Mengembalikan Pesona Pangan Kebun Sendiri

3
878
cc
buah naga dan mangga

“Jangan buang-buangan makanan. Kalau makan harus habis. Jangan sisa. Nanti Dewi Sri nangis lho.”
Konon, nasehat atau petuah ini sangat manjur dan tenar diera-era masa kecil orang tua saya.
Tidak ada yang salah dengan nasihat ini. Pun mungkin tidak benar juga kalau Dewi Sri atau biasa disebut dewi pertanian bakalan menangis lantaran ada orang yang menyisakan makanannya.
Lepas dari itu mitos atau sebuah kepercayaan yang tidak jelas dasarnya, sesungguhnya nasihat itu tercipta untuk sebuah kebaikan. Tujuannya agar tidak membuang makanan dengan percuma.
Saya pribadi sejak kecil selalu dilatih untuk tidak menghamburkan makanan. Namun begitu besar, pergaulan kadang mempengaruhi seseorang.

*

3Bicara tentang makanan, baru-baru ini terdengar kampanye berdayakan dan komsumsi bahan-bahan lokal. Sejatinya, tidak perlu ada kampanye pun saya sudah dari dulu memakai bahan-bahan lokal. (Seperti tulisan saya sebelumnya, di rumah saya banyak ditanami sayur dan buah, otomatis itulah komsumsi saya setiap hari).

Pernah beberapa kali saya dan teman-teman pergi makan di sebuah restoran. Sedikit cerita, menu yang ada dalam daftar menu ditulis dalam bahasa Inggris. Tidak masalah sih, toh hal tersebut menunjukkan bahwa restoran itu beneran berkelas (meski tidak melulu yang berkelas menggunakan Bahasa Inggris).

Hanya yang menarik perhatian saya sebenarnya adalah bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat menu tersebut. Menunya memang terhampar dengan cantik dan bolehlah bernama kebulean, hanya saja ternyata setelah diterjemahkan dan dirasakan lidah, makanan tersebut sebenarnya adalah makanan lokal. Namanya saja yang bule, rasanya tetap sama saja.

Hal ini bukan sekali dua kali terjadi, tapi sering. Boleh dibilang sebenarnya ini menunjukkan bahwa bahan-bahan lokal sejatinya sangat berpotensi untuk dikembangkan didunia kuliner. Kalau ada yang gengsi belanja sayuran ke pasar karena dirasa dagangan pasar adalah produk lokal kurang berkualitas, mulai hari ini wajib merubah pandangan.

Juga yang terkadang sering membandingkan produk impor dan lokal, agaknya mulai hari ini kudu lebih bijak lagi. Karena perlu diketahui tidak selamanya produk impor itu lebih bagus dari produk lokal.

 

5

Bahkan jika mau mencermati prosesnya, kita harusnya lebih bangga dengan produk lokal. Secara logika, produk lokal sejatinya jauh dari unsur-unsur kontaminasi. Lebih mudahnya, kita ambil contoh daging sapi. Daging sapi yang bagus adalah yang segar tanpa pengawet dan kalau bisa diambil saat itu juga usai disembelih. Jika begitu tentu saja daging lokal lebih memungkinkan untuk didapatkan dalam keadaan segar usai sembelih. Sedang daging impor tentu saja tidak bisa, sebab daging impor disembelih di negaranya sana, dan untuk sampai di sini tentu harus melewati proses sterilisasi yang ketat. Daging impor justru rentan dengan zat-zat anti pembusukan. Tanpa bahan-bahan pengawet mustahil seonggok daging bisa berpindah negara dalam keadaan segar dan sehat.

So, bisa diambil kesimpulan sendiri mana yang lebih sehat, daging lokal atau impor?

Selain daging, ada contoh lain, yaitu sayur dan buah. Percayalah, buah yang paling nikmat adalah buah yang matang di pohon. Sayur yang sehat adalah sayuran yang bebas dari pestisida. Lantas bagaimana mungkin buah impor bisa matang di pohon? Logikanya jika buah impor tersebut matang di pohon, maka sampai di tempat kita buah itu sudah dipastikan busuk. Kemungkinan yang lain, buah impor tersebut dipetik belum dalam keadaaan masak seutuhnya. Barulah dalam perjalanannya dari negara asal ke negara kita, buah itu diberi semacam zat kimia yang bisa membuatnya matang sempurna dan tidak cepat busuk. Secara tidak langsung dengan membeli buah impor kita juga membawa sisa zat kimia tersebut untuk kita.

