Berapa Lama Umur Piringmu?

0
858

Instan dan cepat. Dua kata ini mungkin bisa mewakili trend gaya hidup di era modern. Di zaman dengan tingkat persaingan yang sangat ketat sepeti sekarang ini, kita dituntut untuk melakukan segala sesuatunya dengan cepat sekaligus benar (red: yang karyawan pasti paham banget ini, hihiii), sehingga banyak orang yang sibuk dan tak punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal di luar prioritas hidup mereka.

Namun, semakin meningkatnya masalah lingkungan hidup (seperti global warming, bencana alam, pencemaran lingkungan, minimnya sumber energi dll), mengakibatkan sekedar cepat dan instan saja tidak cukup. Kita juga harus memikirkan gaya hidup yang sehat dan ramah lingkungan (go green) demi menjaga kelangsungan hidup bumi di usianya yang mencapai 4,54 miliar tahun!  (red: kesimpulan para ilmuwan).

Konsep hijau dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan seperti green building, product dan human resources. Salah satu konsep hijau yang menggelitik pikiran saya dan sangat penting untuk dibahas kali ini adalah tentang green product, khususnya produk makanan yang diterapkan dengan semboyan eco food & wise waste (Memakan makan yang bahan, kemasan, dan proses pengolahannya didesain agar ramah lingkungan, minim energi, dan minim sampah).

Perhatian saya setelah mempelajari konsep ini langsung tertuju pada sampah kertas yang selalu menggunung setiap pagi di tempat sampah depan kos. Kertas apakah itu?

Anak kos-kosan, entah itu pelajar, mahasiswa, maupun pekerja pada umunya jarang masak. Entah itu karena sibuk, malas, atau memang tidak disediakan dapur di kosan (yang terakhir ini ngenes banget). Nah, hal ini tentunya membuat tempat makan banyak menjadi incaran anak kos untuk mengisi perutnya. Sayangnya, banyak dari anak kos yang sukanya membeli makan dibungkus dan tidak dimakan di tempat (terutama yang beli makan sendirian, :p). Al hasil, banyak kertas minyak menumpuk di depan kos tiap pagi.

Pola makan dengan kertas minyak seperti ini jika dilakukan satu orang saja dengan asumsi makan 3 lembar sehari maka dalam sebulan bisa membuang 900 lembar kertas minyak. Wow! Bayangkan, Yogyakarta dengan jumlah pendatangnya mencapai ribuan dan tiap tahun terus bertambah, berapa banyak kertas minyak yang terbuang percuma jika kebayakan pendatangnya makan dengan kertaas minyak?

IMG_2077

Namun, derita kertas minyak yang terbuang tak berhenti sampai di sini saja. Pedagang-pedagang makanan pun yang menyajikan makanannya di meja makan dengan kertas minyak. Biasanya mereka menggunakan piring bambu dan dilapisi kertas minyak di atasnya, sehingga selesai makan pedagang tak perlu mencuci piringnya. Tinggal membuang kertas minyak dan piring bambu siap digunakan kembali. Sungguh penggunaan kertas minyak yang kurang bijak dengan umur kertas minyak yang singkat.

IMG_2096

Secara matematis, penyajian konsep ini memang tidak mahal karena biaya kertas seharga sekitar 41 rupiah saja (Harga kertas minyak 1 pak sekitar Rp. 20.500 dengan isi 250 lembar/pak, sehingga untuk satu lembar kertas minyak harganya Rp. 82, padahal satu piring hanya butuh separuh kertas sehingga harga per piringnya menjadi 41 rupiah). Dan dengan penggunaan kertas minyak pedagang bisa meminimalisir tenaga cuci piring dan ongkos air plus sabun untuk cuci piringnya.

Melihat beberapa hal ini, trend makan menggunakan kertas minyak harus dikurangi. Meskipun kertas minyak merupakan bahan biodegradable yang ramah lingkungan karena kertas dan lapisan plastiknya berasal dari alam (kertas dari pohon dan plastik pelapisnya dari lilin/malam tumbuhan). Tapi, bukan alasan bagi kita untuk bebas menghamburkannya karena tiap kertas yang terbentuk, telah dihabiskan sekian massa pohon dengan proses produksi yang panjang dan distribusi yang tidak dekat. Jadi, mari katakan tidak pada piring kertas minyak! Mulai belanja makanan dengan tempat makan sendiri atau meminta makan dengan piring tanpa lapisan kertas minyak.

“Kertas minyak kusayang, kertas minyak ku-eman

#Jogjahijau #Konsumsi Hijau #Don’t (just) Recycle!Think First