Lelaki itu…

0
555

 

Masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan bagi kebanyakan orang. Aku menikmati masa SMA dikota yang belum pernah aku tinggali sebelumnya. Kota ini begitu asing bagiku. Kota Cirebon ialah kota dimana aku harus nge-kost kurang lebih tiga tahun lamanya, karena di daerahku Indramayu tidak ada SMA yang menurut mamahku bagus. Entah apa indikatornya mamah menilai sebuah sekolah bagus atau tidak. Nge-kost dan jauh dari orangtua membuatku harus hidup mandiri.

SMA di St.Maria Cirebon rasanyapun asing bagiku, tidak ada satupun orang yang aku kenal di kota ini. Masa Orientasi Siswa adalah masa yang paling tidak menyenangkan bagiku, dimana kelompokku kalah dalam suatu kompetisi dan mengharuskan anggotanya untuk meminum jus pete dengan campuran bawang putih, cabai rawit, merica yang rasanya nano-nano menurutku.

Suatu siang yang terik aku hanya duduk termenung di kantin sambil menunggu pergantian kelas selanjutnya, tidak kusadari ada lelaki lumayan tampan menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku. Ia terus memandang ke arahku dan menatapku dengan tajam. Aku sedikit curiga dengan tatapan matanya, karena sebelumnya aku tidak pernah melihatnya ataupun berpapasan langsung dengannya. Tak lama ia menawariku minuman yang ia pegang. Segelas air putih dingin. Tenggorokanku sedikit kering karena teriknya matahari. Akhirnya akupun menerima tawaran minuman itu, dengan senyuman sedikit terpaksa aku mengambil minuman dari genggamannya.

Tak sempat berkenalan, bel masuk kelas berbunyi. Aku segera lari menuju kelasku. Selama pelajaran berlangsung, Aku bercerita mengenai lelaki yang aku temui di kantin tadi pada teman sebangkuku, Dini. Ia sedikit kebingungan dengan ceritaku. Keesokan harinya tak sengaja aku bertemu dengannya lagi di perpustakaan. Aku menunjukkan sosok lelaki itu pada Dini. Wajah Dini sangat terkejut ketika melihat lelaki itu. Tak lama aku mengajak lelaki itu berkenalan. Rasanya malu memang, tapi mau bagaimana lagi? aku mtertarik dengan lelaki itu. “Ohhh.. lelaki itu bernama Willy” Aku mengatakannya pada Dini.

Ternyata Dini kenal dekat dengan lelaki itu. Awalnya Dini memang tidak mengijinkanku untuk mengenalnya lebih jauh tapi entah kenapa ia tiba-tiba justru mendukungku. Setiap hari kami sering bertemu di sekolah dan akhirnya kamipun bertukaran nomor ponsel. Akhir-akhir ini ia sering mengajakku mengobrol lewat telepon ia juga sering menanyakan kabarku, rasanya ia sangat perhatian padaku. Bahkan ia juga sempat main ke kost ku untuk mengajariku Matematika. Aku masih ingat sekali saat itu aku sangat lemah Matematika di teori geometri dan bidang ruang. Ia sangat sabar ketika mengajariku Matematika.

Semakin hari kami semakin dekat, hingga suatu hari ia mengajakku nge-date tepat ketika aku berulangtahun ke-16. Ia mengajakku ke restaurant yang cukup mahal bagiku, ia memberiku kejutan dengan membawakanku kue tart  dan boneka beruang besar berwarna pink sesuai warna kesukaanku. Ia menyuruhku mengucapkan harapanku dan meniup lilinnya. Beberapa menit kemudian suasana menjadi hening aku sedikit gugup kemudian ia memegang tanganku  sambil mengatakan bahwa ia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya. Seketika jantungku mulai berdetak kencang tak terkontrol, badanku mulai berkeringat. Aku bingung dan belum siap untuk mengatakan bahwa aku bersedia menjadi kekasihnya.

Semenjak ia menyatakan perasaannya malam itu, aku justru menghindar darinya. Aku sudah tidak pernah menjawab telepon masuk darinya,  membalas pesan singkatnya, bahkan menyapanya ketika berpapasan di sekolah. Memang berat rasanya ketika pernah dibuat bahagia tetapi  mamah mengetahui kedekatanku dengan lelaki itu. Entah siapa yang mengadu kepada mamahku. Aku tak tahu. Mamah melarangku memiliki kekasih yang jauh berbeda usianya denganku, yang masih berusia 16 tahun saat itu. Andai saja lelaki itu bukan guru matematikaku dan usianya lebih muda 10 tahun dariku pasti mamah mengijinkanku untuk bersamanya. Tapi aku yakin maksud mamah adalah baik untuk anaknya.

Penulis
Hanny Yunita
Universitas Kristen Satya Wacana