Gajah Sang Penyeimbang Ekosistem

0
1842

Gajah, Sang Penyeimbang Ekosistem

Mengapa gajah perlu diselamatkan hingga harus dibuat upaya konservasi,? Seberapa pentingkah gajah dalam kehidupan manusia dan alam, sehingga seolah gajah kadang kala menjadi lebih penting dari manusia?
Itulah sejumlah pertanyaan yang kerap terlintas dalam benak kita mengenai mamalia terbesar yang hidup di darat ini.
Gajah terdiri dari 2 species, yakni Gajah Afrika dan Gajah Asia. Gajah di Indonesia adalah Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) yang merupakan sub spesies dari gajah Asia. Selain Indonesia, Gajah Asia penyebarannya hingga ke kawasan India. Secara umum badannya lebih kecil kecil dari Gajah Afrika. Ciri khas lainnya adalah hanya gajah jantan saja yang mempunyai gading.
Di balik tubuhnya yang besar dengan bobot badan mencapai 5 ton, gajah ternyata mempunyai peran penting dalam ekosistem. Gajah berfungsi sebagai penyeimbang ekosistem di alam bebas. Gajah adalah penyebar bibit tumbuhan. Saat mencari makan maupun kawin, mereka hidup secara berkelompok, yang umumnya dalam jumlah cukup banyak yakni hingga 50-60 ekor, serta mengikuti jalur jelajah yang tetap,. Areal jelajahnya pun cukup luas, karena dapat mencapai 20 km2 per hari.
Gajah berjalan dengan menginjak semak-semak di sekitarnya, sehingga banyak bibit tumbuhan banyak yang melekat pada kaki maupun kotorannya. Bibit-bibit tersebut mempunyai peluang untuk tumbuh di sepanjang jalur yang dilalui gajah. Semakin banyak gajah dalam satu kelompok semakin banyak pula peluang bibit-bibit itu untuk tersebar dan tumbuh.
Peran ini membuat gajah menjadi salah satu satwa yang berkonstribusi besar sebagai penyeimbang ekosistem hutan. Selain produsen O2 dan menyerap CO2, hutan adalah sumber keanekaragaman hayati dengan berbagai jenis flora dan fauna di dalamnya. Hutan juga memberikan berbagai hasil sumber daya alam bagi manusia.
Kotoran gajah pun ternyata tidak terbuang percuma. Kotoran itu dapat diolah menjadi kertas dan partikel papan kayu seperti yang dilakukan di Taman Safari Indonesia II (TSI II), Prigen, Jawa Timur. “Papan kayu ini dapat dijadikan sampul album foto maupun undangan yang menarik,” terang Suhadi, Wildlife Supervisor Gajah & Badak TSI II di sela acara Workshop Blog dan Photography yang digelar harian Kompas, Selasa (17/3/2015).
Selain kotoran, ternyata air kencing gajah ada gunanya juga. Sebanyak 26 ekor gajah yang ada di TSI II, yang juga merupakan lembaga konservasi ini, setiap hari menghasilkan 300 liter air kencing yang dapat diolah menjadi biogas. Air kencing gajah ini dicampur dengan biogas berbahan dasar kotoran Sapi Bali. Hasil riset yang dilakukan TSI II menunjukkan bahwa percampuran ini membuat proses reaksi. Api dapat menyala dalam waktu 3 hari, lebih cepat dibanding biogas umumnya yang baru menyala pada hari ke-5 atau ke-7.
Namun sayang, Gajah Sumatera termasuk dalam satwa yang berada di ambang kepunahan. Jumlahnya kian lama kian menurun. Hal ini pula yang menjadi faktor mengapa gajah harus diselamatkan. Gajah banyak yang mati karena perburuan gading liar dan terlibat konflik dengan manusia akibat pembukaan lahan perkebunan di habitat mereka.
Oleh karena itu untuk mendukung upaya pelestarian gajah sangat diperlukan. Salah satunya keberadaan lembaga konservasi yang dilakukan di luar habitatnya (ex-situ), seperti di TSI II ini.
Kita tentunya tidak ingin gajah, sang penyeimbang ekosistem, hanya tinggal sejarah.

Penulis

Nedi Putra AW