Makanan Adalah Penyembuh Utama

0
739
Menu Gudeg
olahan bahan-bahan lokal

 

Pernah dalam perjalanan bedah buku saya dan editor makan siang bersama di sebuah restoran. Itu adalah pertama kalinya saya makan bersama sang editor.
Ada yang menarik dari gaya makan editor tersebut. Piringnya hanya berisi ayam goreng dan beberapa sayur. Beliau menikmati makan siangnya dengan begitu nikmat sementara saya tidak bisa untuk tidak berhenti menatapnya. Hingga akhirnya saya pun mengeluarkan pertanyaan yang terlanjur tidak bisa dibendung lagi, “Mas, sampean nggak pakai nasi?”
Sang editor tersenyum, lalu menjawab, “Aku sudah sepuluh tahun tidak mengkonsumsi nasi.”
Mendengar jawaban itu saya langsung diam (sambil menelan makan siang yang sudah lumeh di mulut).
“Bagaimana bisa tidak makan nasi?” kejar saya. “Mana bisa ada tenaga.”
“Jika aku paksa makan nasi, tubuhku akan menolak. Aku akan baik-baik saja dan bisa konsentrasi jika makan tanpa nasi. Jika sampai makan nasi, tubuhku justru akan sakit. Lagian aku sudah mengganti karbohidratku dengan bahan lain. Aku bisa makan telur, kentang atau singkong.” Saat itu saya langsung ingat tiwul yang sering tersaji di rumah.
Editor itu usianya lima belas tahun lebih tua dari saya, namun kondisi fisiknya mengabarkan bahwa ia hanya terput beberapa tahun di atas saya. Beliau bilang bahwa yang membuatnya awet muda adalah makanan yang masuk ke dalam tubuhnya bukan sembarang makanan melainkan makanan pilihan, diantaranya bukan nasi putih.

1Kisah yang lain terjadi pada sahabat saya yang juga seorang editor. Dia anak kost. Pola makan dan asupan gizi anak kost selalu menjadi “sorotan” karena dirasa jauh dari nilai gizi dan terbilang serba seadanya (yang penting murah dapat banyak).
Hal itu juga berlaku bagi sahabat saya. Bertahun-tahun jadi anak kost, konsumsi utamanya adalah mi dan minuman instan.
Hingga suatu hari ia merasa tubuhnya sakit luar biasa. Ia dengan terpaksa pergi ke dokter. Terkejutlah ia lantaran dokter bilang bahwa ada benjolan di kedua payudaranya. Selama ini dia seorang vegetarian, jadi sangat kaget jika dibilang punya benjolan tersebut. Dokter bilang jika benjolan itu bisa terjadi akibat efek samping dari makanan yang selama ini dikonsumsinya.
Dokter menyarankan agar sahabat saya itu operasi, namun sahabat saya memilih untuk tidak melakukannya. Bukan hanya karena faktor biaya tapi juga karena dia masih lajang.
Lalu dari bertanya sana sini, ia menemukan satu solusi untuk mengatasi sakitnya. Sejak dua tahun yang lalu ia mulai stop mengkonsumsi makanan instan. Ia hati-hati memilih makanan. Ia jauhkan dirinya dari MSG. Beberapa kali saya disororin masakannya yang tidak berasa karena memang tidak dibumbui. Dan ia mulai membiasakan diri dengan food combining/ FC. Saban hari selalu mengkonsumsi buah. Rutin membuat jus buah.

Sejak melakukan hal-hal itu ia merasa kalau tubuhnya semakin hari semakin membaik.
Dengan saya ia bilang, “Menyenangkan makan makanan yang bisa menjadi penyembuh. Seharusnya sudah sejak dulu aku makan seperti ini.”
Saya sedang tidak menulis kisah sukses seseorang melawan penyakit. Saya juga tidak sedang menulis tentang artikel kesehatan. Saat ini saya hanya sedang berbagi pengalaman tentang betapa pentingnya memperhatikan apa-apa yang kita konsumsi. Sebab, kalau bukan diri sendiri siapa lagi yang akan menjaga diri pribadi.
Pernah suatu hari saya dengar, “Kesehatan atau penyakit seseorang bisa dipredisksi dari makanan yang dikonsumsinya.”

qqq
tampak menu makanan yang dikomsumsi sahabat saya. bahan-bahannya dibeli di pasar dekat kost

Dengan memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh secara bijak dan cermat berarti sudah masuk dalam kategori menyayangi tubuh.
Mungkin jaman dulu kita kenal dengan semboyan ‘Empat Sehat Lima Sempurna’, pada kenyataannya semboyan itu mengarah ke konsumsi apa saja yang seharusnya masuk ke dalam tubuh. Seperti yang dialami sahabat saya, bahwa makanan yang kita konsumsi ada kalanya bisa menjadi sumber penyakit jika tidak diperhatikan dengan jelas. Pun juga bisa menjadi sumber penyembuh utama jika kita paham sebelumnya.
Saya beruntung sejak kecil dikenalkan dengan makanan-makanan olahan dari lahan sendiri. Saya yakin orang tua saya tidak bermaksud untuk menciptakan kebun organik. Beliau hanya memanfaatkan lahan yang kami punya untuk ditanami berbagai macam sayuran. Pada akhirnya sayuran dan buah dari kebun sendiri cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan.
Sejak lahir hingga hari ini, saya tidak pernah disuruh ke warung untuk beli beras. Nasi di rumah terpenuhi dengan panenan tiap tahun dari ladang sendiri.
Jika orang-orang ribut membicarakan harga cabai yang melambung, ibu masih tetap bisa memasak pedas hanya dengan keliling pekarangan, pohon cabai mudah dijumpai.
Karena seringnya dimasakin dengan bahan-bahan yang terbilang itu-itu saja (pokoknya yang ditanam di kebun), dulu saat sekolah saya pernah protes. Saya sering mengeluh ingin makan makanan lain yang seperti teman-teman makan. Misal mi instan, cemilan dengan bumbu-bumbu pedas/ gurih dan makanan lain yang pastinya tidak tumbuh di kebun.
Saat itu saya tidak paham jika makanan-makanan itu kedepannya bisa menyebabkan kengerian yang luar biasa. Kalau dipikir-pikir, ibu saya sudah benar dalam memberikan asupan kepada saya. Beliau tidak repot-repot menyetok mi instan, saus/kecap atau bahan-bahan instan lainnya. Yang beliau stok justru benih-benih sayuran/ buah yang nanti akan ditanam di kebun dan sampai masanya nanti akan bisa siap untuk dimasak. [MIN]

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recycle, think first”