Kemanakah Sisa Pangan ini Bermuara ?

4
992
melati mewangi
dok. pribadi(melati mewangi)

 

“As long as humans eat foods, foodtech will never die”

Sepertinya teknologi pangan memegang peran penting dari quote di atas, karena selama manusia hidup akan membutuhkan pangan, tapi pangan seperti apa sih yang mampu membuat kita bertahan hidup lebih lama? Hmm, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki uang apakah mereka sanggup bertahan hidup lebih lama dengan makanan yang mereka santap?

Berawal dari pusat bahan makanan yaitu pasar tradisional, hampir setiap hari saya mengantar Ibu menuju pasar tradisional di Jalan Diponegoro Yogyakarta.  Ada hal yang menarik minat saya, pertama adalah saat melewati kios demi kios bahan pangan seperti sayuran dan buah-buahan, jumlah sayuran yang tersedia sangatlah melimpah dan bukan hanya satu yang berjualan tapi sekian banyak pedagang menjajakan bahan pangan yang sama. Lalu bagaimana jika tidak ada yang membeli dan akhirnya layu? Kemanakah bahan pangan ini bermuara?

Menjadi pakan ternak, ujar salah satu pedagang yang saya jumpai, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa sayuran tersebut dijual sangat murah untuk diolah menjadi santapan bagi sebagian masyarakat lapisan bawah. Bukan hanya sayuran, rupanya jajanan pasar yang kerap kita beli juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Perbedaannya, jika sayuran layu masih dapat diolah, sedangkan jajanan pasar yang tidak laku pada hari itu (basi) maka pada hari selanjutnya dapat kita temukan ditumpukan keranjang sampah pojok pasar.

Lagi-lagi ada yang mencuri perhatian saya, jajanan pasar ini terlihat tidak berguna bagi orang lain, tapi siapa sangka ada seseorang yang selalu mengambilnya. Rasa penasaran pun membawa saya untuk berkenalan dengan Mbah Poyo dan Pak Gito, rupanya rutinitas di pagi hari ala Pak Gito adalah membuka kemasan plastik yang masih menyelimuti jajanan pasar begitu juga yang dilakukan oleh mbah Poyo. Pak Gito mengumpulkan jajanan pasar basi menjadi satu dan dijadikan pakan ternak peliharaannya, sedangkan Mbah Poyo akan menjual kumpulan jajanan pasar basi itu kepada peternak ikan dan ternak langganannya.

Saya terperanga mendengar cerita salah satu tukang becak di sekitar pasar, ternyata bukan hanya Pak Gito dan mbah Poyo yang mendulang rezeki dari jajanan pasar basi tersebut, anak jalanan di sekitaran juga biasa mengonsumsinya. Miris saat membayangkan apa yang mereka santap bukanlah makanan yang layak dikonsumsi, tapi itulah kenyataan yang ada. Untuk diketahui bahwa pada makanan yang sudah basi memiliki jumlah mikrobia yang dapat menyebabkan perut sakit  dan timbul gangguan pencernaan. Sepertinya hanya Tuhan yang tahu bagaimana keadaan dalam tubuh mereka, mungkin bukan makanan yang membuat mereka bertahan hidup, melainkan semangatnya untuk dapat terus menghidupi batin dan raganya.

Sungguh sayang memang melihat makanan yang sudah dibuat berlimpah ternyata tidak laku dan harus dibuang, sekalipun dibuang ternyata mendatangkan rezeki tersendiri bagi lapisan masyarakat lain. Jika ada pepatah yang mengatakan You are what you eat, tentu pangan sehat  dan bergizi yang diharapkan, akan tetapi bagi sebagian masyarakat lapisan bawah bukanlah quote tersebut yang menjadi pedoman melainkan muncul lah pertanyaan ‘ Apakah besuk masih ada yang  dimakan?.’

Semoga saja masih ada tangan-tangan baik yang tergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan pangan untuk bertahan hidup. Hal ini membuat saya semakin bersyukur dengan makanan yang saya konsumsi. Bahwa bukan hanya makanan yang dapat membuat kita bertahan dalam hidup tetapi semangat untuk hidup itu sendiri. Makanlah sebijak mungkin, jangan sia-siakan makanan. Ingatlah bahwa di luar sana ada yang sungguh ingin menyantap makanan yang telah kita sia-siakan. Think wisely.

Semangat Pangan!

4 COMMENTS