Gajah Mati (tidak) Meninggalkan Gading

1
1422

Gajah adalah salah satu satwa liar yang sudah dikenalkan lewat gambar kepada anak-anak sejak usia dini. Bahkan gajah juga sering dipakai dalam peribahasa. Begitu populernya gajah, hingga setidaknya ada beberapa peribahasa yang berhubungan erat dengan hewan ini. Seperti “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”, “Tak ada gading yang tak retak”, “Gajah di pelupuk mata tak nampak, kuman di seberang lautan tampak”, hingga ”Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah-tengah”.

Sementara yang terjadi saat ini ternyata telah berbeda dengan salah satu peribahasa tersebut di atas. Banyak gajah di Indonesia, terutama Gajah Sumatera, yang mati tanpa meninggalkan gading lagi.

“Mereka diburu bahkan bahkan dibunuh oleh para pemburu liar hanya untuk diambil gadingnya saja,” ungkap Suhadi, Wildlife Supervisor Gajah & Badak di Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen, Jawa Timur. Suhadi menyampaikan hal ini di hadapan sedikitnya 100 peserta Blog & Photography Workshop yang digelar TSI bekerjasama dengan harian Kompas , Selasa (17/3/2015).

Gading merupakan perpanjangan gigi seri pada bagian depan rahang atas pada gajah jantan, yang tumbuh sepanjang 3 cm per tahun.

Gading gajah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang, ternyata hanya untuk gaya hidup atau kesenangan semata. Tak lebih menjadi pajangan, souvenir atau hiasan saja. Harganya memang menggiurkan, karena dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Suhadi mengatakan, ada teknik tersendiri dalam memotong gading gajah. Itu pun dilakukan dengan terpaksa, terutama jika kondisinya membahayakan satwa itu sendiri.

“Namun para pemburu mengambil gading secara utuh dari akarnya, yang membuat gading tersebut tidak bakal tumbuh kembali,” keluh Suhadi. Gading yang diambil dengan cara dipotong, harganya lebih rendah daripada yang dicabut dari akarnya. Dan kebanyakan gading diambil oleh para pemburu liar dengan membunuh satwa tersebut terlebih dahulu.

Selain faktor perburuan gading, Gajah Sumatera semakin menurun populasinya di Indonesia karena terdesaknya habitat mereka akibat pembukaan lahan kelapa sawit dan karet.

Suhadi menuturkan bahwa populasi gajah di Indonesia pada awal tahun 1990-an hanya sekitar 5.000 ekor. “Bahkan pada tahun 1998 sempat tercatat tinggal tersisa 600 ekor saja,” jelasnya.

Hal inilah yang membuat perlu dilakukan langkah konservasi seperti yang dilakukan di TSI II Prigen. Saat ini ada 26 ekor gajah yang terdiri 21 ekor berjenis kelamin betina dan 5 ekor jantan. “Konservasi dilaksanakan sejak tahun 1997 akhir, dengan 14 ekor gajah sebagai jumlah awal yang ada di sini,” tambah Suhadi. Bahkan sejak tahun 2010 TSI II Prigen ditunjuk Pemerintah sebagai Studbook Keeper (penjaga silsilah) Gajah Sumatera.

Langkah konservasi ini sangat perlu diambil karena faktor perkembangbiakan gajah yang cukup lama. Meski masa hidupnya dapat mencapai 60-70 tahun, gajah betina biasanya hanya mengeluarkan satu anak saat melahirkan. Masa kebuntingannya 22 bulan, dengan rentang waktu dapat kembali beranak 5 tahun setelah melahirkan.

Langkah konservasi ini tentunya dapat berjalan dengan baik jika dengan dukungan dan ketegasan Pemerintah sebagai penentu dan pengambil kebijaksanaan. “Karena upaya terberat konservasi ini bukan semata-mata kondisi alam, namun justru dari faktor manusia itu sendiri,” tandas Suhadi.

Jangan sampai gajah hanya tinggal cerita dan sejarah saja, yang mati tanpa meninggalkan gading, bahkan mati karena karena gadingnya sendiri.

 

Penulis

Nedi Putra AW

1 COMMENT