Mengupas Pasar Organik Diacara Green Bike & Foto Rally

5
908

Minggu 18 Januari 2015 saya mengikuti acara bersepeda bareng SCP (Sustainable Consumption and Production), peserta ada dua bagian, yang pertama foto rally dimana persertanya adalah orang-orang yang berkecimpung didunia fotografi, sambil bersepeda mereka ditantang menyelesaikan soal-soal dengan jawaban berupa foto.

Lalu yang kedua adalah peserta green bike, sambil bersepeda peserta ditantang menjawab soal, belanja produk hijau hingga foto selfie. Mereka yang sukses menyelesaikan tantangan dengan benar, akan mendapatkan hadiah. Nah, saya ikut yang green bike tapi sedari awal saya sudah gagal paham terlebih saya gak suka selfie, jadi bagaimana saya bisa menyelesaikan tantangan?

Ibarat acara-acara dunia lain di tv-tv itu, begitu kamera nyala saya langsung melambaikan tangan ke arah kamera dengan kata lain saya menyerah dan memilih tidak ikut kompetisi. Namun demikian saya tetap ikut menikmati acara bersepedanya. Saya tetap mampir ke pos-pos sesuai yang ada disoal tantangan dan dari sekian pos itu, ada sebuah pos yang menurut saya paling menarik yakni pasar organik di studio kersan.

sayur dan buah pasar organik diacara green bike – foto rally, Minggu 18 Januari 2015 || @mbak_widha

Saat yang lain heboh menyelesaikan tantangan, saya hanya bengong bersandar disebuah tiang sambil melihat-lihat saja, dimana selain ada para peserta foto rally dan green bike yang sibuk menyelesaikan soal-soal mereka, disitu juga ada kompetisi ibu-ibu yang ditantang belanja dari pasar organik itu dan memasaknya saat itu juga.

ibu-ibu sedang memasak produk dari pasar organik || foto @mbak_widha

Disela-sela ibu-ibu memasak bapak Dr. Edzard Ruhe selaku team leader SCP sempat menyampaikan beberapa hal terkait Eco Food. Diantaranya menganjurkan mengunsumsi makanan entah buah atau sayur yang lokal, kenapa? Karena dengan lokasi tanam ditempat terdekat buah atau sayur itu pasti lebih segar dan dari segi distribusi juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghamburkan banyak BBM. Misalnya saja, sama-sama makan apel, mending beli apel lokal yang lebih enak rasanya, lebih murah, lebih segar dari pada apel dari luar daerah atau bahkan dari luar negeri yang biasanya sudah tidak segar, rasanya sudah tidak enak, harganya mahal, selain itu dalam perjalanannya membutuhkan banyak bbm jadi tidak ramah lingkungan.

Selain itu juga menganjurkan mengonsumsi makanan organik, kenapa? Yang pasti lebih sehat, karena makanan organik itu biasanya tidak mengandung pestisida, anti jamur, tanpa antibiotik, tanpa bahan pengawet, lebih segar dan yang pasti yang pangan organik itu pasti lokal. Yang jelas tidak dianjurkan banyak mengonsumsi “junk food”.

Nah, selain soal makanan yang lebih bagus produk lokal dan organik itu dalam hal memasak pun dianjurkan yang ramah lingkungan, seperti apa? Misalnya, memasak makanan itu paling bagus yang dikukus atau direbus, kalau digoreng ya makanan yang digoreng cepat sehingga tidak banyak menyerap minyak. Lalu untuk memasak lebih baik menggunakan gas ketimbang listrik, kenapa? Karena kalau pakai gas pemanasan lebih cepat, bila dimatikan ya langsung padam nah kalau pakai listrik untuk memanaskan pun butuh waktu, bila dimatikan masih ada sisa-sisa panas sehingga banyak energi yang terbuang sia-sia. Mencuci peralatan masak pun harus hemat air, misalnya dengan menyiapkan dua bak air, satu untuk menyabun satunya lagi untuk membilas, kalau mencuci dengan air kran yang mengalir secara terus menerus itu tentu lebih boros air jadi tidak ramah lingkungan.

Pesan penting yang dapat saya petik dari pasar organik itu adalah komsumsilah produk lokal! Bukan cintailah produk lokal loh ya, karena ada petatah bilang “cinta tidak harus memiliki”, itulah mengapa sering kali orang bilang cinta tapi tidak memiliki jadi produk yang dia konsumsi dari luar semua, berasnya dari Vietnam, apelnya dari Amerika, ikannya dari Hongkong, kentang gorengnya dari Singapura, rotinya dari Aautralia dan lain sebagainya. Betul enggak?

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recycle, think first”

5 COMMENTS