Urine Gajah, Dibuang Sayang!

0
618

Bagian tubuh manakah dari gajah yang bernilai rupiah? Mayoritas akan menjawab gading, daging, dan tulang. Namun, pernahkah kita berpikir tentang urine gajah? Dengan porsi minum mencapai 150 liter air per hari, dipastikan sampah buangan gajah tersebut adalah benda yang melimpah dan bernilai rupiah tinggi jika kita tahu cara memanfaatkannya.

Salah satu informasi menarik tentang urine gajah didapatkan saat sekitar seratus peserta workshop blog dan fotografi Harian Kompas mengunjungi Taman Safari Prigen. Kegiatan bertajuk elephant tour pada tanggal 17 Maret 2015 tersebut mengunjungi penangkaran gajah sumatera (elephas maximus sumatranus). Peserta mendapatkan kuliah singkat mengenai seluk beluk gajah langsung oleh Suhadi, kepala penangkaran gajah di Taman Safari Prigen.

“Urine gajah mengandung bakteri pembentuk gas metan, sehingga urine gajah dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi biogas”, tutur Suhadi. Urine gajah merupakan salah satu sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Selain itu, urine gajah bersifat bisa diperbaharui, sehingga tidak perlu kuatir tentang jumlahnya. “Seharusnya yang dikuatirkan adalah gajahnya sendiri”, imbuh Suhadi sambil tersenyum.

Pemanfaatan biogas dari urine gajah masih di seputar lingkungan Taman Safari Prigen. Dengan adanya biogas, dapur ransum satwa Taman Safari Prigen bisa menghemat sekitar 3 tabung LPG berukuran 12 kg setiap bulannya. Jumlah tersebut setara dengan 400.00 rupiah.

Langkah Taman Safari Prigen dalam mendayagunakan urine gajah patut didukung. Selain mengurangi pencemaran lingkungan, ada langkah lebih besar untuk segera mengurangi pemakaian sumber energi yang tidak terbaharukan seperti minyak. Berdasarkan hasil kajian Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang kondisi energi di Indonesia, cadangan minyak kita hanya cukup untuk 23 tahun lagi (Kompas, 25 September 2014).

Penulis

Arik Fajar Cahyono