Hidup Itu Bersyukur!

1
900

Perlu kata yang maknanya lebih dari “PUTUS ASA” untuk menggambarkan kekesalanku dalam kegagalanku memasuki universitas negeri yang semula ku kejar dan menjadi targetku selama aku duduk dibangku SMA yang lalu. Hah, miris rasanya.. sakit juga hati ini.. apa usahaku kurang? Apa aku kurang pintar? Apa aku kurang kompeten? Apa aku memang tidak pantas? Pertanyaan-pertanyaan ini muncul saat aku benar-benar deprese saat ku menghadapi kenyataan bahwa aku gagal di SNMPTN dan SBMPTN.

Sempat muncul keinginan untuk tidak kuliah dan bekerja dengan modal ijasah SMA ku ini. Tapi kupikir lagi lebih jauh, apa yang bisa kudapat dari ijazahku yang sekarang? Apa yang bisa ku harap dari ijazahku yang sekarang? Kembali larut dalam kekesalan di dalam diriku. Dan kembali dilanda stress pada saat itu.

Sampai suatu hari aku teringat dengan Universitas swasta di daerah asal ibuku. Ya, di Salatiga. Universitas Kristen Satya Wacana tepatnya. Lalu aku memberanikan diri untuk bertanya pada ibuku.

“Bu, Satya Wacana bagus kah?”

“Ya bagus sih, cuman itu universitas kristen” jawab ibuku.

Aku yang kebetulan memiliki kepercayaan islam, agak sedikit ragu untuk bertanya lebih jauh. Tapi kemudian, muncul satu pikiran dalam benakku. “Bagaimana jika habiskan waktu untuk mencari pengalaman di sana? Lalu mencoba lagi pada SNMPTN di tahun 2015 dan tetap mengejar mimpi untuk menjadi apa yang kumau.” Akupun memberanikan diri untuk menanyakan lebih lanjut pada ibuku saat itu.

“Bu, kalo gak salah bulik Nining dan mbak Dian lulusan dari situ kan?”

“Iya dek, gimana? Koq tiba-tiba nanya tentang UKSW? Mau coba disitu? Kamu yakin gak sama dirimu? Maksudnya ibu bukan secara kemampuan otakmu, tapi sama status Universitas Kristen itu.”

“Bu aku ga masalah koq, selama aku bisa cari ilmu aku siap dimana aja koq. Serius ini” Alasanku pada saat itu.

“Yasudah, sabar ya. Ibu tanyakan ke Om sama Mbakmu.”

Yaps… tak berapa lama akupun mendapat kabar bahwa pendaftaran masih dibuka, akupun mulai mencari-cari informasi tentang UKSW dan mulai memilih apa yang ingin kujadikan fakultas dan jurusan “pelarianku” untuk ku jalani nanti.

Sampai akhirnya, aku menemukan Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi dengan jurusan Ilmu Komunikasi sebagai pilihan. Entah mengapa, aku memilihnya sampai sekarang aku juga heran.

Singkat cerita, aku diterima. Aku sudah tidak stress lagi dan anehnya aku kehilangan niatan nakal untuk hanya sekedar mengisi waktu untuk menunggu SBMPTN di Salatiga, aku benar-benar membulatkan tekad untuk benar-benar fight disana nanti. Itu yang ada didalam pikiranku saat itu.

Aku masih ingat hari keberangkatanku, pesawat pertama dari Bandara Internasional Sepinggan yang terletak di Balikpapan pada tanggal 30 Juli 2014 jam 06.40 pagi. Jarak dari kota asalku Tenggarong ke Balikpapan itu juga tidak dekat, tapi lumayan jauh. Sekitar 2-3 jam perjalanan darat. Dengan jalan yang cukup membuat bokong panas dan menipis. Aku berangkat dari Tenggarong tepat pukul 2 dinihari. Udara dingin menyerang dan air mataku terasa makin memaksa untuk keluar.

Berat rasanya meninggalkan ibuku, beliau sakit. Dan pada saat keberangkatanku, beliau bertanya padaku.

“Dek, rasanya baru kemarin kamu ikut ibu ke loket PDAM untuk bayar rekening air, tapi sekarang kenapa kamu sudah sebesar ini dan mau pergi untuk menimba ilmu saja ya? Waktu memang benar-benar gak kerasa ya?” Ibuku mengatakannya dengan tatapan yang berkaca-kaca.

Aku tak menjawabnya, aku peluk erat ibuku. Lalu aku berkata. “Aku sayang ibu. Ibu cepat sembuh” dan aku menangis di pelukan ibuku.

Berat rasanya berangkat pada saat itu. Aku sangat ingat ayahku mentertawakanku dengan maksud untuk menenangkanku, tapi mau gimana lagi? Ibu dan aku benar-benar sangat dekat. Aku mamaboy dan aku bangga! Sayang sama Ibu. Hehe..

