Menyusuri Makam Jadi Banyak Belajar

0
687

“Setiap anak harus membawa lilin dan korek api satu buah” Hah? Untuk apa semua peserta harus membawa lilin, selalu membuat penasaran saja. Belum lagi persyaratan lain yang harus dibawa, merepotkan. Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) jadi salah satu hal yang wajib untuk para anggota OSIS di sekolahku. Kita diajarkan untuk menjadi seorang pemimpin dalam latihan ini. Kegiatan yang diadakan di sekolah ini berlangsung selama 2 hari, dan kami semua harus menginap di sekolah. Peserta LDK saat itu kurang lebih sebanyak 20 orang.

Sebagai calon pemimpin bangsa kelak, setidaknya kita perlu berlatih menjadi seorang pemimpin. Meskipun dalam kegiatan ini kita hanya diajarkan hal-hal mendasar dari apa yang harus dilakukan seorang pemimpin. Hari pertama LDK, kami sangat menikmati kegiatan. Mulai dari senam bersama, pelatihan kepemimpinan, sampai sesi games pun kami lalui dengan tawa. Namun ketika malam hari tiba, sepertinya ada sesuatu hal aneh akan terjadi. Ah, hati para peserta pun diguncang kegelisahan dan kekhawatiran. Kenapa panitia disini senang sekali melihat pesertanya terkejut dengan hal-hal yang menyebalkan.

Sejenak terbersit ketika mengingat tugas peserta LDK untuk membawa lilin dan korek api. Masalahnya, beberapa perlengkapan lainnya yang kami bawa sudah semuanya terpakai pada saat kegiatan pagi hingga sore tadi. Atau jangan-jangan, lilin tersebut akan digunakan untuk? Entahlah, sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang bagi peserta LDK.

Tepat pukul 23:00 WIB semua peserta berkumpul di tengah lapangan sekolah. “Pakai penutup mata kalian, dan setiap anak wajib membawa lilin dan koreknya masing-masing” Seru salah satu panitia LDK. Jika saja suara jantung peserta terdengar pada saat itu, mungkin seperti sekumpulan marching band yang hendak pawai. Dalam kondisi mata tertutup, peserta disuruh untuk bergandengan tangan dengan peserta lainnya. Kami diajak berjalan entah menuju kemana malam itu, cukup merepotkan juga berjalan dengan mata tertutup. Sudah gelap karena malam, ditambah mata ditutup pula. Hanya nafas dari peserta lain yang kami rasakan.

Setelah jalan cukup jauh, panitia mengijinkan kita untuk membuka penutup mata. Semua terbelalak ketika melihat sekelilingnya adalah makam. Mengerikan, tengah malam berada di pemakaman umum dengan kondisi makam yang gelap gulita. Panitia lalu menjelaskan apa yang harus kami lakukan disini. Peserta harus melewati makam, menuju tempat dimana semua peserta nanti harus berkumpul tepat di ujung jalan pemakaman.  Jadi, karena makam tersebut sangat minim penerangan, maka panitia menugaskan peserta membawa lilin untuk menerangi peserta pada saat melewati makam.

Alangkah terkejutnya kami semua ketika kami harus melewati makam seorang diri, dan hanya ditemani sebatang liling yang kapan saja bisa mati tertiup angin. Satu persatu peserta berjalan, sampai pada akhirnya tiba giliranku. Sepanjang jalan, aku hanya fokus pada lilinku agar tidak padam. Bibirku terus menyerukan doa-doa agar tidak terjadi hal-hal yang sangat tidak diinginkan sepanjang perjalanan.

Langkah kaki yang mulanya pelan, mulai ku percepat. Menyeramkan sekali berada di tengah pemakaman pada malam hari seorang diri. Hatiku mulai lega ketika melihat ujung jalan dari pemakaman tersebut. Kulihat panitia dan teman-temanku yang telah dulu sampai. Akhirnya aku terbebas dari suasana makam yang mencekam. Memang banyak hal-hal ganjil yang aku rasakan pada saat melalui makam, tapi kubiarkan saja hal itu berlalu dan hanyut dalam sunyinya malam.

Ternyata, ada hal positif yang mengajarkan kami dari kegiatan tadi. Pemimpin harus berani menghadapi masalahnya, meskipun dia seorang diri. Dalam kondisi gelap gulita, dan hanya ada lilin yang membantunya melalui jalan tersebut. Lilin yang diibaratkan sebagai penolong, yang Tuhan beri untuk membantumu melalui setiap masalah. Sampai pada akhirnya, kamu tiba di ujung jalan dimana kebahagiaan itu ada. Suatu pengalaman yang menyenangkan dan tidak akan terlupakan. Semoga ini bisa menginspirasi orang banyak, agar selalu berusaha untuk melalui masalahnya dan mendapatkan kebahagiaannya.

Penulis
Adi Luthfi Wiguna
Universitas Islam Sultan Agung