Konsumen Bijak Sayang Bumi

4
2169

Negeri kita memiliki masalah serius dengan sampah. Jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di ibukota saja bisa mencapai 6.000 ton dan tumpukannya bisa sebesar 30.000 meter kubik – lebih dari setengah ukuran candi Borobudur. Rata-rata pemakaian kantong plastik per orang di Indonesia adalah 700 lembar per tahun. Sampah kantong plastik saja di Indonesia mencapai 4000 ton per hari atau sama dengan 16 pesawat Boeing 747, sehingga sekitar 100 milyar kantong plastik terkonsumsi per tahunnya di Indonesia. Informasi tersebut penulis dapatkan dari Greeneration Indonesia (24/01),

Diet Kantong Plastik

 Upaya penyadaran masyarakat luas tetang antisipasi ekspansi plastik besar-besaran sudah mulai banyak digalakkan. Di Bandung misalnya, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) saat ini bekerjasama dengan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Pemerintah Kota Bandung untuk mengimplementasikan Peraturan Daerah No. 17 tahun 2012 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Selain itu GIDKP juga mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) untuk mengeluarkan Surat Seruan No.1 tahun 2014 tentang Gerakan Jakarta Diet Kantong Plastik.

Nantinya, bagi produsen dan pelaku usaha yang mengikuti peraturan ini akan diberikan insentif berupa pengurangan, keringanan, atau pembebasan pajak dan retribusi daerah dan tentunya pemberian penghargaan.

Selain itu, ada juga sanksi yang akan diberikan kepada setiap orang/atau badan usaha yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang menghalang-halangi pengurangan penggunaan kantong plastik dipidana dengan penjara paling lama 3 (tiga) bulan dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 dan hal ini merupakan pelanggaran aturan.

Sejak pemerintahan Ridwan Kamil, penerapan aturan ini sudah semakin digalakkan. Hal tersebut seperti yang dituturkan oleh Koordinator Harian Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Rahyang Nusantara (25/01), sudah banyak campaign tools yang diupayakan oleh Pemda untuk pengelolaan sampah dan penertiban di ruang publik.

“Meski telah dikeluarkan sejak 2012, namun implementasi aturan tersebut baru berjalan mulai tahun 2014. Dimulai dengan survey di mall terkait jenis kantong belanja yang digunakan. Survey tersebut belum ada follow up-nya karena dari pemda pun kurang responsif dan blm menganggap ini prioritas utama, meski kami selalu nagih,” papar Rahyang yang dihubungi penulis via whatsapp.

BPLH Kota Bandung dan Gerakan Indonesia Diet kantong Plastik telah melakukan survey pada Maret-April 2014 terhadap semua tenant di tiga pusat belanja. Hasilnya, lebih dari 50% tenant masih menggunakan kantong plastik konvensional sebagai kantong belanja utama, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Di Istana Plaza, tenant yang masih menggunakan kantong plastik konvensional adalah 70,6% atau berjumlah 60 tenant dari keseluruhan total tenant yang disurvey.
  2. Sebanyak 71,2% tenant masih menggunakan kantong plastik sebagai kantong belanja utama di Cihampelas Walk.
  3. Sebanyak 78,3% tenant masih menggunakan kantong plastik konvensional di Trans Studio Mall.

Meski berfokus untuk mengurangi penggunaan plastik, namun komunitas ini tidak berarti antiplastik. Para anggotanya menyadari, bagaimana pun juga plastik tetap dibutuhkan. Namun, sebisa mungkin plastik harus dikurangi penggunaannya dan juga digunakan dengan bijak.

Disposable-isme, Manusia yang Diperbudak Gaya Hidup

 Kebijakan tidak menggunakan kantong plastik yang tidak ramah lingkungan mulai diterapkan sejumlah supermarket di Indonesia. Seperti dilansir dari indomaret.co.id, retailer di beberapa kota besar telah menggunakan oxium sebagai shopping bag. Contohnya Carrefour, Indomaret, Alfamart, Circle K, Superindo, Hero, Giant, Gramedia, Zara, Time Zone, Kemchicks, Guardian, dan Premium Factory Outlet. Penulis juga pernah mendapati Ramayana dan KFC juga mengampanyekan go green lifestyle.

kresek indomart
Daur Hidup Kantong Belanja Indomaret (Doc. indomaret.co.id)

Jika kita belanja dan menerima kantong plastik dari toko, kita hanya menggunakannya sekitar 25 menit sampai satu jam saja. Setelah itu plastik akan menjadi sampah. Kebanyakan karakteristik plastik tipis dan mudah sobek sehingga tidak memungkinkan untuk dipakai-ulang. Kebanyakan konsumen malas membawa kantong belanja sendiri dari rumah. Kadang-kadang juga tidak ada rencana berbelanja. Selain itu kantong plastik diberikan secara gratis kepada konsumen. Padahal produk-produk yang dijual di toko atau supermarket sudah dibungkus dengan plastik. Maka konsumen cukup memasukkan barang belanjaannya ke dalam tas yang dapat digunakan berulang kali.

