Langkah Kecil Kita, Mengubah Dunia

0
804

Kita selalu mengonsumsi makanan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Tak dapat dipungkiri, kelangsungan hidup kita dapat terganggu apabila kita tidak mengonsumsi sedikitpun makanan. Metabolisme tubuh tidak akan berlangsung dengan baik dan justru menghambat aktivitas kita bila tidak ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuh.

Kebutuhan makan bukanlah persoalan sederhana. Tidak hanya soal mengonsumsi makanan agar perut kenyang yang kemudian dikeluarkan dari tubuh kita. Makan pun perlu kita perhatikan. Berbagai hal perlu kita telisik lebih lanjut mengenai makanan yang akan kita konsumsi. Mulai dari komposisi makanan, gizi yang terkandung, hingga proses pembuatan.

Saat ini, kita dihadapkan pada lingkungan yang tercemar akibat pola makan kita yang menimbulkan masalah pada lingkungan sekitar. Contoh sederhana, saat kita membeli makanan baik saat berbelanja ataupun membeli jajanan yang kerap menggunakan plastik sebagai wadah untuk membungkus makanan tersebut. Lalu, apa tahap akhir dari plastik yang hanya kita gunakan sebagai wadah tersebut? Plastik hanya dibuang di tempat sampah dan tidak bisa diolah. Terdapat pula, orang membakar sampah plastik yang justru menimbulkan pemasalahan lain seperti polusi asap. Plastik tidak dapat dimusnahkan begitu saja. Proses alami penguraian plastik pun memakan jutaan tahun. Di lautan, banyak hewan seperti penyu yang mati karena memakan plastik yang dianggapnya sebagai ubur-ubur.

Ketika saya mencari ide mengenai topik Eco Friendly Food and Wise Waste, terlintas di pikiran saya mengenai penjual pecel di daerah Malioboro. Pagi-pagi saya pun berkunjung ke warung pecel tersebut untuk memuaskan keingintahuan saya. Pagi itu, cuaca agak mendung dan cenderung dingin. Saya pun lantas lupa pada cuaca pagi yang tidak mendukung setelah menikmati sajian pecel tersebut. Pecel Madiun “Berkat” tepatnya, berjualan setiap hari di daerah jalanan Malioboro. Sewaktu warung tersebut agak sepi, saya pun melontarkan beberapa pertanyaan yang kemudian dijawab oleh pemilik warung tersebut. Pecel Madiun terbuat dari penyatuan beberapa bahan yang dipadukan oleh bumbu pecel (kacang). Bahan-bahan tersebut antara lain bayam, kacang panjang, tauge, dan krupuk peyek serta tempe sebagai tambahan. Proses pemasakannya cukup sederhana. Bayam, kacang panjang dan tauge direbus lalu disiram dengan bumbu pecel.

rsz_20150124_072655
Makanan tersebut sangat memaksimalkan penggunaan bahan. Sehingga, pembuangan hasil produksi sangat minim. Bahkan, wadah yang digunakan tidak merusak alam sekitar karena hanya menggunakan daun pisang dan koran yang dibentuk kerucut (pincuk). Biasanya, sudah ada penadah yang mengambil sampah daun pisang dan koran. Daun pisang dapat dijadikan pupuk sedangkan koran bisa didaur ulang. Sisa-sisa makanan pun bisa dijadikan pakan ternak seperti babi. Penjualan pecel madiun, menurut saya, sesuai dengan gaya hidup hijau yang sedang marak akhir-akhir ini karena isu lingkungan yang semakin kritis. Makanan ramah lingkungan tersebut juga mudah kita dapatkan dengan membuat sendiri pecel serta tambahan sesuai selera.

Yang ingin saya tekankan adalah betapa mudahnya bagi kita untuk mengikuti green lifestyle melalui kebiasaan kecil yang pasti kita lakukan yakni mengonsumsi makanan. Sehingga, tidak ada salahnya melakukan hal tersebut karena pada akhirnya, dampak perilaku kita akan berbalik pada kita sendiri dalam hal ini selektif memilih makanan. Terlebih lagi, selektivitas kita akan menjadi lebih baik lagi kalau kita memasukkan green lifestyle sebagai patokan kita. Hal ini bisa menjadi terobosan melalui kebiasaan kecil yang berdampak besar bagi lingkungan. Langkah kecil kita, mengubah dunia.

#Jogjahijau #Konsumsi Hijau #Don’t (just) Recycle!Think First