Hindari Produk Kemasan Sachet Agar Lebih Hemat dan Sehat

0
1916

Pernahkah anda mendengar atau membaca tentang isu-isu pemanasan global atau tentang perubahan iklim dan sebangsanya? tentu saja pernah bukan, karena belakangan ini memang isu-isu berkaitan dengan hal tersebut semakin heboh. Tak ayal sebagian kecil orang kian menyadari bahwa seharusnya manusia melakukan sesuatu dan tidak terus-terusan hidup semau dan seenaknya tanpa memperdulikan perubahan lingkungan yang terjadi. Kampanye-kampanye seputar gerakan go green pun bermunculan, entah itu ajakan menanam pohon, hemat energi, hemat air, hemat sampah plastik dan sejenisnya.

Lalu apa yang sudah anda lakukan untuk turut serta gerakan peduli lingkungan itu? Menanam pohon kah? Hemat energi kah? Hemat air kah? Hemat sampah plastik kah? Atau yang lain-lainnya kah?

Apa??? sudah melakukan semuanya ????

Bagus!!!! Tapi cie..cie…, pasti bercanda dhing, tanpa bermaksud su’udzon tapi yakin deh masih ada yang suka nyalain tv hingga larut malam padahal gak ditonton karena ketiduran. Masih banyak yang pakai lampu bolam ketimbang lampu LED. Masih ada yang nyuci piring dengan air kran yang terus menyala. Masih banyak yang beli sampo sachet untuk keramas tiap pagi dan lain-lainnya, dimana itu semua adalah perbuatan yang terlalu dini untuk mengaku-ngaku sudah praktek peduli lingkungan.

Memang gampang-gampah susah, namun setidaknya harus memulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan upaya konsumsi hijau, karena tiap harinya manusia tidak lepas dari aktivitas konsumsi, entah makanan, minuman, listrik, air dan lain sebagainya. Produk yang kita konsumsi sehari-hari kebanyakan didapat dengan cara membeli bukan? Disinilah kita sebagai konsumen perlu mulai menyadari untuk membeli produk hijau.

Produk hijau adalah produk yang ramah lingkungan mulai dari proses pembuatan, pengiriman, pemakaian, pembuangan. Ciri produk hijau itu hemat energi, tidak mengandung zat kimia berbahaya, menggunakan ecolabel, kandungannya jelas, tidak menimbulkan banyak sampah, dan lain sebagainya tergantung jenis produk itu sendiri.

Sebagai orang awam tentu terlalu pusing untuk bisa mengenali secara detail seperti apa produk hijau yang sebaiknya kita konsumsi itu, iya kan? Yah sudah lah, baiknya praktek yang kasat-kasat mata dulu saja, yakni menghindari produk kemasan sachet! Pasti mudah kan membedakan mana kemasan sachet mana yang bukan?

Kenapa perlu menghindari produk kemasan sachet? Alasan sederhananya adalah produk kemasan sachet itu menimbulkan banyak sampah, ingat bahwa salah satu ciri produk hijau adalah tidak menimbulkan banyak sampah! Alasan selebihnya adalah kemasan sachet kebanyakan terdiri dari dua lapis yaitu alumunium dan plastik, yang sulit terurai dialam. Butuh waktu ratusan tahun bagi kemasan sachet itu bisa kembali terurai sempurna. Kalau tidak percaya silakan praktek, pagi hari setelah keramas dengan sampo sachet silakan buang sampah sachet itu ditempat khusus, entah dikubur dalam tanah atau dibiarkan begitu saja, sesekali silakan dicek, sampai nanti tua pun niscaya pasti masih utuh-utuh saja sampah sampo sachet itu bahkan mungkin bisa jadi warisan untuk cucu atau buyutnya nanti.

Sebenarnya apa sih yang selama ini bikin orang tertarik untuk membeli produk kemasan sachet? Apakah karena korban promosi yang katanya kemasan sachet itu lebih hemat dan ekonomis, gitu? Ah… jangan percaya karena itu hanyalah modus marketing belaka, kenyataanya kalau beli kemasan yang lebih besar itu justru lebih hemat. Sebagai contoh misalnya diterjen, kemasan yang besar pasti jauh lebih murah ketimbang kemasan sachet, terus kadang kalau beli kemasan besar justru dapat bonus entah piring atau apalah gitu. Pokoknya sih, kalau dihitung-hitung sebenarnya beli kemasan yang lebih besar itu justru lebih hemat, selain hemat uang juga hemat sampah, kerena hemat sampah jadi lebih sehat untuk lingkungan, Gitu!!!!

Bayangin saja kalau tiap orang konsumsi produk kemasan sachet mulai dari sampo, diterjen, kecap, saos, kopi, bumbu-bumbu masak, diapers, snack atau bahkan permen dan lain sebagainya yang biasa dikonsumsi setiap hari, maka berapa sampah yang bakal diwariskan? Contoh sederhana:

Anggap saja A selama 40 th hidupnya ia keramas 2 hari sekali pakai sampo sachet, dia juga juga minum kopi sachet 1 hari sekali. Terus setiap hari nyuci juga pakai deterjen sachet, terus kalo makan juga suka pakai saos sachet yang padahal dia makan 3 kali sehari. Itu hanya konsumsi-konsumi yang sempat tercatat dan rutin dilakukan. Pertanyaanya berapa sampah kemasan sachet yang si A sumbangkan untuk pencemaran lingkungan? Silahkan dihitung dengan jurus masing-masing asal cepat dan tepat.

Jawab:
Sampo (365hr/2sachet) x 40th = 7.300 sachet sampo
Kopi 1sachet x 365hr x 40th = 14.600 sachet kopi
Deterjen 1sachet x 365hr x 40th = 14.600 sachet deterjen
Saos 3sachet x 365hr x 40th = 43.800 sachet saos

Total 7.300 + 14.600 + 14.600 + 43.800 = 80.300 pcs sampah kemasan sachet yang diwariskan oleh si A.

Itu baru si A yang dianggap hanya melakukan konsumsi selama 40th semasa hidupnya dengan 4 produk saja, coba kalo konsumsi aneka produk dalam satu rumah, satu rt, satu rw, satu desa, satu kota, se Indonesia ditotalin, berapa hasilnya? Pastinya banyak pakai banget dan jelas dampaknya sama sekali tidak ramah lingkungan, jadi sekali lagi pikir ulang sebelum beli produk kemasan sachet.

Selain kesadaran konsumen sebenarnya yang dibutuhkan juga adalah kesadaran produsen untuk tidak membuat kemasan sachet yang sekiranya tidak begitu diperlukan, atau setidaknya bikinlah kemasan yang ramah lingkungan.

Karena kita disini posisinya adalah konsumen maka ingat loh ya, hindari produk kemasan sachet, pokoknya teruntuk kemasan sachet “Sebelum Mikirin Daur Ulang Mending Mikir Ulang Sebelum Membeli”. Maksudnya sebelum ribet-ribet mikirin tentang daur ulang sampah kemasan sachet, setidaknya sebelum konsumsi harus pikir ulang dulu bahwa kemasan sachet itu tidak ramah lingkungan, oleh karena itu lebih baik beli kemasan yang lebih besar, selain hemat uang juga lebih sehat untuk lingkungan karena turut mengurangi pembuangan limbah sampah plastik. “Don’t (just) recyle, think first”.

 

#JogjaHijau #IdeHijau
Don’t (just) Recycle. Think First
teruntuk kemasan sachet “Sebelum Mikirin Daur Ulang Mending Mikir Ulang Sebelum Membeli”