Apalagi Yogyakarta adalah kota wisata sekaligus kota pelajar. Dimana orang-orang yang ingin gaya hidup instan tumplek dan membuat kota ini semakin sumpek. Gaya hidup yang menganut paham disposable-isme telah mendarah daging dalam diri manusia. Hal ini memicu kebiasan masyarakat yang hobi nyampah. Masih saja ada yang membakar sampah dan membuang sampah sembarangan sekalipun seluruh dunia tahu bahwa itu adalah kebiasaan buruk. Sementara pemerintah masih fokus pada penyelesaian masalah sampah end of pipe. Jadi sampah harus dibawa semua ke TPA meski daya tampungnya memprihatinkan. Semua dilakukan tanpa ada pemilahan di tingkat produsen sampah. Berdasarkan data dari Pemprov DIY (2011), TPA sementara Kabupaten Sleman hanya melayani 13,51% dan Kabupaten Bantul hanya 4,87%. Akibatnya banyak dijumpai tempat pembuangan sampah ilegal dimana-mana, seperti di bantaran sungai, di tepi-tepi jalan, di lahan-lahan kosong, dan sebagainya. Bagaimana kondisi TPA di tahun 2015? Bagaimana dengan sepuluh atau dua puluh tahun lagi?

 

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta, Halik Sandera, mengatakan bahwa Yogyakarta belum memiliki aturan khusus terkait sampah. Hal ini dikarenakan belum adanya aturan turunan dari PP No. 18 Tahun 2008 sehingga menyulitkan pihak Pemda. Namun yang terpenting adalah penyadaran masyarakat akan pentingnya mengurangi pemakaian plastik.

Plastik yang menjadi masalah bukan hanya plastik kresek, melainkan juga plastik kemasan produk-produk yang menjadi kebutuhan masyarakat. Meskipun tidak terbuat dari plastik murni, dengan ditambahkan vynil dan sebagainya, tetap saja sampahnya sulit terurai. Plastik oxi-biodegrabable dapat terurai dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Itu juga bergantung pada kondisi lingkungan sekitar dan faktor pendukung lainnya. Dan selama belum terurai, plastik tetap akan menimbulkan masalah. Sampah harus bertanggungjawab dalam turunnya kualitas ekosistem, air yang terhalang dan tidak bisa meresap ke dalam tanah, juga berkembangnya organisme patogen dan penyebab penyakit.

Logo Oxi-biodegradable Plastic (Doc. RInda Gusvita).
Logo Oxi-biodegradable Plastic (Doc. Rinda Gusvita).

“Promosi produsen dan retailer sangat menarik masyarakat untuk menjadi konsumtif. Mereka menggunakan plastik oxi-biodegradable yang dapat terurai dalam waktu sekitar tiga bulan. Itu tidak menyelesaikan masalah, hanya mamperpendek daur hidup plastik saja,” kata Halik (25/01).

Lebih lanjut Halik menjelaskan bahwa dalam PP No. 18 tahun 2008 terdapat pasal yang berisi tentang tanggungjawab produsen terhadap sampah kemasan yang dihasilkan. Namun saat ini belum ada aturan turunan dan produsen hanya menjalankan Customer Responsibility Value (CRV) saja. Masyarakat tidak punya pilihan karena produk yang mereka butuhkan sehari-hari selalu dikemas dalam plastik.

Zero Waste : Modern Lifestyle

Penggunaan bahan ramah lingkungan di swalayan memang sudah menjadi tren di luar negeri. Di negara-negara maju, penggunaan kantong plastik belanja di toko dan supermarket mulai dibatasi dan digantikan dengan kantong kain. Hal ini pastinya tidak akan merugikan pihak supermarket, karena justru mereka bisa berhemat dengan tidak mengeluarkan biaya ekstra untuk memproduksi kantong plastik.

”Yang harus diubah adalah caranya, misal dengan menggunakan bahan pengganti plastik yang bisa dipakai ulang. Meskipun mimpi zero waste tergantung dari paradigma masyarakat tentang apa saja yang dianggap sampah, tapi upaya ini harus terus digalakkan. Jadi gara-gara promo plastik cepat terurai, paradigma masyarakat jadi positif terhadap penggunaan plastik tersebut. Padahal perlu dipikirkan bagaimana kalau situasi ini terus berlanjut? Akumulasi sampah plastik akan semakin menumpuk seiring dengan menjamurnya minimarket-minimarket dengan franchise.”

Kondisi ini memperparah situasi tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Misalnya di TPA Piyungan, Yogyakarta yang menampung sampah dari Kota Yogyakarta, Sleman, danBantul. TPA tersebut hanya mampu menampung sampah beberapa tahun ke depan. Jika tidak segera diatasi, tentu masalah ini akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Jejak ekologis plastik telah dimulai sejak proses penyiapan bahannya, distribusi besar-besaran, dan akhirnya gunungan plastik itu hanya akan menjadi sampah.

