Hanya Dengan Sebuah “Cukup” Kita Menjadi Sehat Seluruhnya

0
358

Hanya Dengan Sebuah “Cukup”
Kita Menjadi Sehat Seluruhnya
Sebuah filem berjanjuk Home karya Yann Arthus-Bertrand yang adalah seorang fotografer, wartawan, reporter, sutradara filem, dan ahli lingkungan hidup (environmentalist) merupakan sebuah filem dukumenter yang monumental. Home keluaran tahun 2009 dan diputar pertama kali di Paris ini adalah sebuah filem documenter yang menunjukan diversitas lingkungan hidup di bumi- bagaimana manusia merusak keseimbangan ekologis planet bumi ini.
Filem Home memperlihatkan sebuah krisis. Krisis ini diakibatkan oleh kejahatan spesies yang disebut manusia. Filem documenter yang banyak mengambil gambar udara dari lima pulu negara ini memperlihatkan bahwa bumi sungguh merupakan tempat hunian yang indah bagi semua spesies. Memperlihatkan juga dalam filem itu bagaimana spesies-spesies itu berusaha untuk hidup dengan mencari makan.
Sama seperti spesies lain manusia juga bekerja keras untuk dapat makan. Namun manusia itu tidak pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang telah diperolehnya. Oleh karena itu tidak pernah ada kata cukup. Manusia membabat lahan besar-besaran untuk pertanian dan hunian, membagun pabrik besar-bearan untuk mengolah hasil pertanian, membangun gedung-gedung besar dan lain sebagainya merupakan cerminan dari sifat dasar manusia yang tidak kenal cukup itu.
Bertrand bersama timnya bekerja keras untuk menhasilkan filem itu karena keprihatinan akan kelalayan manusia terhadap rumah bumi ini. Harapannya adalah manusia itu menumbuhkan rasa cukup dalam pribadi masing-masing. Cukup untuk apa yang telah dimiliki. Hanya dengan kesadaran itulah penulis yakin bahwa bumi dapat diselamatkan. Cukup dengan sebuah cukup. Tidak kurang dan tidak lebih.
Penulis membayangi, dengan mental cukup itu, suatu saat para mahasiswa maupun anak-anak sekolahan yang berkos di daerah sekitar kampus dan sekolah di kota Jogja ini cukup dengan menggunakan sepeda atau jalan kaki saat berangkat ke kampus atau sekolah. Berjalan berkoelompok dengan teman-teman sambil bercanda dan ketawa ria saat berangkat maupun pulang kampus merupakan sesuatu yang indah ketimbang menggunakan sepeda mator atau mobil. Karena dalam hal ini sepeda motor dan mobil di satu sisi membuat orang kurang berinteraksi dengan orang lain dan di sisi lain tidak ramah lingkungan karena mengakibatkan polusi udara.
Sudah menjadi kebenaran umum bahwa mahasiswa adalah agen perubahan dalam sejarah dunia di berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu penulis yakin bahwa impian penulis ini bisa saja tercapai kalau kesadaran akan peduli sosial dan peduli lingkungan hidup ditumbuhkan dalam pribadi masing-masing mahasiswa dengan menumbuhkan rasa cukup. Banyak gerakan peduli lingkungan di kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum, dalam bentuk go green dengan menanam pohon. Ada juga yang disebut “sepeda sehat dan ramah lingkungan” juga digerakkan oleh mahasiswa.
Akan tetapi sampai sekarang belum kelihatan perubahan yang signifikan dari gerakan-gerakan itu. Sebagai mahasiswa yang aktif dalam gerakan peduli lingkungan, penulis dapat menilai bahwa kegiatan peduli lingkungan yang digerakkan bersama ini belum mempunyai roh yang menggerakkan orang. Hal itu karena sosialisasi masih kurang, masih kurang informasi tentang krisis lingkungan hidup di bumi ini, sehingga keterlibatan mahasiswa juga belum maksimal. Sosialisasi dan informasi yang memadai diorganisisr dengan baik oleh lembaga kemahasiswaan, penulis yakin sebuah perubahan akan terjadi. Menumbuhkan rasa cukup yang menjadi target dari gerakan ini menjadi terwujud. Cukup dengan sebuah cukup senantiasa mejadi roh untuk hidup di rumah bumi ini.