Teruntuk Para Gajah, Bertahanlah!

17
9767

Rooaarrr!

 

Bukan, itu bukan judul lagunya Katy Perry. Melainkan suara dengusan gajah yang cukup mengagetkan. Tak hanya saya, mungkin termasuk peserta Blog & Photography Workshop gelaran Kompas yang saat itu telah berdiri merapat. Menunggu Suhadi, Wildlife Supervisor Badak dan Gajah Taman Safari Indonesia II Prigen (TSI II) memberikan edukasi tentang konservasi gajah. Saya sempat berpikir suara gahar tersebut adalah suara mesin truk yang sedang distarter.

 

 

 

Di Tepi Jurang Penghabisan

 

Hujan yang sempat mengguyur deras tak menyurutkan antusiasme peserta di kawasan penangkaran gajah TSI II.

 

“Ada yang mau bertanya lagi?” tanya Suhadi, lelaki berkacamata dan agak tambun itu.

 

Saya mengacungkan tangan.

 

“Pak, hingga saat ini siapa atau apakah yang menjadi ‘musuh’ atau tantangan terberat bagi upaya konservasi gajah? Alam, cuaca, atau manusia?”

 

Lalu telontar jawaban singkat dengan nada rendah. Ia memilih opsi jawaban yang terakhir, “Manusia.”

 

Beliau menegaskan jika manusialah musuh terberat bagi gajah. Manusia cepat berkembang biak. Berbeda dengan gajah yang memiliki periode kehamilan paling panjang. Dalam artikel berjudul “Gajah, Mamalia Dengan Masa Kehamilan Terlama” yang dimuat dalam laman Nasib Gajah (http://www.nasibgajah.wwf.or.id/) edisi 20 Januari 2015, seekor gajah pada umumnya mengandung lebih dari 18 bulan bahkan terkadang mencapai usia 2 tahun. Seekor gajah betina dengan usia 60 sampai 70 tahun pada umumnya hanya dapat memiliki anak sebanyak empat kali.

 

Kemudian setelah bayi gajah lahir mencapai berat hampir 120 kg, kondisi matanya masih belum bisa melihat dengan normal. Karena itulah, bayi gajah memakai belalainya untuk mempelajari dan mengenali kehidupan di sekitarnya

 

Maka, ketika populasi manusia terus bertambah, manusia terus bergeliat mencari lahan baru. Membuka hutan yang dekat atau menjadi habitat asli gajah. Manusia yang malah marah ketika lahan dan pekarangannya dirusak gajah. Sementara gajah hanya bisa diam dan berteriak pasrah saat manusia melukai bahkan membunuhnya dengan sadis.

 

Portal online BBC Indonesia edisi 24 Januari 2012 (http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia), menyebutkan bahwa penurunan jumlah populasi gajah terbesar akibat penggundulan hutan terjadi di Provinsi Riau. Lebih dari 80% populasi gajah di provinsi itu berkurang dalam 25 tahun terakhir.

 

Gajah Sumatera pun turun status dari “terancam” menjadi “sangat terancam”. Saya sepertinya memilih percaya, jika disebut dalam kurun waktu 30 tahun lagi gajah Sumatera akan punah.

 

Getir dan khawatir, gajah terancam tinggal nama bagaikan berdiri di tepi jurang penghabisan.

 

 

 

Ada Secercah Harapan

 

Namun, dengan segala permasalahan yang ada, saya melihat ada ruang bagi udara segar penuh optimis. Terlihat ada langkah konkret dari TSI II dalam upaya konservasi gajah. Suhadi dengan bangga menegaskan bahwa TSI II menjadi pionir dalam menjaga dan meningkatkan populasi gajah.

 

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.44/Menhut-II/2007 Tentang Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan 2007-2017 yang sudah diteken MS Kaban-Menteri Kehutanan saat itu-di Jakarta pada 24 Oktober 2007 harus didukung. Harus terus berlanjut untuk seterusnya. Tak ada batas waktu yang semakin sempit ini untuk melestarikan gajah.

 

Dari balik jendela bus wisata saat kunjungan berakhir, saya memandang kawanan gajah itu terakhir kalinya.

 

Bertahanlah, setidaknya lebih dari 30 tahun lagi. Begitu doa saya dalam hati, teruntuk para gajah yang gagah itu.

 

 

 

Penulis

RIFQI FAIZA RAHMAN

17 COMMENTS

  1. wah jadi pgn ikutan merawat gajah neh,, harapku,, jgn sampai gajah sampai gg ada…
    hiks..hiks..
    boleh dund dibawain anak gajahnya hehehehe
    .artikelnya bermanfaat bgd neh,, biar semua org tau dan sadar semakin banyak hewan yg punah akibat tangan-tangan yg tdk bertanggung jawab.

    • Ayok mbak, aku kalau ke Sumatera itu yang paling pengen banget tak kunjungi itu lebih dari sekadar pantai atau gunungnya, tetapi lihat satwa hidup di alamnya, dan sedang dijaga kelestariannya. Salah satunya di Way Kambas, lihat aktivitas hewan mengagumkan itu. Maturnuwun sudah sudi ninggalin jejak mbak 🙂

  2. Aku pernah ke Way Kambas, konservasi gajah juga di sana… tapi kok ya jadi sedih lihat si gajah… mereka tinggal di padang rumput luas sekali tapi kakinya kok di rantai ya? gadingnya dipotong. Apakah itu cara benar untuk melestarikan gajah ya?