3R: Ramah di Mulut, Ramah di Kantong, dan (Tentu Saja) Ramah Lingkungan

0
685

Nusantara kaya akan ragam kuliner pengenyah kelaparan yang tidak hanya menjanjikan kelezatan di mulut, tetapi juga ramah di kantong berkat harganya yang terjangkau, sekaligus bersahabat dengan lingkungan. Sebut saja contohnya satu per satu: botok teri, botok lele tomat hijau, botok jamur tiram, cok genem, pepes tenggiri tahu, gadon udang telur asin, pepes bandeng bumbu kuning, pepes jantung pisang teri, pepes kembung mangga muda, pepes udang bumbu kari, botok jagung muda, dan pepes patin bumbu iris. Sedangkan untuk kudapan, ada lemper, arem-arem, nagasari, dan carang gesing.

Eco friendly food
Eco friendly food

Makanan-makanan tersebut diolah dari bahan dan bumbu yang memiliki asas manfaat terhadap tubuh. Dan, demi mencapai tingkat kematangan yang sempurna, dipilihlah teknik slow cook dengan cara disteam memakai godhong gedhang (daun pisang). Perpaduan antara bahan dasar pilihan, bumbu alami, dan lembar daun pisang diyakini mampu membentuk cita rasa dan aroma yang khas. Dari segi kualitas tak perlu diragukan lagi. Lezat dan sehat. Eco food istilah kerennya.

Konsep eco food pada intinya berbicara tentang bagaimana: bagaimana cara mendapat bahan pangan lokal yang segar, bagaimana mengenali bahan pangan layak konsumsi, bagaimana teknik pengolahannya sehingga ketika dimasak zat gizinya tidak hilang, serta bagaimana sumbangsih pangan tersebut terhadap kelestarian lingkungan.

Dr. Edzard Ruehe, team leader Sustainable Consumption & Production (SCP) Indonesia, dalam presentasinya bertema Eco Food-Wise Waste 17 Januari 2015 lalu menyatakan bahwa bahan-bahan ramah lingkungan adalah bahan yang bersifat lokal, organik, dan tidak berpotensi menimbulkan banyak sampah. Selain itu, Pak Ed, demikian Dr. Edzard Ruehe biasa disapa, mengungkapkan bahwa teknik memasak dengan cara direbus/dikukus dinilai lebih baik daripada dengan cara dibakar/dipanggang maupun digoreng cepat.

Eco food yang melekat pada makanan yang saya contohnya di atas berasal dari komoditi lokal yang mudah didapat di sekitar tempat tinggal pembuatnya, tidak mengandung zat berbahaya bagi tubuh (zat pewarna sintetis dan zat pengawet), dimasak dengan teknik slow cook dengan cara dikukus bersama daun pisang hingga matang sempurna, dan sampahnya mudah terurai.

Salah Satu Penganan yang Terbuat dari Bahan dan Bumbu Lokal. Kemasannya pun Aman Bagi Lingkungan
Arem-arem: Salah Satu Penganan yang Terbuat dari Bahan dan Bumbu Lokal. Kemasannya pun Aman Bagi Lingkungan

Berikut saya paparkan kenapa contoh makanan di atas disebut sebagai makanan yang ramah di mulut, ramah di kantong, dan (tentu saja) ramah lingkungan

1. Ramah di Mulut
Makanan yang telah dicontohkan di atas terbuat dari bahan dasar (jantung pisang, telur bebek, ikan bandeng, ikan kembung, udang jerbung, ikan patin, teri, lele, jamur tiram, dan jagung muda) dan bumbu-bumbu asli pilihan (bawang merah, bawang putih, merica, daun kemangi, daun salam, cabai merah, kunyit, lengkuas) yang kaya akan manfaat bila disantap.

Makanan juga dimatangkan secara konstan hingga benar-benar matang, antara 30-45 menit untuk pepes dan kawan-kawannya dan berkisar antara 20 menit-1,5 jam untuk lemper dan kawan-kawannya. Tingkat kematangan ini sekaligus berfungsi untuk mengawetkan makanan sehingga tidak mudah basi walaupun tanpa sentuhan pengawet sintetis.

2. Ramah di Kantong
Berdasarkan bahan-bahan yang digunakan di dalam resepnya, makanan dan penganan kukus tersebut memakai bahan pangan lokal yang mudah didapat di pasar atau supermarket. Harganya pun terjangkau bagi semua kalangan. Apalagi bila dimasak sendiri di rumah, bisa menekan pengeluaran keluarga, lebih higienis, taste-nya bisa disesuaikan dengan selera keluarga, juga porsinya bisa mengikuti kebutuhan rumah tangga untuk menghindari makanan sisa yang akan terbuang percuma.

3. Ramah Lingkungan
Ketika proses memasak, daun pisang yang dibentuk “tum” atau digulung dimanfaatkan sebagai pengemas makanan dan penganan. Supaya kemasan tidak rusak selama proses pengukusan, bungkusan tum atau gulungan “dikunci” pakai lidi atau tusuk gigi. Tradisi menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan dan penganan telah berlangsung sejak lama, padahal pada zaman dahulu isu pelestarian lingkungan belum segencar sekarang tentunya.

Kenapa pakai daun pisang? Hal ini karena mudah terurai oleh bakteri tanah sehingga mengurangi timbunan sampah penyebab pencemaran lingkungan, menciptakan cita rasa dan aroma yang khas pada makanan, mudah didapat, dan harga belinya yang cenderung murah. Alhasil, tidak hanya aman dikonsumsi, makanan tersebut mampu meminimalisasi jumlah sampah rumah tangga.

Dont (just) recyle, think first” Sesungguhnya, mudah bagi kita membangun kepedulian akan kelestarian lingkungan, yakni dimulai dari apa yang akan kita makan.

#jogjahijau #idehijau

***

Referensi
Dr. Edzard Ruehe. Eco Food-Wise Waste. Materi Presentasi Workshop. 17 Januari 2015.
Tabloid Nova No. 1405/XXVII 26 Januari-1 Februari 2015
Tabloid Nova No. 1403/XXVII 12-18 Januari 2015
Tabloid Nova No. 1394/XXVII 10-16 November 2015
http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/959/carang-gesing#.VMTdoI6x1NM. 25 Januari 2015. 7:14 PM
http://www.griyakuliner.com/botok-jamur-tiram/. 25 Januari 2015. 7:15 PM
http://www.griyakuliner.com/botok-jagung-muda/. 25 Januari 2015. 7:17 PM
http://www.ift.or.id/2013/04/sekilas-tentang-tape-ketan-dan-daun.html. 25 Januari 2015. 8:19 PM
http://www.hersays.com/category/Lifestyle/Let%27s-Go-Healthy/529/Tips-Mengurangi-Penggunaan-Plastik-Dalam-Kehidupan-Sehari-hari. 25 Januari 2015. 8:21 PM
http://ncc-indonesia.com/2005/08/lemper-awet/. 25 Januari 2015. 8:49 PM
http://www.sajiansedap.com/recipe/detail/16006/arem-arem#.VMT1O46x1NM. 25 Januari 2015. 8:53 PM
http://www.resepmasakankhas.com/resep-membuat-kue-nagasari-enak-praktis/. 25 Januari 2015. 9:19 PM