Aku, Kamera, dan Sekolah

0
464

“Selamat pagi…” itulah kalimat yang aku ucapkan untuk mengawali seluruh kehidupanku setiap harinya. Bergegas aku bangkit untuk melihat hal baru apa yang sudah siap menantiku. Sekolah, salah satu tempat di mana aku bisa melihat hal-hal baru yang siap ku sambut. Tas merah di punggungku sudah terpasang rapi dan cantik, sepasang kaos kaki putih yang setiap hari menemaniku bersama temannya sepasang sepatu hitam. Aku mengatakan aku siap hari ini.

Oh tunggu, ada satu hal yang terlewat. Bagimana bisa aku melewatkan salah satu sahabat karibku ini, Ya Tuhan, dialah kamera hitam pemberian papa yang amat aku sayang. Ternyata tak hanya tas merah, kaos kaki putih dan sepasang sepatu yang menemani setiap detik hariku di sekolah. Sepertinya inilah saatnya aku menceritakan kepada kalian bagaimana hebatnya hubungan antara kameraku dengan sekolahku SMP Kristen YSKI.

Sekolahku adalah sebuah bangunan yang berdiri hebat dan kokoh di Jl. Sidodadi Timur no.23, Semarang. Kokohnya sekolahku bukan hanya berasal dari bahan-bahan material yang dikategorikan mahal. Kokohnya sekolahku adalah berasal dari setiap pengalaman siswa-siswi yang bersekolah di sana. Entah apa yang membuatku ingin menceritakan semua tentang ini, tapi percayalah ketika kalian masuk kedalamnya kalian akan tahu betapa kalian akan mendambakan setiap moment dan pengalaman di sana. Memang tak semuanya indah ataupun buruk.

Sekolahku banyak sekali menyelenggarakan kegiatan-kegiatan untuk siswa-siswi. Diantaranya adalah, LDK, Pentas Seni, kemah, kegiatan PMR, Refreshing Course, kebaktian bersama setiap bulannya dan masih banyak lagi lainnya. Tentu saja tak hanya para siswa yang siap untuk mengikuti acara tersebut, kameraku seakan meronta dan mengatakan jka ingin menjadi salah satu bagian dari acara tersebut. Tentu saja sebagai sahabat yang baik aku mengetahui keinginan sahabatku itu. Ku keluarkan kameraku dan kami pun mulai beraksi. Berbagai adegan drama, tarian, paduan suara,outbond, penampilan komedi sudah berhasil kami abadikan.

Perlu kalian ketahui, tak hanya aku yang bisa memahami sahabatku itu, tetapi bangunan yang berada persis di depan Univeritas IKIP PGRI juga adalah fasilitator kami. Hal itu ditunjukkan dengan adanya ekstrakulikuler photography, para photographer muda yang berasal dari sekolahku berkumpul menjadi satu dan dengan liar kami menjelajahi setiap sudut sekolahku, setiap moment, setiap ekspresi yang terpancar dari wajah siswa-siswi yang luar biasa. Para calon penari hebat yang berasal dari sekolahku pun mulai meliuk-liukkan tubuhnya seraya mengatakan “ambil aku juga, Bung!” dan saat-saat itulah kami beraksi.

Setelah hariku berakhir tepat pukul 14.00 untuk kembali ke rumahku aku merasa ada kepuasan dan kedamaian dalam hatiku hari itu, dengan bangga dan dengan seulas senyum sebelum tidur malam, aku membuka kameraku dan melihat setiap moment dan ekspresi teman-temanku di sekolah.

Aku merenung dan mengucap berlimpah syukur atas kehadiran sekolahku yang luar biasa, yang memahami anggota di dalamnya. Tak hanya berhenti sampai proses belajar mengajar, tetapi setelah semua itu berakhir sekolahku memberi kesempatan kepada kita semua untuk mengembangkan setiap talenta yang sudah Tuhan beri, dan tentu saja semua kegiatan itu terus mengundangku untuk mengabadikan moment-moment itu, moment-moment yang mungkin belum tentu aku dapat di tempat lain.

Aku percaya suatu hari ada orang-orang hebat yang berdiri di sana dan itu adalah aku, kameraku, sekolahku, dan tentu saja kawan-kawanku yang luar biasa. Menimba ilmu memang lah penting, tapi seberapa pentingnya dibandingkan jika aku bisa mengabadikan tiap hal di dalamnya dan belajar dari semua hal itu. Inilah saatnya aku tidur untuk melihat kejutan-kejutan lain yang siap sekolahku berikan untukku dan kamera ku esok

Penulis
Tjen, Maurilia Zerlina
SMP Kristen YSKI