Reklame, Inefisiensi Energi di Sepanjang Jalan Raya

0
1384

“Penggunaan energi berupa daya listrik yang semata-mata untuk kepentingan penyelenggaraan reklame dibatasi waktu nyalanya mulai pukul : 17.00 WIB sampai dengan 24.00 WIB.” Begitulah bunyi PERDA (peraturan daerah) Daerah Istimewa Yogyakarta terkait tatacara pengelolaan reklame atau baliho. Mungkin banyak yang belum tau, atau mungkin sebenarnya banyak yang tau tapi tak peduli, bahwasanya pemerintah daerah, khususnya DIY, memiliki peraturan bahwa lampu-lampu yang terpasang pada sebuah baliho hanya boleh dinyalakan pada jam 5 sore dan harus padam pada jam 12 malam.

Tidak seperti sebagaimana mestinya, disepanjang jalan raya di seluruh kota di Indonesia, nampaknya tidak mengindahkan peraturan tersebut. Hampir semua reklame yang didirikan oleh jasa periklanan menyalakan lampunya hingga pagi hari. Ini bisa saja disebabkan oleh minimnya pengawasan pemerintah terhadap reklame-reklame tersebut, atau karena faktor ketidak tahuan penyelengara reklame tentang peraturan-peraturan yang ada, dan kemungkinan terbesar adalah tidak tegasnya pemerintah daerah dalam menindak pelanggaran penggunaan listrik oleh para pelaku bisnis jasa periklanan reklame. Sebenarnya jika para pelaku bisnis periklanan ini mendpatkan izin dari otoritas terkait, dalam hal ini pemerintah daerah, tentang tatacara pengadaan reklame di jalan raya, mereka harus mengisi sebuah formulir yang didalamnya tercantum hal-hal yang harus dipatuhi saat mengelola reklame tersebut, seperti cara pemasangan itu ada aturannya, tidak boleh melintang ke badan jalan, memaku /pasang di pihin, tiang listri, menaghalangi pandangan pengendara, dan lainya yang dituangkan dalan isian formulir, termasuk penggunaan lampu sebagai penerang. Namun nampaknya banyak pemasang reklame dijalan raya tidak memperdulikan hal tersebut karena beranggapan pelanggarnya acapkali lolos dari penegekan peraturan.

Permasalahan inefisiensi ini nampaknya tidak berdampak negatif bagi khalayak, sehingga luput dari pehatian, namun berdasarkan perhitungan matematis sederhana, penggunaan energi listrik pada reklame yang ada sepanjang jalan raya adalah salah satu pemborosan energi listrik yang amat besar, selain itu ketidak patuhan penggunaan listrik pada reklame juga menyumbang produksi polusi CO2 yang sangat besar. Coba anda prhatikan perhitungan sederhana saya dibawah ini:

Jumlah Reklame   Ukuran Reklame     Kebutuhan Lampu     Total Kebutuhan Listrik  24.00 s.d 06.00       Konsumsi Bahan Bakar              Total Bahan Bakar
20 reklame             25 m2                        100 watt/m2               104 kW                              6 jam                         0,3 liter/ KWh                             187,2 liter

Dari perhitungan sederhana tersebut, dapat diketahui bahwa dari 20 reklame saja, yang menyalakan lampu 6 jam diluar jam peraturan (24.00 s.d 06.00) telah mengkonsumsi 187,2 liter. Padahal disepanjang jalan raya Ringroad saja ada ratusan reklame yang menyalakan lampunya diluar jam peraturan. Terbayang berapa liter bahan bakar yang terbuang akibat keteledoran dari pihak pemerintah dan jasa pengiklan ini tiap harinya.

Selaim itu, dampak lain dari inefisiensi energi ini adalah terciptanya gas CO2. Hasil penelitian dari Dirjen Ketenagalistrikan, setiap kilowatt listrik yang digunakan menghasilkan 1.000 kilo CO2. Seperti kita ketahui bersama, bahwa dampak dari CO2 adalah perubahan iklim yang ekstrim akibat pemanasan global dan menyebabkan banyak spesies mati hingga punah karena tidak mampu beradabtasi dengan perubahan iklim, serta banyak lagi dampak meningkatnya karbon dioksida bagi kehidupan jika bertambah secara terus menerus.