Kuburan Depan Sekolah

0
784

SD kami punya lapangan kecil, di depannya terdapat pekuburan. Jika kami bermain sepak bola, bola sering tertendang masuk ke pekuburan. Aku pernah sekali mengambil bola di pekuburan. Aku tidak takut, karena kami sering bermain di sana.

Aku sering mengumpulkan batu-batu berwarna di atas nisan, atau hanya sekedar berjalan-jalan. Kakiku bahkan pernah terluka menginjak nisan tajam dari kayu. Guru olahraga –lupa namanya- kemudian memukul-memukul telapak kakiku dengan palu. “Agar darahnya berhenti,” ujarnya.

Pada sore hari yang indah, temanku Aang –dieja a-ang-, punya teori menarik. Dia berasumsi bahwa orang yang mati, kelak akan menjadi anjing. “Setiap ada orang yang dikuburkan, tidak lama kemudian aku melihat anjing di sekitar pekuburan,” ujarnya. Berangkat dari fenomena yang dia alami sehari-hari : sering bertemu dengan anjing setelah ada orang yang dikuburkan!

Pekuburan itu luas sekali… Sejauh mata memandang, terlihat ribuan nisan tersusun berantakan. Walau luas, ternyata untuk ukuran kota sekecil Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, pekuburan ini sangat sesak. Karena itu, di depan pekuburan terdapat papan bertuliskan “dilarang mengijing”, atau dilarang menggunakan kuburan dengan semen dan keramik, apalagi sampai dibuatkan atap dan rumah.

Hal ini tentu saja mengganggu pekerjaan masyarakat sekitar, terutama pengerajin kijing. Temanku Bayu, ayahnya adalah seorang pengerajin kijing. Karena itulah, dia sering kami panggil Bayu Kijing. Hal ini sekaligus untuk membedakan dia dengan Bayu yang lain, yaitu Bayu Sayur yang ibunya penjual sayur keliling. Setelah kuliah aku tidak tahu lagi kabar Bayu, dan bapaknya, juga kijing buatan bapaknya.

Selain menjadi pengerajin kijing, banyak masyarakat sekitar yang sering menjadikan pekuburan sebagai sumber penghasilan sehari-hari. Ada yang menjual bunga misalnya, untuk ditaburi pada hari-hari tertentu. Ada pula yang menjadi tukang gali kubur. Anehnya lagi adalah, ada yang menjadi penjaga kuburan. Sampai sekarang aku masih bingung, apa yang harus dijaga dari kuburan-kuburan itu? Ada yang berharga-kah?

Tukang kuburan pernah memarahi kami, karena pekuburan ini juga jadi tempat nongkrong teman-temanku. Ada semacam gumuk –bukit kecil- yang tertutup semak belukar. Teman-temanku secara kreatif memanfaatkannya menjadi tempat nongkrong. Semak-semak disingkirkan, sehingga menjadi semacam pintu masuk, dan di dalamnya dikosongkan. Seperti rumah para hobbit – makluk berbadan pendek dalam film The Lord of the Rings. Di situ mereka merokok dan minum-minum.

Saat SMP, aku bersama teman-teman sering menjadikan pekuburan sebagai tempat nongkrong. Aku bahkan pernah tidur di sana. Langit berbintang jadi selimut dan udara dingin meniupku pelan. Aku bangga dapat tidur di kuburan, karena tidak semua orang berani melakukannya. Sepertinya mitos soal hantu harus dikaji kembali.

Penulis
Bima Satria Putra
Universitas Kristen Satya Wacana