Kisah Dibalik Naskah

4
663

Kertas binder, tempat aneka macam rumus biasa aku tulis dalam balutan warna dan gambar agar tidak terlihat membosankan. Aku hanya tahu sebatas itu, sampai guru bahasa Indonesia mewajibkan kami berpidato di aula. Sekedar formalitas yang ‘katanya’ melatih keterampilan berbicara di depan umum, padahal tidak lebih dari ajang mencari nilai. Kenapa begitu? Lihat saja beberapa temanku yang seakan asal-asalan dan tidak niat menyampaikan pidato mereka.

Oke, kembali ke kertas binder tadi. Hari itu, lagi-lagi rasa tidak percaya diri yang ada padaku muncul begitu saja selang beberapa detik menginjakkan kaki di aula. Namun aku mencoba untuk tetap tenang sembari menunggu namaku dipanggil. Lamaaaaa sekali sampai tanpa sadar tanganku mencoret-coret halaman belakang naskah yang sudah aku tulis rapi. Tidak masalah, mengingat itu hanya sebagai pegangan di depan dan tidak untuk dikumpulkan.

FYI, aku memiliki kebiasaan menulis hangul (aksara korea) ketika sedang bosan, tidak peduli benar atau salahnya. Teman-temanku menganggap itu aneh dan ‘ngga banget’, tetapi bukan Ayu namanya kalau tidak ‘bodo amat’ dengan komentar macam itu. Toh setiap orang punya selera masing-masing, bukan? Intinya, aku duduk di bangku penonton sembari menulis nama beberapa grup idola korea – mumpung guru hanya meminta kami diam, bukan menyimak hehee

Sheilla Anisa, salah satu anak populer di sekolah yang kebetulan duduk di sebelahku, curi-curi pandang ke arah kertas yang baru kuisi seperempat halaman. Saat aku sibuk berpikir nama selanjutnya, Cila – panggilan akrab Sheilla Anisa – merebut kertas itu dariku dan melanjutkannya. Kaget? Tentu! Belum ada sejarahnya anak-anak dikelas yang pengetahuan Koreanya menyamaiku. Tidak bermaksud sombong, tapi itu kenyataannya.

Sampai akhir pelajaran, aku dan Cila tidak juga dipanggil. “Lanjutkan minggu depan ya ‘nak…” kata guruku waktu itu. Alhasil, selama itu kami silih berganti menulis sampai tanpa sadar tidak ada lagi tempat tersisa di halaman tersebut. Menarik, kala masih banyak lagi nama yang ingin aku cantumkan – begitu pula Cila.

Bermula dari kertas itu, kertas yang sampai sekarang mungkin masih ada di antara tumpukan buku-buku bekas – entahlah, terlalu banyak debu hingga aku tidak sanggup membongkarnya lagi. Persepsiku tentang ‘anak populer’ yang sombong, semena-mena, rasis – fenomena yang aku temui selama sekolah di sana – tidak kujumpai pada Cila. “Anak eksis angkatan kita emang banyak yang bener, tapi jumlahnya sebanding sama yang engga, Yu…” komentarnya ketika aku singgung soal gank di sekolah kami.

Delapan bulan. Ya… Sesingkat itu kebersamaan kami di SMA sebelum ratusan kilometer memisahkan Jakarta dan Salatiga. Berawal dari battle pengetahuan di atas kertas, perbincangan ringan tiada akhir di kantin sekolah, misi cover sing, hingga khayalan tentang masa depan cemerlang. Bukan masalah lama waktu yang kita miliki dahulu, tetapi berapa banyak waktu yang akan kita lalui bersama setelah ini.

HmmmOke… Aku mungkin tidak pandai mengakhiri cerita yang bahkan baru dimulai. Namun setidaknya, kebosananku hari itu mengantarkan aku pada Cila, kertas, dan pena. Tiga hal yang menjadi akhir kejenuhanku di SMA.

Penulis
Rahayu Pawarti
Universitas Kristen Satya Wacana

4 COMMENTS