Gajah Sumatera Masuk “Daftar Merah”

1
782

Melihat keberadaan gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) di Taman Safari Indonesia II, Prigen, Jawa Timur, seolah menjadi contoh habitat bagi gajah sumatera yang masih aman. Pernyataan ini seiring dengan kenyataan bahwa habitat asli gajah sumatera yang tersebar di hutan Pulau Sumatera sudah tidak aman lagi. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan manusia dengan segala tindakannya yang membuat keberadaan gajah semakin terancam. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh organisasi konservasi alam (WWF) melalui akun twitter berbahasa Indonesia (@WWF_ID) tercatat dua gajah sumatera mati setiap bulannya.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab populasi gajah sumatera terus berkurang. Sebut saja penebangan liar hingga alih fungsi lahan yang menyebabkan terus menyusutnya habitat asli gajah. Jika habitat asli gajah ini terus berkurang setiap waktu, maka akan menimbulkan konflik antara gajah dengan manusia. Apabila konflik antara gajah dengan manusia sudah terjadi seringkali berakhir pada kematian gajah.

Belum lagi ulah para pemburu yang dengan sadis membunuh gajah demi sebuah keuntungan yakni mengambil gadingnya. Maka tidak heran jika kematian gajah sumatera mendapat perhatian serius oleh dunia. Organisasi internasional untuk konservasi alam (IUCN) menetapkan gajah sumatera sebagai satwa yang masuk dalam daftar merah atau spesies yang terancam punah (critically endangered).

Beberapa sumber menunjukkan data yang mengejutkan mengenai keberadaan gajah sumatera. Menurut data Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) tahun 2014 (melalui sains.kompas.com) diperkirakan popolasi gajah sumatera hanya tinggal 1.800 ekor yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Data lain menyebutkan bahwa sejak tahun 1981 hingga tahun 1989 populasi gajah di dunia berkurang setengahnya (Intisari, Edisi Mei 2014, Halaman 32).

Sebenarnya upaya pemerintah untuk melakukan pencegahan kepunahan gajah sumatera telah dilakukan melalui UU No.5 tahun 1990 tentang konservasi dan sumber daya alam hayati. Melalui undang-undang tersebut pemerintah menetapkan gajah sumatera sebagai satwa yang dilindungi. Namun kenyataanya usaha yang dilakukan pemerintah tersebut masih belum cukup ampuh untuk menekan angka kematian gajah sumatera. Butuh kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat asli gajah guna menangani masalah ini.

Berdasarkan data di atas, diperlukan tindakan tegas terhadap segala aktivitas manusia yang mengancam keberadaan gajah sebagai satwa yang terancam punah. Jika kondisi ini dibiarkan terus terjadi tanpa ada tindakan yang serius, bukan tidak mungkin anak cucu kita tidak bisa lagi melihat gajah. Mereka hanya akan mendapatkan cerita tentang gajah sebagai satwa yang “pernah ada” di muka bumi. Apakah kita ingin hal tersebut terjadi?

 

 

 

Penulis

Ujang Sarwono

1 COMMENT