kesehatannya ke Jakarta. Tepat seminggu sebelum aku menghadapi UN SMP papah meninggal. Semenjak itu Kakak perempuan papah yang aku panggil Akoh, ia yang membiayai pendidikanku.

SMA di Santa Maria1 Cirebon mengharuskanku jauh dari rumah dan mamah yang tinggal di Indramayu, rasanya memang berat tapi itu keputusan akoh sehingga aku terpaksa nge-kost untuk hidup mandiri. Akoh yang menuntutku untuk selalu berprestasi, membuatku berada dalam tekanan, hingga memaksaku untuk mengikuti berbagai bimbel/les. Mulai dari les Mafia (matematika, fisika, kimia), les Bahasa Inggris, les renang, bahkan les biola. Aku benci semuanya. Pertama les Mafia, gurunya yang ketika mengajar malas dan hanya rajin ketika awal aku membayar les, kedua les Bahasa Inggris, gurunya yang materialistis dengan mentarif lesnya 50ribu per jam. Les renang gurunya yang suka marah-marah apabila aku lupa pemanasan, dan yang terakhir les biola gurunya yang tidak konsisten dengan jadwal lesnya. Semuanya membuatku hanya bertahan sekitar lima-enam bulan saja.

Di kelas X aku sama sekali tidak mendapat prestasi apapun, hal ini membuat akoh kecewa dan aku mulai putus asa. Disamping keputusasaanku, ada sahabat yang selalu mendukungku, ia bernama Noni. Dia sangat sportif dalam bersaing memperebutkan juara kelas, ia jujur dan sangat dewasa. Hal lain yang mengesankan ialah ada seorang teman lelakiku dengan keterbatasan mentalnya ia sering memberiku surat cinta dan menuliskan kata-kata romantis hingga memintaku untuk jadi pacarnya. Ternyata ia menyukaiku semenjak kami duduk di kelas X. Aku secara tidak enak hati menolak untuk jadi pacarnya, di satu sisi aku memang tidak menyukainya dan hanya menganggapnya teman baik, di lain sisi akoh tidak mengijinkanku untuk berpacaran. Ya.. Akoh juga membatasi pertemananku.

Berada dalam tekanan membuatku sama sekali tidak berprestasi. Aku hanya mendapat juara empat dikelas XI, aku sempat iri dengan Noni teman baikku yang sudah mendapat juara kelas sebanyak tiga kali. Hal ini semakin membuatku putus asa. Ditambah disetiap semester pengumuman kejuaraan ternyata nilaiku hanya beda tipis dengan Noni. Rasanya nyesek, tapi itulah kenyataannya. Tak henti-hentinya aku berdoa untuk mendapat satu kejuaraan. Disaat pengumuman kelulusan UN, akupun tidak mendapat tiga besar hasil UN. Aku sedih dan kecewa, aku merasa sudah tidak ada harapan lagi.

Satu keajaiban tiba ketika perpisahan kelulusan sekolah, Kepala Sekolahku mengumumkan bahwa aku mendapat peringkat kedua hasil Ujian Akhir Sekolah. Rasa bangga dan senang muncul dalam benakku, akhirnya perjuanganku tidaklah sia-sia. Itu adalah pengalaman paling berharga dan tidak akan pernah aku lupakan karena aku yakin tidak ada perjuangan yang sia-sia selama kita berusaha dan berdoa. Aku belajar bahwa setiap usaha pasti membuahkan hasil yang jauh lebih indah dari apa yang kita bayangkan.

Penulis
Hanny Yunita
Universitas Kristen Satya Wacana