Ngrosok: Bentuk Pengelolaan Mandiri Barang Bekas Rumah Tangga

0
1767

[Selasa, 20 Januari 2015 | 9:53 | Yogyakarta lagi mendung]
Sepeda motor bermerk Jepang menyandar di tembok seberang rumah dengan kronjot lusuh terpasang di sadel. Kronjot yang tidak sendirian. Ia ditemani karung berukuran sedang yang bertengger anteng di atasnya, sebuah karung besar (tampaknya telah terisi setengah bagiannya) yang digeletakkan di tanah, berikut seikat kardus.

Tanpa perlu bertanya pada tetangga, aku telah mengenali siapa pemilik motor tersebut. Benar saja, jam 10:05 datanglah si empunya sembari membawa barang hasil perburuan saat itu. Kumpulan barang rombengan entah milik siapa itu tidak langsung ditata. Tukang rosok yang berjenis kelamin perempuan itu ngaso sesaat di rumah tetanggaku. Menurutku, barang rosokan yang didapatnya tidak terlalu banyak. Buktinya ada dua: motornya tidak “penuh” dan dia tidak melanjutkan perburuan lagi dan memilih hengkang dari kampungku pada jam 10:20.

[Jumat, 23 Januari 2015 | 11:01 | Yogyakarta cukup bersinar]
Perempuan paruh baya –menurut perkiraanku berusia sekitar lima puluh tahunan– memanggul karung besar berwarna putih. Dia mengingatkanku akan pose Sinterklas di dalam gambar bertema Natal. Namun, bukan kado yang dikeluarkan, melainkan kumpulan botol-botol dan surat kabar bekas. Ditatanya hasil perburuan “part one” di dalam kronjot hijau yang telah dimodifikasi sedikian rupa. Pelan-pelan dipindahkannya “harta karun” hari itu. Sebab, cacat setitik, berkurang penghasilan untuk keluarga. Kondisi barang, biarpun bekas, tetap menjadi penentu berapa rupiah yang bakal masuk ke dalam tas kerja kempitnya.
***
Kampung tempat tinggalku tak ubahnya ladang subur yang menjanjikan nafkah bagi banyak orang, tidaknya hanya bagi warga setempat, tetapi juga orang lain yang alamat di KTP-nya saja tidak menyebut ia berdomisili di kampung yang berlokasi tidak jauh dari ikon kebanggaan wong Yogya. Ruang publik seakan dibagi rata dengan sesama penggiat ekonomi kelas teri: tukang bakso, penjaja es dung-dung, tukang burjo-jaipong, bakul jamu, tukang sayur, tukang servis sepatu, tukang kasur, dan ketinggalan tukang rosok.

Entah sejak kapan tukang rosok itu hadir di lingkungan tempat tinggalku. Belum kutemukan secuilpun fakta sejarah yang menyebut secara jelas tradisi ngrosok mulai berjalan di lingkungan padat penduduk ini. Yang kutahu, telah terjadi hubungan simbiosis mutualisma antara tukang rosok dengan warga kampung setempat, khususnya mereka yang merosokkan barang bekasnya.

Menggenapi mereka yang menjadi pelanggan setia tukang rosok, saya pribadi merasa diuntungkan dengan kehadiran tukang rosok. Kami tak ubahnya partner barter. Keuntungan yang masing-masing pihak peroleh antara lain satu, rumah saya jadi bebas dari tumpukan barang bekas, sedangkan tukang rosok dapat barang bekas dari saya. Dua, kami sama-sama dapat sejumlah uang dari hasil merosok. Kalau saya, uang hasil ngrosok biasanya dipakai untuk membeli kebutuhan bulanan seperti sabun cuci, sabun mandi, pembersih kamar mandi, dll, sedangkan bagi sang tukang rosok, uangnya mungkin dipakai untuk hidup atau bayar sekolah anaknya. Pada intinya, kami sama-sama punya andil dalam our own cyrcle life. Impas, kan?

Bertahun-tahun kebiasaan ngrosok telah berjalan menjadikan saya punya pengalaman. Pengalaman yang didapat dari jam terbang saya. Barang yang dirosokkan, antara lain koran, tabloid, kertas-kertas, kardus, perabot rumah tangga (wadah plastik, panci, selang gas bekas), alat elektronik yang sudah mati total, telepon rumah yang sudah sangat rusak, dan barang-barang sekali pakai: kaleng biskuit, kaleng sarden, botol parfum, botol air mineral, kemasan kosmetik, dll. Yang paling sering, sih, koran dan tabloid karena “pergerakannya” terhitung cepat.

