Enak di Perut, bukan Enak di Mulut

0
1785

Dapat disadari bahwa peristiwa makan, merupakan salah elemen pembentuk relasi sosial. Membuat janji dengan kerabat atau klien, tentu berujung pada konsumsi suatu produktuk tertentu. Melepas rindu pada sahabat lama melalui reuni pasti berujung pada makan. Menikmati malam minggu bersama kekasih, tidak terlepas dari makan. Hubungan didalam keluarga semain dipererat lewat makan bersama. Tidak dapat dipungkiri, dalam seminggu bahakan sehari setiap pertemuan akan diawali, diakhiri, bahakan ditutup dengan makan. Mulai dari makan berat, berupa nasi beserta serta lauk pauk, maupun makanan ringan ditemani secangkir minuman entah kopi maupun varian minuman lain, beserta pilihan harga dan lokasi.

Jogjakarta, dikenal sebagai kota kreatif dengan ragam pilihan makanan yang bervariasi. Dahulu jika bicara gudeg, maka pikiran pasti menyebut kota Yogyakarta. Kondisi real sekarang sudah semakin berubah, pada penggal jalan Kaliurang km 4-7, terdapat kurang lebih mencapai 100 stand kuliner, mulai dari kelas kaki lima, hingga warung makan dalam skala besar. Angkringan, soto,bubur, cafe, gorengaan, warung padang, warung jawa, dan rumah makan lain menyediakan makanan impor maupun lokal. Diantara standa makanan, terdapat kurang lebih 10 bakul(gerobak) gorengan hangat siap mengenyangkan kantong tengah pada sore hingga malam hari. Ketersedian makanan ditawarkan mulai dari harga Rp 500,- hingga lebih dari Rp 100.000,- menjadi pilihan bagi penikmat kuliner. Akses untuk menikmani ragam makan tersebut 24 jam tersedia, bahkan ada warung yang melani pelanggannya 24 jam non stop tanpa henti.

Akademi Yogya, memburu makanan sesuai dengan kantong mahasiswa dan porsi yang banyak. Harga dan jumlah, prioritas utama dalam membeli, tak luput dari rasa, adalah pertimbangan utama sebelum menentukan pilihan. Proses mengolah bahan mentah menjadi kudapan nikmat dapat dibagi menjadi dua yaitu goreng dan rebusan(dikukus), namun ada juga   yang di bakar(sebelum dibakar pasti selalu direbus atau dimatangkan dulu. Setiap media yang dipakai baik air dan minyak tentu memiliki resiko tersendiri. Air untuk mendidihkan makan terkadang belum sepenuhnya bersih baik dari sumber maupun titik didih, hingga mematikan bakteri, sehingga mengancam kesehatan tubuh. Ancaman juga datang dari minyak penggorengan, terkadang dipakai berkali-kali dalam memasak.

 

Jelantah Jakal

Minyak jelantah, tidak asing dalam tiap pendengaran. Hitam pekat, dengan sedikit sisa-sisa makann hasil penggorengan kerap telintas diseipa penglihatan pencinta kuliner. Ayam goreng, tempe mendoan, pisang goreng, Ikan, Tahu, dan masih banyak jajanan dan makan yang belum tentu memakai minyak bersih. Minyak jelantah adalah minyak bekas sekali penggorengan, sering dipakai oleh para penjual untuk semakin meningkatkan keuntungan.

Sangat terlihat jelas pada stand penggorengan, ketika proses memasak dilakukan, minyak yang dipakai tidak diganti, padahal berdasarkan etika memasak, jika sudah melalui 2-3 penggorengan sudah harus diganti. Kecurangan lain, nampak terlihat jelas pada satu gerobak gorengan, arus masuk dan keluar tempe, tahu. bakwan, pisang goreng tanpa henti, menari ria didalam kuali penggorengan. Memanaskan minyak sebelum proses penggorengan, diikuti dengan pencampuran sedikit lilin, sehingga kejerniah minyak terjaga. Tak luput dari penglihatan penulis, penyedap rasabersatu padu dengan lilin dan minyak panas, siap menjemput terigu beserta bahan mentah.

Proses menggoreng untuk setiap kue/gorengan dilakukan 15-30 menit tanpa henti, sebelum dipajang pada etalase beroda dua. Sendok ampuh untuk mencampur adonan, dibilas dengan air seember tanpa diganti, semakin mengeruh akibat asap kendaraan lalu lalang di jalan raya.

Dentum jarum jam berlalu sekitar 2 jam, warna minyak tetap jernih seperti sedia kala. Gerombolan mahasiswa menyambut riang tempe mendoan, pisang goreng, tahu isi, sehaarga Rp 800.-/biji. Di borongnya sebanyak 2 kantung plastik.Tanpa perduli, kehangatan gorengan, didalam plastik daur ulang makin ancaman bagi kesehatan tubuh manusia.

Selepas perginya, penjual melanjutkan seni menggoreng dengan minyak yang sama, terhitung sudah enam kali penggorengan, tanpa perduli siapa konsumennya., diringin alunan knalpot. Minyak dingin dipanaskan, dimasukan lagi adonan beserta Tahu. Sambil menunggu kemerahan, melayani sebuah keluarga dengan mobil mewah, merapat didepan gerobak,memesan pisang goreng sambil menyodorkan selembar uang Rp 20.000,-

Arloji mengarah pada pukul 20.00 waktu Kaliurang, semua jualan hampir habis, sejalan dengan datangnya pembeli silih berganti. Wajah riang, diliput senang terpancar dari raut Ibu tua, penjual gorengan. Lembaran rupiah memenuhi kotak, minyak jelantah tenang pada kuali ditemani alat penggoreng, semakin tenang dengan hebusan gas yang mati. Sambil menikmati keramaian, menyantap gorengan ditemani Kopi itam, dari angkringan melepaskan kepenantan penulis.

Hingga mehentakan kaki penulis,warna jelantah sudah sedikit kehitaman, entah indikasi apa, kian mengancam setiap penikmat gorengan di Jakal(Jalan Kaliurang). Bersama dengan rekan-rekan sebaya, pamit dan pulang ke rumah. Dua hari berlalu, sharing antar kawan, sedikit berbeda karena perubahan suara disertai dentuman batuk. Indikasi besar dari gorengan dan kopi itam Jakal, menjadi pengalaman berharga dalam memilih Makanan.

Konsumsi Sehat

Terbesit dalam suatu seminar kesehatan, akan pentingnya memilih makanan. Makanan dengan proses digoreng/ direbus/dibakar/dikukus tidak menjadi pantangan. Memilih makanan harus ramah terhadap perut, artinya makanan yang enak diperut. Nyaman diperut tentu memberi jaminan sehat, bagi setiap insan kuliner. Pilihlah makanan yang enak diperut, bukan enak dimulut, karena enak dimulut belum tentu enak diperut.

Gorengan Jakal, hanyalaah satu dari sekian makanan yang enak dimulut, namun membahayakan perut. Minyak, media memasak berperan aktif dalam merusak sistem imunitas tubuh, sehingga rentan terhadap penyakit. Memilih makanan, hak setiap konsumen, mencintai diri dengan memilih makanan yang tepat, investasi bagi masa depan