SELAMATKAN GAJAH NUSANTARA

0
436

Ada seorang yang salah satunya berprofesi sebagai seorang komika Indonesia si Raditya Dika yang bilang bahwa laki-laki di dunia ini hanya dikelompokan menjadi 2 jenis kalau bukan bajingan pasti homo, penentuan definisi yang menarik menurut saya. Dan apabila saya diperkenankan untuk membuat sebuah definisi seperti yang dilakukan oleh Raditya Dika maka saya akan membuat definis mengenai gajah di Indonesia. Bahwa gajah di Indonesia itu Cuma ada 2 kalau bukan “membunuh” (menyerang) pasti dia dibunuh atau diserang untuk dibunuh, ahh bingung..?? Sudahlah.

 

Populasi gajah yang ada di Indonesia terutama di wilayah Sumatra saat ini sudah sangat mengkhawatirkan dimana dari data yang dimiliki oleh salah satu lembaga konservasi satwa yaitu Taman Safari Indonesia disebutkan bahwa jumlah mereka mengalami penurunan, yang mana pada tahun 1995 diperkirakan masih ada sekitar 5000 ekor gajah namun pada tahun 1998 diperkirakan hanya ada sekitar 600 ekor gajah yang tersisa di Indonesia jumlah penurunan yang sangat drastis tentunya, apalagi bila dilihat dari usia hidup gajah yang hanya sampai usia 60 – 70 tahun dengan masa kehamilan selama 22 bulan dalam rentang waktu 5 tahun, maka akan sangat diperlukan usaha yang sangat luar biasa untuk dapat menjaga agar gajah-gajah di Indonesia tetap lestari.

 

Penurunan jumlah populasi gajah ini dikarenakan banyak gajah yang diburu untuk diambil gadingnya dimana gading ini akan diperjualbelikan untuk koleksi dengan harga paling murah sekitar 100 juta rupiah, dan untuk mengambil gading ini gajah harus dibunuh karena gading yang diambil harus dipotong sampai kepada pangkalnya agar harganya tetap mahal. Selain untuk diambil gadingnya banyak gajah yang dibunuh juga dikarenakan kawanan gajah ini masuk ke dalam pemukiman atau lahan pertanian warga dimana mereka terpaksa masuk untuk mencari sumber makanan dan air akibat sudah rusaknya habitat alami mereka dikarenakan adanya pembalakan dan pembukaan lahan untuk keperluan perkebunan. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan semakin menurunnya jumlah populasi gajah dari tahun ke tahun. Maka untuk mempertahankan populasi gajah ini sangat diperlukan adanya upaya konservasi, salah satunya adalah yang telah dilakukan oleh Taman Safari Indonesia (TSI) dengan mendirikan Rumah Sakit gajah di Taman Nasional Way Kambas Lampung serta aktifitas pemberian Microchip pada gajah sebagai tanda pengenal yang nantinya akan dijadikan basis data jumlah gajah di seluruh Indonesia.

 

Selain dengan aktifitas konservasi melalui program penanaman Microchip TSI juga memiliki pusat konservasi dan rehabilitasi untuk gajah yang salah satunya bertempat di TSI II yang berlokasi di Prigen dimana pada pusat konservasi dan rehabilitasi ini mereka menangkarkan sebanyak 26 ekor gajah yang terdiri dari 21 ekor gajah betina dan 5 ekor gajah jantan. Aktifitas penangkaran yang dilakukan tidak hanya merawat dan melestarikan gajah namun juga melakukan aktifitas penelitian mengenai pemanfaatan hal-hal yang berguna dari gajah itu sendiri seperti pemanfaatan kotoran gajah sebagai bahan baku kertas dan papan, pemanfaatan urine gajah untuk dijadikan sebagai sumber bahan bakar gas (biogas) serta beberapa aktifitas lain. Hal ini menunjukkan bahwa tidak hanya bagian gading dari gajah saja yang bernilai namun banyak potensi lain yang dapat dimanfaatkan dari gajah selain gading.

 

Maka sudah saatnya lah kita untuk dapat mendukung atau memberikan sumbangan berupa apapun untuk aktifitas konservasi gajah di Indonesia bisa melalui aktifitas #savegajahnusantara, koin untuk gajah, mendirikan rumah singgah untuk gajah atau apapun untuk menjaga kelestarian dari salah satu anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada bumi nusantara ini. Pada akhirnya mari kita bersama-sama untuk menyumbangkan tenaga, pikiran dan apapun yang kita miliki secara bersama-sama karena kata Kang Emil (Walikota Bandung) “sudah bukan jamanya untuk melakukan perubahan secara sendiri-sendiri namun lakukanlah perubahan secara bersama-sama”. Bagaimana pendapat anda??.

(Febs)

Penulis

Faizuddin Febriyanto