Dan ditengah perjalanan ke Balikpapan aku mencoba menghubungi teman-teman dekat ku, baik via telp, sms, bbm, whatsapp, line, facebook, dan juga twitter. Saat itu aku juga merasa sedih sekaligus beruntung. Memiliki sahabat sebanyak itu dan sebaik itu, mereka semua membalasku dan memberikan semangat padaku. Aaahh… aku merindukan mereka.

Ditengah perjalanan aku tertidur karena memang sebelumnya aku tidak bisa tidur karena terpikirkan dengan perjalananku. Dan ketika aku terbangun, aku sudah sampai di bandara, saat itu baru jam 04.00 pagi, masih ada sisa waktu 2 jam untuk beristirahat dan menangkan diri di Bandara.

Aku berangkat dalam suasana lebaran, suasana Hari Raya Idul Fitri hari ke-2. Bandara pada saat itu cukup penuh dan lumayan sesak. Sampai-sampai aku tak kebagian tempat duduk di ruang tunggu, dan aku tidur sambil berdiri selama hampir 1 jam.

Pesawat sudah siap, penumpang sudah naik. Pesawat bersiap untuk terbang, dan akhirnya sampai. Kemudian, dari Bandara Achmad Yani, Semarang. Aku langsung menuju Salatiga. Disepanjang perjalanan aku merenung, dan merenung. Apa aku benar-benar yakin akan kuliah disini? Apa aku benar-benar sudah memilih jalan yang benar. Pergolakan itu terus berlanjut. Haaah…!!! Mau meledak rasanya kepala ini memikirkannya.

Skip..Skip..

Semester 1 akhirnya akan segera dimulai.. ehh tapi tunggu dulu. Tidak semudah itu jadi mahasiswa, ada orientasi. Kami menyebutnya OMB atau Orientasi Mahasiswa Baru. Acara yang sangaaaatlaah membosankan tapi berkesan, melelahkan tapi membuat kami terbayang-bayang akan memorinya. Hahaha, berlebihan memang.. tapi disitu aku bertemu orang-orang yang sangat luar biasa fighting spiritnya. OMB selesai dan aku resmi menjadi mahasiswa. Asik..asik… akhirnya statusnya naik jadi mahasiswa…

Tapi tunggu…

Bukankah aku masih tidak tahu, apakah aku akan serius mengubah mimpi dan moving on dari segala mimpiku dan berkuliah disini? Galau lagi.. hedeh…

Ditengah-tengah kegalauanku akan masa depanku, aku menemukan seorang gadis dari Jakarta, yang ternyata memiliki keraguan yang sama denganku akan pilihan kami untuk berkuliah disini dan melupakan mimpi kami sebelumnya. Gadis itu bernama, Rahayu (nama sebenarnya apa nama samara aku juga tidak yakin). Kelas Bahasa Inggris yang kupimpin saat itu menjadi tempatku memperhatikannya lebih jauh, dan hey… dia pintar.. dan dia uhmm… manis juga.. hahaha

Setelah beberapa waktu, aku berbicara dengannya, aku semakin sadar jika memang ada beberapa kesamaan dari apa yang terjadi pada ku dan dia. Beda mimpi sih memang. Tapi kalau dipikir lagi. Kita sama, tapi beda. Dia ingin masuk Ekonomi, aku ingin masuk Keguruan. Dia ingin jadi Akuntan aku ingin jadi Guru. Tapi ternyata kami bertemu di Ilmu Komunikasi. Lebih tepatnya di Lembaga Pers Mahasiswa yang ada di Fakultas kami.

Aku menemukan apa yang harus kukejar dengannya. Aku menemukan apa yang menjadi mimpi baruku bersamanya. Aku menemukan keyakinanku bersamanya. Dan yang ku yakini dan tau pasti, semua hal yang kutemukan juga ditemui oleh dirinya.

Dan saat ini di semester 2, aku harus menyiapkan diri untuk menghadapi penjurusan untuk menentukan konsentrasi apa yang akan kuambil nantinya.. Pasti kalian berpikir, “aahh.. galau lagi..” hahah… Tentu saja TIDAK! Aku punya jawabanku dan aku tau apa keputusanku. Karena aku tau, akan ada orang yang mensupport setiap langkah yang kupilih. Jadi, kemana arah ceritaku selanjutnya? Biarkan kuceritakan di kesempatan selanjutnya.

Tulisan ini ingin kuakhiri dengan ini..

Kadang, ekspektasi dan realita memang tidak sejalan dengan cerita kita. Tapi apa kau tau jika terkadang hal itu juga yang membuat kita menemukan cerita lain yang ternyata lebih menyenangkan dari apa yang kalian rencanakan??

Jadi ingatlah… Hidup Itu Bersyukur!!

Ini ceritaku, kamu gak usah cerita. Haha.. bercandaa..

 

 

Penulis
M Fachri Darmawan
Universitas Kristen Satya Wacana

1 COMMENT