Ngeraja

0
511

Di pekuburan depan SD, beberapa siswa senior, atau yang sok senior, merokok dan minum tuak. Salah satu yang sok senior itu bernama Hendra –nama asli-, yang sering memintaku dibelikan jajan setiap hari. Sering sekali, tiap pagi aku harus membelikannya mie instan seharga 500 rupiah. Aku membeli dua, satu aku berikan kepadanya, satu lagi aku makan sendiri. Kami sering memakannya bersama. Ini terjadi paling tidak selama satu tahun, antara kelas dua atau kelas tiga.

Jika tidak bisa beli mie, aku berikan dia 500 rupiah. Mengingat uang sanguku waktu itu sebesar 1.000 rupiah, maka aku memberikan upeti sebesar 50 persen dari total uang sanguku kepadanya. Orang seperti itu kami sebut ngeraja, atau menjadi raja. Mereka dapat memperlakukan orang lain seenaknya, seolah mereka raja.

Aku lupa bentuk perlakuan lainnya, tapi kalau tidak salah, Hendra juga pernah memintaku untuk mengerjakan tugasnya atau mencontek jawabanku seenaknya. Sekarang aku heran, kenapa aku tidak melawan Hendra? Mungkin karena dia punya kakak? Ketika kami kelas dua, kakaknya kelas lima. Sama seperti Hendra, kakaknya juga ngeraja. Kalau jalan bergerombol, dia paling depan.

Selain karena kakaknya, aku pikir faktor lain yang membuat seseorang ngeraja adalah ciri fisik. Hendra, berbadan besar, berkulit gelap, dan bau. Mungkin sekarang aku tidak perlu takut dengan orang sepertiku, toh, dia pasti juga makan nasi. Tapi dulu ciri fisik seperti itu bisa sangat mengintimidasi, terutama bagi orang sepertiku.

Waktu kami kelas lima, ada satu orang lagi yang ngeraja, namanya Anggi. Badannya besar, berkulit cerah dan lebih tampan ketimbang Hendra. Wajahnya tidak lebih seram daripada Hendra, namun ada sesuatu yang membuatku takut. Ada semacam sesuatu yang muncul dari dalam dirinya. Semacam aura. Aura untuk ngeraja, untuk menjadi preman.

Tidak ada perebutan kekuasaan di sekolah, antara Anggi dan Hendra. Tapi pada suatu hari, mereka berdua pernah berkelahi, entah karena apa. Sekolah kami kemudian terbagi menjadi dua kelompok, satu mengikuti Anggi dan satu lagi mengikuti Hendra. Aku memilih mengikuti Hendra. Hendra dan Anggi berencana untuk duel di lapangan bola di hutan, tidak jauh dari belakang sekolah dekat rumah penduduk. Karena dimarahi bapak-bapak, kami kembali ke sekolah. Anggi dan Hendra kemudian duel di sana.

Singkat cerita, Anggi kalah. Aku senang Anggi kalah. Bukan berarti aku sayang Hendra, tetapi karena aku lebih benci dengan Anggi. Semenjak kemenangan Hendra, pengaruh Hendra semakin kuat di sekolah. Dia benar-benar ngeraja. Anggi hanya menjadi semacam raja kedua saja menurutku.

Aku ingat, ketika pengumuman kelulusan, ayah datang ke sekolah. “Mana yang namanya Anggi dan Hendra itu?” ujar ayah. Entah hanya bermaksud menggertak atau bagaimana, pertanyaan ayah membuatku sangat malu. Aku malu kepada kawan jika harus dibela ayah. Seolah-olah aku ini anak yang beraninya hanya mengadu saja. Aku lupa bagaimana ayah bisa mencari mereka berdua. Sepertinya aku benar-benar pernah mengadu sebelumnya.

Saat aku menuliskan ini, aku merenung dan mengerti kenapa ayah bertindak demikian : karena aku anaknya. Aku akan melakukan hal yang sama untuk anakku kelak. Aku akan melindunginya, dan memberi pelajaran kepada mereka yang berani mengganggunya. Paling tidak, ayah bermaksud melindungiku dari anak-anak yang ngeraja tersebut.

Berbeda dengan masa SD, saat SMP dan SMA seseorang tidak dapat begitu saja ngeraja seorang diri. Mereka butuh koalisi. Pengalaman dengan hal yang bernama ‘ngeraja’ pada tingkat SMP dan SMA adalah sesuatu cukup parah dan ingin aku lupakan. Karenanya, aku tidak akan menuliskannya di sini. Aku akan menuliskannya jika ada lomba menulis ‘Pengalaman yang Hendak dilupakan di Sekolah’.

Penulis
Bima Satria Putra
Universitas Kristen Satya Wacana