The Circle Of Life

0
1566

Awal tahun 2014 yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi Ocean of Life Indonesia (OLI). OLI merupakan sebuah lembaga yang bergerak di bidang konservasi lingkungan sekitar pantai Watu Kodok (Gunung Kidul, Yogyakarta) sejak tahun 2011. Selama dua hari satu malam saya menginap di basecamp OLI yang tepat terletak di pinggir Pantai Watu Kodok. Di sana saya mengenal OLI dan berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Waktu yang singkat memang, tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Kehidupan kita (manusia) mendukung kehidupan makhluk hidup lain, dan kehidupan makhluk hidup lain mendukung kehidupan kita (manusia). Itulah lingkaran kehidupan, the circle of life. Begitu kira-kira filosofi semangat yang saya dapat selama berkegiatan di OLI. Hal ini saya sadari ketika makan malam. Masih ingat betul di kepala saya, lauk pauk apa saja yang di hidangkan malam itu. Nasi putih, ikan goreng, sup daun kelor, sambal, tempe goreng, dan tahu goreng. Menu yang sangat sederhana tetapi bagi saya sangat lezat rasanya. Lezat karena saya tahu bagaimana dan dari mana memperoleh bahan-bahan makanan itu.

DSC01679
Basecamp OLI

Beberapa jam sebelum makan malam, saya dan rombongan berkesempatan berkeliling basecamp OLI. Di sekitar basecamp yang terbuat dari kayu itulah, bahan-bahan makan malam didapatkan. Di belakang basecamp terdapat lahan yang biasa mereka gunakan untuk bercocok tanam. Mereka menanam cabai, tomat, dan hijau-hijauan lainnya. Bukan hal yang mudah menanam sayur mayur di sana. Maklum sebagian besar wilayah Gunung Kidul adalah tanah kapur, atau sering disebut tanah karts. Jadi, sebelum menanam bibit sayur mayur, terlebih dahulu mereka menyiapkan medianya (tanahnya) supaya cocok untuk ditanami. Maka tidak jauh dari lahan bercocok tanam terdapat Omah Bibit, fungsinya untuk menyusun komposisi tanah yang cocok untuk tanaman yang akan mereka tanam. Supaya hasil kebun tidak diserang hama, mereka menyemprotkan pestisida cair yang terbuat dari buah Maja. Kawan-kawan OLI sama sekali tidak menggunakan bahan kimia dalam bercocok tanam. Selain tidak ramah lingkungan, bahan-bahan kimia bisa saja menempel sayur mayur yang akan dikonsumsi.

IMG_1157Memahami proses panjang untuk menanam dan mengolah sajian malam itulah yang membuat makan malam semakin berkesan. Baru kali itu saya makan makanan dengan bahan-bahan yang tidak di beli dari pasar atau supermarket. Nasi putih dari hasil lahan pertanian tetangga, sup daun lontar dari dedaunan sekitar basecamp OLI, ikan dari nelayan yang selesai melaut, sambal dari cabai dan tomat kebun sendiri. Semuanya diolah tanpa menggunakan penyedap rasa. Menu sederhana tadi disajikan di atas piring terbuat dari anyaman kayu yang telah dilapisi daun pisang atasnya. Dengan ditemani suara deburan ombak, kami menyantap makan malam organik nan sehat dengan lahapnya. Makan malam kemudian ditutup dengan minum teh mint, tentu saja daun mint yang digunakan tinggal petik dari kebun sendiri.

Selain memasak dari hasil tanaman di kebun, OLI juga membuat sirup sendiri. Sirup ini berbeda dengan sirup yang dijual di toko-toko. Buah yang digunakan bukan buah jeruk, mangga, melon, jambu, tetapi buah pandan. Kawan-kawan OLI melihat banyak pohon pandan tumbuh di pinggir pantai sebagai penghalang alami erosi, dan buahnya belum banyak dimanfaatkan. Kawan-kawan OLI kemudian berinovasi membuat sirup buah pandan. Caranya sangat mudah. Buah pandan dipotong kecil-kecil, setelah itu dicampur air dan dihaluskan dengan blender. Buah pandan yang sudah halus dimasak di atas api kecil sambil diberi gula dan diaduk perlahan. Larutan sirup tadi kemudian di saring, dan jadilah sirup buah pandan. Ampas dari sirup buah pandan tidak dibuang, tetapi disimpan untuk dijadikan pupuk. Pokoknya tidak ada kata ‘dibuang’ di OLI. Semuanya bisa dimanfaatkan kembali. Bahkan kotoran yang kita sumbangkan melalui WC di OLI pun dapat diolah menjadi biogas. Pengelohan dilakukan disebuah bangunan beratap kubah. Di sana kotoran manusia dan kotoran hewan ternak yang dipelihara oleh kawan-kawan OLI diolah menjadi biogas.

IMG_1359
Buah pandan yang akan dijadikan sirup
DSC01674
Tempat mengolah biogas

Dua hari hidup di OLI benar-benar membuat saya merasakan apa itu hidup berdampingan dengan alam. Manusia memelihara alam, begitupula sebaliknya, alam memelihara manusia. Bagai mata rantai yang saling membutuhkan, semuanya serba berputar, tidak ada yang terbuang. Sebenarnya kita bisa hidup berdampingan dengan alam seperti yang telah dilakukan oleh kawan-kawan OLI. Syaratnya hanya satu, kalian mau memulainya atau tidak?