“Meskipun ada plastik yang dapat terdegradasi secara alami, namun itu tetap mempengaruhi kualitas hidup dalam suatu ekosistem. Terlebih tidak ada upaya pemisahan sampah plastik degradable (dapat terdegradasi) dan undegradable (tidak dapat terdegradasi) dari rumah tangga,” pungkasnya.

Menyalahkan nasib plastik yang selalu terhimpit bukan solusi. Mencari alternatif kemasan pengganti plastik sekali pakai juga baik. Terus meneliti jenis plastik yang langsung dapat terdegradasi secara alami selayaknya bahan-bahan organik juga harus diapresiasi. Tapi yang paling penting adalah mengedukasi masyarakat dan selalu menebarkan ‘virus’ gaya hidup nol sampah (zero waste) dalam keseharian. Meskipun dalam aktivitasnya selalu meninggalkan sampah, setidaknya manusia dapat lebih aware dengan keberlangsungan hidup generasi sesudahnya. Ini adalah poin penting dari gaya hidup berkelanjutan (sustainable).

Anak kos, misalnya, mereka cenderung memilih apapun yang simpel. Dengan semakin mudahnya pemenuhan kebutuhan saat ini, ancaman sampah menjadi semakin nyata. Malas masak dirumah, beli makan diwarung dan dibawa pulang. Jika pembeli tidak menggunakan misting (wadah makan) dan tidak memasukkannya ke dalam tas tentu memerlukan pembungkus makan yang kemudian menjadi sampah.

Dengan alasan kepraktisan dan penampilan, saat ini bermunculan restoran yang identik dengan bungkus plastik atau styrofoam. Apalagi penyedia layanan delivery order. Selain menimbulkan permasalahan pengelolaan sampahnya, penggunaannya juga tidak baik bagi kesehatan. Terlebih plastik yang kontak langsung dengan makanan yang kita makan. Bahan kimia dalam plastik akan terurai dan bermigrasi kedalam makanan. Jika kita minum ditempat, mengapa harus memakai sedotan? Begitu juga dengan kemasan air minum sekali pakai. Bukankah lebih baik membawa tumbler (wadah air minum) yang dapat dipakai ulang?

Hidup seorang diri membuat keperluan juga sedikit. Tidak jarang orang lebih senang membeli produk dalam kemasan kecil. Tentu akan lebih bijak jika kita membeli produk yang dapat diisi ulang (refill). Harganya juga biasanya lebih murah jika membeli produk dalam kemasan lebih besar. Dalam UU Nomor 18 tahun 2008 telah jelas bahwa kita harus mengurangi sampah dari awalnya. Menurut penulis, sampah kemasan adalah tanggungjawab dari produsen. Konsumen tidak membeli kemasannya, tapi hanya membeli isinya. Oleh karena itu, sebagai konsumen, kita juga harus bijak dalam bersikap dan memilih gaya hidup.

Berbagai upaya dari berbagai pihak sebenarnya telah banyak sekali dilakukan untuk mengatasi permasalah ini. Upaya tersebut terkadang kurang sustain atau yang terkesan jalan ditempat dan hanya menyentuh pihak tertentu saja. Produsen dituntut untuk tidak hanya fokus terhadap konsumen (people) dan profit saja, melainkan profit, people, and planet. Sampah kemasan suatu produk adalah tanggungjawab dari produsen. Konsumen tidak membeli kemasannya, tapi hanya membeli isinya. Oleh karena itu produsen harus berpikir bagaimana agar produk mereka tidak menghasilkan sampah. Sebagai individu juga harus meminimalisasi bagaimana agar kita menghasilkan sampah sesedikit mungkin.

Sustainable Consumtion and Production (SCP) sudah saatnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Caranya adalah dengan mengimplementasikan sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat secara mandiri, produktif dan ramah lingkungan. Artinya, tingkat keterlibatan masyarakat yang tinggi menghasilkan tingkat kepuasan masyarakat sebagai penerima manfaat yang luar biasa. Sudah saatnya kita melibatkan masyarakat sebagai penerima manfaat untuk keberlanjutan bumi yang lestari. Kuncinya hanya tekad. Jika kita tidak dapat mengurangi cemaran yang diracunkan oleh manusia kepada bumi, paling tidak kita tidak menambahnya. Meski belum bisa memulai aksi yang besar, tapi paling tidak kita mulai dari diri sendiri.  Sayangi bumi kita yang sudah renta demi keberlanjutan keseimbangan kehidupan.

 

4 COMMENTS

  1. yah minimalnya menyelamatkan lingkungan sendiri dari sampah plastik yang menumpuk dengan meminimalisir penggunaan plastik, sekalipun dibutuhkan penggunaan plastik, gunakan plastik bekas untuk kebutuhan tertentu 🙂