Nenek Bodoh Ber-“Local Wisdom” di Meja Makan

2
1939

“Nenek saya seorang pembohong.” Ini kali kedua saya menuliskan pengakuan melalui kalimat ini. Kembali saya tuliskan di sini dengan perasaan tulus dan tarikan napas lapang. Semasa kecil, saat kami kumpul bersama-sama tante-tante, Nenek becerita bahwa ia orang bodoh yang tak pernah duduk di bangku sekolah. Saya tidak membantah, bukan karena pencitraan sebagai cucu yang baik. Karena percaya atas ucapannya. Dasarnya sederhana saja. Ayah saya saja, sebagai putra sulung beliau, hanya bersekolah sampai kelas tiga Sekolah Rakyat (SR, kini kita mengenal dengan sebutan Sekolah Dasar). Kurang yakin apa bila dalam kehidupan sehari-hari, Nenek saya tidak bisa menulis.

Kini, waktu sudah bergerak jauh meninggalkan masa itu. Nenek saya sudah lama beristirahat dengan tenang, pun ayah saya sudah almarhum. Namun dalam tahun-tahun belakangan ini, saya sampai pada keputusan yang tak dapat diganggu gugat bahwa “Nenek saya adalah seorang pembohong”. Dia bilang, dia orang bodoh. Kini, saya sudah cukup berumur untuk tidak percaya lagi pada omongannya. Nenek saya ternyata adalah seorang yang pintar tanpa duduk di bangku sekolah. Jika Anda tidak percaya, baiklah kita bersepakat saja bahwa dia Nenek yang bijak.

Ketika orang-orang pandai masa kini memperkenalkan istilah Local Wisdom dan urgensinya dalam banyak bidang kehidupan, maka Nenek saya adalah salah satu oknum pelakunya. Dalam kesederhanaan kata-kata serta cara berceritanya yang seadanya, selalu menyenangkan berada di dekatnya.

Nenek saya bukan Nenek cerewet dan beliau tak banya cakap. Tapi sekali ia bertutur, selalu bernas menyusup ke dalam hati. Salah satu tema bertuturnya, berada di area meja makan. Mula-mula saya hanya mengingat Nenek “mengajarkan” dua hal. Pertama, kalau makan bersama, jaga matamu jangan lancang jelajatan ke piring orang lain. Itu tindak mata yang tak sopan, cukup pandangi piringmu sendiri. Kedua, sehabis makan sebaiknya berdiri dan berjalan-jalan, karena itu membantu pencernaan. Tapi di sisi lain, jangan melompat-lompat, karena akan mengganggu pencernaan.

Belakangan, perlahan tapi pasti, saya teringat pesan ketiga. Kalau makan, katanya, habiskan sampai tuntas. Karena “kebersihan” piring seusai makan akan sesuai dengan kondisi wajahmu. Kalau banyak nasi masih tertinggal, maka itulah jerawat yang akan menghiasi wajahmu. Wooow, betapa “seram” petuah ini. Saya pun segera taat. Kami, cucu-cucunya, pun segera berlomba menghasilkan piring bekas makan yang paling tandas. Kinclong!

01
Kebiasaan yang baik harus dibangun sejak dini.

 

Waktu saya mulai memasuki usia pra-remaja, ehh wejangan itu sering kali dimodifikasi oleh tante-tante saya dengan pesan yang berbeda. Nasi-nasi yang tersisa itu idem dengan jerawat di wajah pacar saya kelak. “Idiiihhh, saya kan masih kecil kok sudah bicara soal pacaran,” saya mencoba mengalihkan topik. Tapi, dalam hati, dan mungkin juga muka bersemu merah dadu, saya memperbarui tekad untuk makan secara paripurna hingga piring kinclong.

Hingga di usia tertentu, saya tertawa terbahak saat mendengar kata-kata ini. Saya merasa itu hanya seloroh, “kebohongan” untuk anak kecil. Tapi apa daya, kebiasaan sudah terlanjur terbentuk dalam perilaku makan kami untuk selalu makan secara tuntas.