Tumpukan Koran dan Tabloid yang Siap Dirosok (Foto: Dokumen Pribadi Ratri Puspita)
Tumpukan Koran dan Tabloid yang Siap Dirosok
(Foto: Dokumen Pribadi Ratri Puspita)

Sebelum dirosok, koran dan tabloid dipilah-pilah lebih dulu, lalu ditimbang per sepuluh kilo. Demi kerapian dan agar mudah dipindahkan, koran dan tabloid sepuluh kiloan tersebut diikat dengan tali rafia. Demikian pula dengan kertas, saya pisahkan antara kertas berwarna dengan kertas HVS. Kenapa dipisah? Kata tukang rosoknya, sih, karena harganya berbeda. Adapun botol-botol, kaleng, dan kawan-kawannya dikumpulkan jadi satu ke dalam karung. Nantinya bakal dicek dan disortir tukang rosoknya sendiri. Oh, iya, karungnya tidak menjadi milik tukang rosok lho. Bukannya saya pelit, cuma karung saja diminta. Alasannya simple sekaligus masuk akal: karungnya masih bisa dipakai lagi, kan?

Bagaimana dengan urusan harga? Nah, ini dia!

Jangan berharap untung banyak. Sejak kapan, sih, bisa ambil untung dari barang rosokan? Jelas dari segi harga saya tetap rugi bandar. Tapi, paling tidak, dengan banyaknya tukang rosok bergentayangan di sekitar lingkungan rumah, saya masih punya kesempatan memilih tukang rosok yang mau tawar menawar hingga tercapai harga kesepakatan. Sampai hari ini, saya sudah punya tukang rosok langganan. Itu tuh, perempuan paruh baya yang saya ceritakan di atas. Dia yang hari Jumat itu mengenakan pakaian atasan lengan panjang warna coklat bermotif, celana panjang hitam polos, dan jilbab hijau. Dialah yang masih bisa memberi harga pantas.

Kardus Bekas: Bakal Dirosok Juga (Foto: Dokumen Pribadi Ratri Puspita)
Kardus Bekas: Bakal Dirosok Juga
(Foto: Dokumen Pribadi Ratri Puspita)

Tidak hanya merosok barang bekas, saya juga pernah merosokkan pakaian bekas. Berawal dari kebingungan saya tatkala ingin menyingkirkan gunungan pakaian bekas agar lemari pakaian bisa diisi pakaian lain, jaket, selimut, atau sprei. Kebingungan saya makan waktu lama, hingga suatu ketika ada ibu-ibu (dari penampilannya saya sama sekali tidak berpikir dia seorang tukang rosok!) yang jemput bola mencari pakaian bekas.

Tawaran ibu tersebut diiyakan dan pada akhirnya saya bisa bernapas lega. Walau pendapatan akhirnya tetap tak seberapa, satu hal yang saya syukuri adalah, sampah rumah tangga bisa berkurang. Ternyata, perkembangan hidup manusia tidak hanya pada tubuh dan cara berpikirnya saja, tetapi juga barang-barang pribadinya yang suatu saat bakal berubah menjadi sampah.

Pengalaman merosokkan pakaian membuat saya berpikir, kapan negeri ini punya semacam station yang berfungsi untuk menampung pakaian bekas warga negaranya, ya? Pakaian-pakaian bekas tersebut bisa diupcycling sehingga bisa memperpanjang nilai guna suatu barang yang sebelumnya sudah dianggap tidak lagi bermanfaat.

Upcycling, suatu istilah yang dicetuskan oleh Reiner Pilz, seorang insinyur dari Jerman, sebagai langkah cerdas mengurangi sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Implementasi atas metode upcycling terhadap pakaian-pakaian bekas dapat dilakukan dengan cara mengubah pakaian bekas menjadi keset, tas belanja, tote bag untuk kuliah, celemek, sarung tangan dapur, selimut, alas kulkas, boneka, dll.

Ah, saya jadi teringat dengan Silk, penyihir yang memiliki spesialisasi menjahit pakaian daur ulang, di dalam buku cerita anak-anak Little Witch Co. karya Ambiru Yasuko. Berkat sentuhan tangan Silk, pakaian jadul bisa dipakai kembali. Kliennya pun tidak perlu membuat pakaian baru yang nantinya bakal memenuhi isi lemari. Hmmm… Apakah perlu melibatkan Silk, agar kita well trained enough dalam urusan daur-mendaur?

Dont (just) recyle, think first, lebih baik dirosok daripada nasibnya hanya berakhir di tempat pembuangan sampah.

#jogjahijau #idehijau #KonsumsiHijau

***
Referensi:
http://www.dw.de/dari-daur-ulang-menuju-upcycling-logam/a-17067634. 25 Januari 2015. 9:27 PM