Masa Indah, Masa Orientasi Siswa

0
679

Mendengar katanya saja sudah membuat merinding, apalagi ketika teman-teman ku menceritakan pengalamanya sewaktu mengikuti kegiatan tersebut. Hal yang paling menyebalkan ketika kita harus menggunakan aksesoris aneh di sekujur tubuh. “Besok kalian harus membuat kalung dari terong, kacang panjang, dan cabe. Dan harus dipakai sebelum masuk gerbang sekolah”. Hah? Apa-apaan ini, seenaknya saja mengatur kami untuk membawa bla bla bla ke sekolah.

Masa Orientasi Siswa (MOS) sepertinya masih menjadi momok yang sangat menakutkan untuk siswa baru. Mungkin karena banyak pemberitaan di media yang mengangkat tema masa orientasi siswa yang penuh dengan aksi bullying. Sepertinya hal ini tidak berlaku di sekolah ku. Maklumlah, ketika ajang MOS dijadikan tempat untuk berlucu-lucu. Karena siswa baru harus menggunakan kalung sayuran, topi kerucut, dan tas dari kantong kresek hitam di sekolah. Beruntungnya, sekolahku benar-benar menghindari dan melarang adanya aksi bullying ketika kegiatan MOS berlangsung.

Katanya, SMA adalah masa-masa paling menyenangkan. Masa sih? Mungkin kegiatan MOS ini salah satu yang membuat masa putih abu jadi menyenangkan. Pertempuran melawan malu dan uji mental pun dimulai. Kegiatan MOS hari pertama berlangsung, aku mendapatkan kelas paling ujung lorong sekolah. Mitosnya, ruangan itu banyak kejadian-kejadian yang pelakunya tak kasat mata. Wah, menyeramkan juga ketika sedang asik belajar tiba-tiba mendengar suara-suara aneh di kelas. Apalah artinya kelas berhantu, toh kita sekolah pagi bukan tengah malam. Hahaha..

Aku mendapat kelas X-5 waktu itu, untunglah banyak teman teman yang sudah banyak ku kenal sewaktu SMP. Iya, beberapa teman SMP ku juga diterima disekolah yang sama denganku. “Halo, selamat pagi. Selamat datang di sekolah baru kalian” panitia MOS menyambut kami dengan senyum ceria. Oh tidak, lebih tepatnya senyum jahat. Iya, karena sebentar lagi dia akan membacakan peraturan dan menugaskan kita untuk membawa barang-barang aneh.

Benar saja, banyak sekali daftar barang yang harus kami bawa esok hari. Ahh, sudah seperti daftar belanjaan mamah saja. Di hari kedua, seluruh peserta MOS sudah menggunakan aksesoris yang beragam dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ada yang tangannya dipenuhi karet gelang, ada yang rambutnya di penuh kunciran, hahaha ada-ada saja memang. Hari kedua kami berkeliling sekolah, semacam pengenalan lingkungan sekolah gitu deh.

“Tugas untuk besok, dicatat” lantang sekali kakak senior di kelasku, wajarlah dia anak paskibra. Iya, anak paskibra terkenal dengan suaranya yang lantang dan tubuhnya yang tegap. Tugas apalagi, besok hari terakhir MOS masih dikasih tugas juga. Sedikit mengagetkan memang ketika tugas dihari ketiga diumumkan. Peserta harus membuat surat cinta untuk kakak seniornya. Nah, inikan jadi satu bagian yang menyenangkan, hahaha. Tidak jarang ketika kegiatan MOS, kita menyukai salah satu kakak senior yang parasnya cukup indah untuk dipandang. Ini seperti menjadi kesempatan untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Ah tidak, ini hanya surat untuk asik-asikan, jangan di terlalu dianggap serius lah.

Hari ketiga pun dimulai, di penutupan MOS ini peserta harus memberikan langsung surat cintanya kepada kakak seniornya. Siang itu, peserta berkumpul dilapangan sekolah. Dua orang perwakilan dari peserta MOS, melakukan aksi simbolis sebagai bentuk peresmian masuknya siswa baru. Siapa bilang kegiatan MOS selalu penuh dengan kekerasan dan bullying. Selama sekolah masih bisa membimbing siswanya untuk tetap berada di jalan yang benar dalam melakukan kegiatan, serta adanya pengawasan dari sekolah, aksi kekerasan pun bisa dihindari. Jadi, kita sepakat ya jika masa orientasi siswa menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan di sekolah.

Penulis
Adi Luthfi Wiguna
Universitas Islam Sultan Agung