Permasalahannya, dalam urusan makan memakan, lebih tepatnya urusan konsumsi sehat dan benar, tidak hanya berhenti pada bahan dasarnya saja. Melainkan teknik/ cara pengolahannya juga.

Jika telah memilih bahan-bahan terbaik (ingat terbaik tidak mesti termahal juga tidak mesti hasil impor) langkah selanjutnya adalah bijak dalam mengolahnya. Percayalah, sebaik apa pun bahan utama calon masakanmu, kalau salah dalam mengolah maka rasanya juga kadar gizinya bisa saja tak tampak.

Setelah terbiasa memilih bahan lokal, selanjutnya masak dengan cara yang benar. Biasakan gunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Jangan banyak menghabiskan bahan bakar.

Dan yang tidak kalah penting dalam bahasan tentang makanan adalah jangan sekali-kali menyisakan makanan. Berpikirlah bijak sebelum memulai memesan/ mengambil makanan.

Sejatinya bicara tentang kebutuhan pokok utama manusia yang satu ini sangatlah sensitif. Mungkin kita pernah karena terlalu kekenyangan maka dengan rela menyisakan makanan di atas piring. Makanan itu sudah menjadi makanan sisa, sangat tidak elok jika dikonsumsi yang lain. Sementara di tempat lain, mungkin seseorang kedapatan belum makan lebih dari tiga hari. Kita kadang melukapan atau tepatnya tidak peduli akan hal-hal sensitif ini.

Maka saya sangat setuju ketika di sebuah restoran menetapkan kebijakan baru, memberi denda kepada pelanggan yang kedapatan menyisakan makanannya.

n
buah-buahan lokal lebih segar dari buah import

Sebenarnya ada tips sederhana agar kita tidak menyisakan makanan. Yaitu antara lain:
1. Pilihlah makanan yang benar-benar kita inginkan. Jangan sekali-kali pilih makanan yang tidak kita mau.
2. Ambillan/ pesanlah sesuai kebutuhan. Jangan mentang-mentang bisa memesan banyak makanan terus pesan banyak-banyak. Percayalah hal ini tidak akan membuat gengsimu makin tinggi di hadapan teman-teman.
3. Jika memang tidak mendesak, pesan makanan untuk dibawa pulang saja. Hal ini akan menyelamatkanmu dari membuang makanan. Biasanya jika dibawa pulang, porsinya bisa dibagi-bagi, mungkin untuk makan nanti atau untuk dibagi dengan anggota keluarga yang lain.
4. Dari pada jajan, lebih baik kalau kita bawa bekal dari rumah. Selain hemat hal ini juga untuk mengontrol makanan apa saja yang seharusnya kita makan.
5. Mengenai produk lokal, mulai sekarang biasakanlah untuk mengkonsumsi bahan-bahan lokal. Selain lebih sehat juga akan membantu para petani kita.
6. Jangan mudah terkecoh dengan label produk impor, sebab bisa jadi apel yang kemasannya bertulis impor padahal aslinya itu hanya dari kebun di Malang. Sebagai komsumen kita hendaklah teliti, bijak dan pintar.

Tidak susah sebenarnya untuk memilih hidup sehat dan bijak. Semuanya akan mudah jika kita sadar akan konsekuansi jangka panjangnya.

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recycle, think first”

3 COMMENTS

  1. Denda karena tak menghabiskan makanan? Waaah, mesti diimbangi dengan kualitas rasa makanan dan layanan yang proma dari restoran itu. Kan kadang2 ada tuh yang nggak ngabisin makanan karena ternyata rasa makannanya nggak oke.

    Tapi intinya sih, aku setuju: habiskan makanan di piringmu. Lebih baik makan dalam porsi kecil aja dulu. Kalo kurang, tinggal nambah. Daripada langsung porsi besar terus nggak abis….