Gajah, Satwa yang Sarat Filosofi

1
1632

Bermacam-macam nilai kehidupan atau filosofi diambil dari gajah. Seperti yang diyakini dalam agama Hindu yakni tentang dewa ilmu pengetahuan. Dewa ilmu pengetahuan dalam agama Hindu digambarkan sebagai manusia berkepala gajah atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Dewa Ganesha. Kita dapat menjumpai wujud Dewa Ganesha yang digunakan dalam logo salah satu lembaga bimbingan belajar yang cukup terkenal di Indonesia.

Berbagai peribahasa di Indonesia juga menggunakan gajah sebagai dasar untuk menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan. Seperti peribahasa harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Ada juga peribahasa yang berbunyi gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Atau yang lebih sering kita dengar yakni, gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat. Tentu kita sudah memahami maksud dari masing-masing peribahasa tersebut.

Banyak dari kita yang sudah sering mendengar gajah digunakan sebagai filosofi dan peribahasa, namun mungkin baru sedikit dari kita yang pernah melihat dan menyentuh langsung. Seperti pengalaman pertama saya menyentuh gading gajah. Pengalaman itu saya dapatkan bersama sekitar seratus peserta workshop bertemakan “Elephant Tour” yang diadakan Harian Kompas bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia II, Prigen, Jawa Timur.

 

Pengalaman saya tersebut sekaligus membuktikan bahwa gading gajah memang selalu retak. Seperti yang tertulis dalam peribahasa, tak ada gading yang tak retak. “Gading gajah memang selalu retak”, papar salah seorang penjaga gajah di Taman Safari menjawab pertanyaan dari pemateri menulis dari Harian Kompas, Wisnu Nugroho.

Gajah seolah menjadi satwa yang paling sarat filosofi. Namun yang perlu kita perhatikan yakni mengenai keberadaan gajah yang terancam punah. Menurut data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) tahun 2014 (melalui sains.kompas.com) diperkirakan popolasi gajah sumatera hanya tinggal 1.800 ekor yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Fakta inilah yang perlu kita jaga agar gajah tetap ada di muka bumi

Jangan sampai generasi mendatang hanya bisa mendengar gajah lewat sebuah cerita. Jangan sampai generasi mendatang hanya bisa melihat gajah dari gambar dan televisi. Jangan sampai juga generasi mendatang tidak bisa “membuktikan” sendiri bahwa gading memang selalu retak. Semoga gajah dapat terus bertahan di bumi dari ancaman kepunahan sebagai satwa yang sarat filosofi.

Penulis

Ujang Sarwono

1 COMMENT