Gajah di Persimpangan

1
582

Gajah adalah binatang pemalu nan cerdas . Kita beruntung bahwa di Indonesia ,utamanya di Sumatera dan Kalimantan,masih terdapat (sisa) habitat mereka yang sayangnya dengan sangat cepat menyusut akibat ulah manusia . Hutan sebagai tempat tinggal dibabat habis demi kayu serta lahan perkebunan , belum lagi gading yang berharga sangat mahal merupakan alasan berkurangnya populasi gajah di alam bebas .

Pemerhati lingkungan kemudian merumuskan cara untuk melindungi satwa yang terancam punah,dimana salah satunya adalah gajah dengan jalan konservasi . Lebih lanjut , konservasi diadakan sesuai strategi konservasi dan rencana aksi secara nasional (National Conservation Strategic and Action Plan NaCSAP) yang efektif dan aplikatif memerlukan informasi yang akurat, di antaranya: (1) Aspek ekologis seperti status populasi, habitat, ancaman dan intervensi konservasi yang telah dilakukan; (2) aspek ekonomi seperti kondisi ekonomi masyarakat disekitar kawasan konservasi; (3) aspek sosial-politik seperti kondisi sosial politik masyarakat dan pemerintahan yang berada di suatu kawasan konservasi. Namun ,dengan memperhatikan kondisi di tempat konservasi gajah yang ada , timbul satu pertanyaan yang menggelitik ,” dimanakah kepentingan Gajah ditempatkan?”

Gambar I : “Terbelenggu”

Konservasi menurut Wikipedia adalah pelestarian atau perlindungan ,dengan satu penjelasan lebih spesifik bahwa “ Suatu keyakinan bahwa habitat alami dari suatu wilayah dapat dikelola, sementara keaneka-ragaman genetik dari spesies dapat berlangsung dengan mempertahankan lingkungan alaminya” Konservasi dalam hal ini berarti upaya melindungi “identitas” gajah supaya tetap menjadi gajah sebagaimana di rumah aslinya .

Gambar II : Tak Berdaya

Lalu , konservasi seperti apa yang hendak dicapai dengan menjadikan gajah sebagai hewan tunggang ? “identitas” apa yang hendak diberikan kepada gajah dengan merantai kakinya? Alasan bahwa merantai kaki gajah adalah untuk melindungi gajah lain dari perilaku dominasi salah satu gajah utamanya dalam hal makanan rasanya kurang tepat . Bukankah dimanapun selalu ada dominasi ?

Luas area lokasi konservasi sesungguhnya cukup luas untuk tetap melindungi “identitas” gajah sebagai hewan liar yang tidak terkurung dalam sangkar ,atau (minimal) tidak terbelenggu kakinya . Gajah adalah gajah ,hewan yang “bermartabat” di dalam hutan ,hidup bebas tanpa belenggu atau kewajiban menjadi hewan tunggang .

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia ,dan dengan akal budi itulah seharusnya manusia bisa merancang system konservasi yang lebih ramah dan “bermartabat” bagi gajah . Konservasi yang konservatif adalah pilhan sulit bagi Gajah, ibarat menempatkan Gajah di persimpangan jalan antara “bebas ditembak pemburu ,atau hidup terbelenggu di lahan konservasi” . Sekali lagi yang harus diingat , lahan konservasi adalah tempat melindungi ,bukan hanya fisik dan keberlangsungan reproduksi semata , namun juga “identitas” sebagai hewan bebas .

Penulis

Budi Santosa

1 COMMENT