Peduli Pangan Kita, Peduli Lingkungan

0
608

Peduli pangan kita, peduli lingkungan

Suka bete nggak sih kalau lihat di rumah makan ada orang yang nggak menghabiskan makannya? Kalau kamu bete, selamat! Berarti kamu punya jiwa ‘go green’.

Iyes. Go green itu nggak cuma dengan mengurangi sampah plastik atau mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Yang paling simpel itu sebenarnya adalah dengan memperhatikan menu makanan kita. Sehat saja nggak cukup, tapi takaran juga harus sesuai. Dulu kalau kecil kita nggak menghabiskan makanan pasti suka dinasehatin gini:

“Kok nggak habis nasinya? Nanti nasinya nangis lho.”

Logika kita saat itu mungkin berontak, wong nasinya diem aja kok nangis? Tapi nasehat itu ada benernya kan? Apa nggak kasihan tuh nasi, harusnya bisa buat sumber energi kita, eh ini kita sia-siakan dengan membuangnya ke kotak sampah! Padahal di luar sana masih banyak orang-orang kelaparan yang butuh makanan, ya kan?

Sekarang ada istilah keren buat fenomena ini, yaitu eco food-wise waste. Penyajian makanan yang ekonomis dan efisien akan berdampak pada sampah yang lebih minimal. Sebenarnya bagaimana sih menyediakan makanan yang ‘eco’ alias ekonomis ini sih? Gampang. Ikuti rules di bawah ini:

1. Masak seperlunya dan sesuai kebutuhan

Sebagai ibu rumah tangga, mengatur menu keluarga itu sudah keharusan. Nah, setiap ibu penting banget buat rencana memasak harian. Banyak manfaat dari mengatur menu setiap hari. Pertama, tentu saja mencegah dompet jebol akibat pembelian bahan makanan yang tidak terkontrol. Selain itu, pembelian bahan makanan sesuai kebutuhan tentu akan meminimalkan bahan makanan yang busuk akibat tidak sempat diolah. Membuat rencana menu harian saja sudah mampu membuat kita berpartisipasi dalam menyelamatkan bumi lho. Keren kan?

2. Usahakan selalu membeli pangan lokal

Nah, syarat kedua adalah dengan memilih pangan lokal. Kenapa? Yang jelas sih dengan membeli pangan lokal berarti kita turut menjaga eksistensi petani lokal. Ya kan? Petani lokal nggak perlu repot-repot menjual hasil panennya ke tengkulak yang seringkali memainkan harga. Daripada diborong tengkulak, mending diborong penduduk setempat kan? Membeli langsung dari tangan peryama juga biasanya jauh lebih murah. Asyik kan?

Selain membantu menjaga eksistensi petani lokal, memilih pangan lokal juga ‘go green’ lho. Bayangkan saja, dengan membeli pangan lokal maka kita akan mengurangi emisi dan polusi yang pasti terjadi selama pendistribusian pangan ini tadi. Buah lokal akan dikarbit, pengemasnya berlapis-lapis, truk pengangkutnya perlu bahan bakar yang tidak sedikit, belum lagi asap knalpot truk yang membahayakan kesehatan.

3. Memilih pangan organik lebih menyehatkan

Selain memilih pangan lokal, ada baiknya jiga kalau pangan yang kita pilih juga bersifat organik. Menurut peraturan BPOM, syarat suatu pangan mendapat label ‘organik’ adalah bila 90% komponen pangan adalah organik/non bahan kimia. Pangan organik adalah pangan alami yang pastinya lebih menyehatkan tubuh.

Sekarang segala hal sedang digalakkan dilakukan dengan se-alami mungkin. Ada istilah melahirkan alami, pengobatan alami, tak terkecuali dengan pangan organik/pangan alami. Semua dikembalikan pada fitrahnya dan intervensi bahan kimia digunakan seminimal mungkin. Makanya pangan organik menjadi lebih sehat, mungkin sayur organik tidak semenarik sayur non organik, tapi sayur organik sangat minim obat-obatan kimia yang biasa ditambahkan selama proses pertumbuhannya. Jelas sekali kan lebih sehat yang mana?

Pangan organik sudah bukan hal asing buat kita saat ini. Jadi, nggak ada salahnya ikut mencoba kan?

4. Minimalkan pengemas makanan

Nah, poin ini biasanya sering terlewatkan. Pengemas yang berlapis-lapis memang penting untuk memastikan bahan makanan yang kita simpan terlindung dari berbagai kontaminasi, akan tetapi bijaklah menggunakan pengemas. Terutama kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam. Saya probadi memulai meminimalkan pengemas makanan dengan membawa wadah sendiri dari rumah saat membeli makanan. Biarlah repot sedikit mencuci wadah pengemas, asalkan dapat meminimalkan sampah plastik yang terbuang. Untuk belanja juga saya usahakan menggunakan tas kain dari rumah

Ada hal menarik dalam workshop yang diadakan di Amaris Hotel ini. Ternyata sudah menjadi tradisi bahwa air minum yang disediakan pada acara di sini pasti menggunakan galon dan gelas minum dari kaca. Walaupun sepele dan terkesan merepotkan, namun saya membayangkan betapa banyak sampah plastik yang bisa dihemat dengan sedikit berepot-repot menyediakan gelas minum. Bandingkan deh sama beberapa restoran fast food yang bahkan piring makannya saja dari kertas. Demi mengurangi budget mencuci, restoran seperti ini menjadi sangat boros dalam pembuangan sampah.

5. Efisienkan energi saat memasak

Perhatikan teknik memasak kita. Dalam memanaskan air atau pun minyak, sebaiknya kondisi panci atau penggorengan tertutup. Hal ini akan mengefisienkan panas yang terserap pada air dan minyak. Apalagi air mendidih akan mudah menguap, uap air yang tidak diperangkap oleh tutup hanya akan menjadi energi yang terbuang sia-sia. Nggak mau rugi kan? Apalagi sekarang gas mahal. Hihihi.

Tuh simpel kan menjadi ‘ go green’. Ingat deh, ini semua bukan masalah menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan diri sendiri. Dengan go green kita akan menghemat pengeluaran di banyak hal, kalau bumi bisa lebih hijau, itu sih cuma bonus. Betul tidak?

Love yourself. Love your earth.

* referensi dari:

Materi eco food-wise waste yang disajikan SCP(suistanable consumption and production) pada acara Jogja Hijau 17 Januari 2015.

Pengalaman pribadi