Dibuang Sayang

10
1866
pohon alpukat berpelukan dengan jeruk purut

Beruntung sekali dulu waktu kecil saya suka menanam, terutama nanam tanaman buah. Benihnya ada yang dari beli dipasar namun sebagian besar adalah dari biji buahnya langsung. Misal saya makan buah alpukat, daging buahnya sudah saya makan tapi isinya dibuang sayang, jadi isinya saya taruh ember kecil yang sudah diisi tanah. Kini biji alpukat itu sudah tumbuh besar pohonnya, namun sayang belum berbuah.

Tapi tenang, karena meski belum bisa menikmati buah alpukat dari pohon milik sendiri setidaknya ada beberapa buah yang bisa dinikmati dari pohon milik sendiri, seperti jeruk (yang besar-besar, tidak tahu nama jeruknya apa, seperti pada gambar), jeruk buah (ukuran kecil-kecil, seperti jeruk-jeruk yang dijual dipasar, tidak bisa melampirkan gambar karena sedang tidak berbuah), rambutan, nangka, beberapa macam jenis mangga.

buah nangka dan jeruk petik dari pohon

Gambar diatas adalah nangka dan jeruk yang dipetik minggu lalu 18-01-2015, nangkanya jelas manis dan lebih enak ketimbang beli dipasar. Kalau jeruknya kadang ada yang rada asam, tapi kalau sudah tua di pohon manis. Kalau sekarang yang siap petik adalah buah rambutan, kalau mangga sudah lewat masanya kemarin.

buah rambutan petik dari pohon

Memang sih dari biji buah yang saya cecer diember tidak semua berhasil, entah mati karena memang mati atau mati karena dipotong oleh bapak saya. Seperti pohon asam misalnya, dulu saya memang suka asam untuk dibikin minum, biji-bijinya saya taruh ember, gak taunya ada yang tumbuh dan tumbuh, terus dipindah didepan rumah, begitu kelihatan rimbun malah dipotong, begitu juga dengan tanaman kedondong yang belum sempat tumbuh dewasa sudah kena inspeksi mbah saya. Entah mengapa orang-orang tua itu tidak suka tanaman yang mempunyai prospek tubuh bongsor, mungkin karena dirasa membahayakan kalau ada angin.

Nah, itu adalah soal biji buah yang dibuang sayang yang saya rasakan sewaktu masih kecil dimana kini saya sudah bisa menikmati buahnya, namun lebih dari itu ada sesuatu dirumah yang membuat saya kini merasa kalau makan apa-apa nyisa gitu rasanya gimana gitu karena kalau dibuang sayang, ini bukan lagi soal biji buah loh ya tapi masalah kulitnya. Kulit rambutan misalnya, kalo dimakan ya gak mungkin karena pait tapi kalau dibuang ya sayang, makanya makan satu atau dua rambutan pun kulitnya dikumpulin.

kulit rambutan

Begitu juga kalau makan-makananan yang lain, seperti ketela rebus, lemper, tape dan lain sebagainya kulit atau bungkusnya ya dikumpulin.

kulit tela, lemper, tape

Buat apa sih sisa makanan atau kulit buah dikumpulin? buat ini loh:

gini lebih bermanfaat

Ceritanya sejak dulu dirumah saya selalu memelihara kambing, tapi kambing itu tujuannya bukan untuk ternak loh ya, sekedar untuk menghabiskan sisa-sisa makanan saja. Dan tiap tahun kambingnya selalu berganti-ganti, kenapa? karena ketika Idul Adha (qurban) kambingnya dijual, terus beli lagi yang ukuran kecil, lalu nanti waktu qurban kan sudah gede kemudian kambing itu dijual lagi, beli baru lagi dan yang sedemikian rupa sudah berlangsung sejak bertahun-tahun silam. Jadinya kalau pas jeda kambing baru belum datang gitu rasanya aneh kalau buang-buang makanan atau kulit buah sembarangan karena ya itu tadi sudah terbiasa kalau makan sesuatu kulit atau sisanya dikasih ke kambing.

ponakan lagi narsis bareng pepayanya

Apalagi ditempat saya ada buah yang sampai serasa bikin bosen yakni pepaya dan pisang, nah kalau gak sempat kemakan maka kambing itulah yang akan menghabiskan. Ibaratnya kalau makan dedaunan biasa itu mungkin serasa kita makan di angkringan, nah kalau kambing itu makannya pisang atau pepaya mungkin serasa kita makan di restoran kelas kakap.

Hal sederhana yang dapat saya petik adalah yang pertama bahwa tanah kita itu begitu ajaib, dilempari biji-bijian pun bisa tumbuh dan berbuah, jadi kenapa kita enggan bercocok tanam? kenapa pula lahan-lahan kini justru gencar disulap menjadi perumahan atau sejenisnya?

Lalu yang kedua, apa yang menurut kita sampah, sebenarnya masih bisa berguna bagi yang lain, misal kulit buah atau sisa makanan masih bisa buat makanan kambing. Dan aslinya sangat menguntungkan, karena sisa makanan tidak menjadi sampah dan nantinya si kambing bisa dijual atau disate sendiri. Jadi coba deh, dari pada sisa makanan, sayur atau buah dibuang menjadi sesuatu yang menimbulkan bau busuk atau menjadi sampah mending pelihara hewan yang bisa menghabiskannya.

Gak hanya sisa makanan, buah atau sayur saja sih yang dibuang sayang, plastik-plastik kemasan seperti dibawah ini aslinya kalo dibuang juga sayang, mendingan dikumpulin.

Kenapa sampah plastik seperti itu dikumpulin? karena kalau dibuang sembarangan itu berarti nyampah dan plastik kemasan itu biasanya mengandung campuran alumunium yang susah terurai dalam tanah. Maka dari itu baiknya dikumpulin, kalau bisa bikin sesuatu ya dibikin saja menjadi produk kerajinan tapi kalau tidak bisa ya serahkan saja ke Bank Sampah. Kalau saya sih, dibuat sesuatu sendiri meski masih belajar dan hasilnya masih sederhana seperti yang pernah saya share sebelumnya, seperti ini:

Saya mengumpulkan sampah plastik itu aslinya juga sekedar ikut-ikutan saja, dimana tahun kemarin saya pernah mengunjungi acara dimana ada sebuah bank sampah yang mempertunjukan beragam hasil karya yang unik-unik dari sampah plastik. Saya tertarik dan mencobanya sendiri, selain membiasakan diri untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan juga bisa untuk ajang belajar membuat hasil karya.

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recycle, think first”

10 COMMENTS