Melawan Stereotip dalam Gelombang Mayoritas

0
584

Iwan Setyawan dalam bukunya 9 Summers 10 Autumns pernah menyebutkan, Kenangan itu, betapapun pahitnya, selalu bisa dikenang dan ditempatkan kembali di hati kita. Dan, biarlah memori beristirahat disana. Biarlah kita kunjungi suatu saat.

Kenangan dan Memori. Bukanlah hal yang mudah memang membuka kenangan yang sudah beristirahat dalam kotak memori usang seindah ataupun sepahit apapun kenangan tersebut. Kenangan merupakan  suatu keindahan suci yang terkadang mengusik tuk kembali. Keindahan kenangan membawaku pada masa putih abu abu dimana ketulusan dan ketidakpura-puraan masih ada. Sewaktu itu tepatnya pada bulan mei ketika para siswa kelas 1  harus memilih jalannya dalam kehidupan barunya di kelas 2 kelak. Semua siswa menghadapi gelombang ketakutan yang berada dalam secarik kertas bertuliskan “Pilihan Pertama” serta “Pilihan Kedua”. Sebuah jalan yang meresahkan khususnya bagi siswa yang tidak mengenal indahnya cita cita.

Ketakutan memilih jalan yang salah tidak terjadi padaku yang beruntung sudah mengetahui apa yang diinginkan sedari dini. Dalam sekolah dimana saya bernaung terdapat tiga bidang jurusan dan peminatan; IPA dengan kenfanatisannya umatnya, IPS dengan kebersatuannya umatnya, dan BAHASA dengan ketersingkiran umatnya. Bidang BAHASA merupakan salah satu jurusan yang dapat dikatakan mati suri. Yang kebetulan merupakan dimana hati dan keinginan saya berlabuh. Gemetar yang ada pada bulu bulu tangan saya tidak dihiraukan sembari pena saya kala itu menulis pilihan saya adalah BAHASA.

Semenjak keputusan itu terjadi, gelombang pertanyaan menerpa saya ke tepian. Hal ini terjadi pada teman-teman saya yang mempertanyakan keputusan gila saya. Meskipun terkadang terdapat beberapa teman yang tersenyum dengan kata kata “keren” meskipun itu semua adalah sekadar lip service. Dan entah mengapa gelombang penolakan terjadi pula pada para guru yang mengajar saya setelah pena menuliskan kata kebenaran. Salah satunya adalah guru Bimbingan dan Konseling yang kala itu sedang mengajar di kelas memanggilku ke depan. Masih dalam posisi saya berdiri dan semua mata memandang ia berkata

Kamu mau masuk Bahasa ya? Gak masuk IPA saja ya?”

Keterkejutan menergap saya kala itu. Ketidakpercayaan dan keterkejutan. Saya merasakan terdapat gelombang tinggi pada aliran darah saya dan yang saya lakukan hanya menggeleng lemah. Kemudian ia melanjutkan,

“Beneran gak mau IPA?”

Kepala saya mulai meradang dan entah apa yang merasuki saya dengan nada tinggi saya menjawab,

Lha saya sukanya pengennya sama BAHASA kok bu. Kok dipaksa masuk IPA sih?”

Mata keterkejutan tampak padannya yang mengundang rasa bersalah saya. Sayapun dengan malu menundukan mata dan kepala saya dan kembali ke tempat duduk.

Ketika perasaan kegelisahan saya belum sembuh benar hal ini berlanjut dengan hari  kala bel sekolah telah berbunyi. Saya yang menyadari diri saya terlambat berlari mengikuti kaki kaki kecil menuju anak tangga. Saya terhenti sebentar kala seorang guru biologi berpapasan dengan saya spontan senyum saya layangkan pada Beliau sampai akhirnya Beliau berkata,

“Eh kamu masuk Bahasa ya?”

“Iya pak”

“Ah. eman-eman” katanya sembari melangkahkan kaki pergi.

Tinggal saya seorang diri di tangga merenung dengan semua perkataan gelombang yang melawan saya kala itu. Pilihan ada dua untuk mengikuti arus dan diselamatkan banyak orang atau melawan arus namun saya pergi seorang diri. Gelombang kegelisahan sempat hinggap pada kepala saya karena rasa bersalah untuk kedua orangtua saya, rasa kegelisahan dengan larangan guru guru dan afeksi besar saya pada jurusan ini.

Akhirnya pilihan ditentukan, saya memilih melawan arus dengan masuk jurusan BAHASA. Setiap harinya dalam tempat yang saya perjuangkan ini tidak pernah keluar kata sesal. Setiap harinya yang terjadi disana tidak dapat terlupakan. Kelas dengan jumlah 22 siswa yang membawa kami menjadi kaum minoritas. Makian yang diberi guru pada kami bukan solusi namun saya tidak pernah menyesal mengikuti kata hati dan keputusan besar dalam hidup saya.

Hingga kini ketika saya sudah meniggalkan bangku putih abu-abu terdapat satu pertanyaan yang mengusik. Sungguh disayangkan bagaimana lembaga institusi pendidikan menanamkan stereotip-stereotip yang membungkam para siswa. Langkah saya melawan sterotip dan mengambil keputusan masuk tempat ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya ambil di dalam hidup saya sejauh ini memang. Namun Bukankah pendidikan harus merangkul semua siswa  termasuk tanpa membedakan intelektual, maupun status? Mariana Amirudin dalam Jurnal Perempuan pernah menyebutkan bahwa sekolah harus dikembalikan fungsinya sebagai institusi sosial bukan sebagai prabik testing. Setiap stereotip yang dibuat oleh sekolah akan berdampak pada siswanya bukan selama dia bersekolah namun selama hidupnya kelak. Kita harus mengijinkan para siswa bermimpi bukan stereotip.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” –Sang Pemimpi

 

eunikecahya.com

 

Penulis
Eunike Cahya U.
Universitas Diponegoro