Saya lalu teringat pula pesan-pesan lain di sekitar meja makan. Antara lain, ambillah nasi (atau sayur-lauk) secukupnya. Selapar-laparnya, ambillah dalam porsi sebagaimana biasanya. Kalau sudah habis dan merasa masih kurang, barulah diambil lagi. Kemudian, bila terhidang makanan berkuah seperti sup, kami diberi mangkuk kecil. Setiap anak menyendok dari mangkuk besar ke mangkuk kecilnya masing-masing. Jika habis dan masih ingin, barulah menyendok lagi. Tampak ribet sih, tapi selalu pas dalam takaran tanpa menyisakan makanan sisa.

Godaan besar untuk ambil sebanyak-banyaknya saat makan prasmanan.
Godaan besar untuk ambil sebanyak-banyaknya saat makan prasmanan.

Pernah “nakal” di meja makan? Tentu, dong. Saya pernah memenuhi piring cukup banyak sehingga tak mampu menghabiskannya. Lalu, apa yang terjadi? Piring dengan makanan berantakan sisa saya itu dimakan oleh Ibu saya. “Lain kali jangan begini, sayang kan kalau dibuang.” Mendengar ini, saya terdiam. Ucapan yang diterima telinga saya ini tidak sesignifikan apa yang dilihat oleh mata saya. Saat Ibu saya menyantapnya, perasaan saya bercampur aduk. Ada nuansa rasa bersalah, kasihan, terenyuh, sampai perasaan jijik melihat Ibu saya memakan makanan sisa tak beraturan itu. Saya cukup terpukul atas perbuatan saya ini. Sejak itu saya belajar untuk tidak mengulanginya lagi.

Itulah pelajaran hidup, yang diajarkan oleh Nenek saya yang mengaku tidak sekolah. Juga oleh Tante dan Ibu saya yang putus sekolah di tingkat Sekolah Rakyat. Tapi ternyata waktu membuktikan mereka bukanlah orang-orang “bodoh”. Kini, ribuan, ratusan ribu, atau bahkan lebih Local Wisdom yang patut digali kembali. Termasuk pitutur di meja makan ini.

“Terima kasih, Nek!”

@angtekkhun

#Jogjahijau #KonsumsiHijau #Don’t(just)Recycle!ThinkFirst #WiseWaste #EcoFood

2 COMMENTS

  1. Wah, kasihan nenekmu! Sudah berjasa pada anak cucu, masih pula dicap pembohong. Memang pembacaan tuntas tidak mengarah ke sana, tetapi janganlah menggunakan kata pembohong. Mungkin mas Khun harus menulis lagi untuk meminta maaf pada beliau. Katakan padanya bahwa tulisan kemarin tergesa-gesa, belum sempat dikonsultasikan dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia.

  2. Nenek saya adalah signifikan person dalam kehidupan saya, dan saya adalah cucu kesayangannya. Dalam kehidupan kami yang pas-pasan secara ekonomi, beliau tidak pernah kekurangan cara untuk memberikan perhatian pada cucu tertuanya ini. Sebagai manusia perahu yang terdampar di sebuah desa di Indonesia, dengan segala kemiskinan, ia memulai hidup dan membesarkan 8 anaknya. Ada dua peristiwa besar dalam kehidupan yang mengubah dirinya, sehingga dalam sisa hidupnya beliau menjadi sangat pendiam. Waktunya dihabiskan dengan banyak termenung. Beliau tidak berpendidikan, plus merasa hanya orang kampung, sehingga tidak percaya diri untuk memberi nasihat kepada kami. “Saya bodoh” adalah pengakuannya yang rendah hati, yang tidak saya mengerti saat kecil. Para pakar mungkin saja menyebutnya sindrom citra diri negatif. Dengan berlalunya waktu, dan setiap kali mengenang kemiripan tipe kepribadian kami, saya semakin respek pada almarhumah. Dia nenek yang membanggakan saya, selamanya.