Di Bawah Balutan Bunda Alam

0
807

Yogyakarta, kota sejuta budaya. Makna filosofis sangat terkandung disetiap perilaku masyarakatnya. Kita mengenal istilah manunggalit kaulo lan Gusti, kesatuan antar manusia dan pencipta lewat sumbu imaginer, membentang dari pantai selatan hingga ke Gunung merapi. Kisah kehidupan manusia digambarkan dengan jelas lewat citra kota gudeng ini. City of fisosofis, sangat tepat disandang oleh wilayah tengah diapit oleh gunung Merapi dan pantai selatan, dengan penyangga sungai Winongo, Code dan Gadjah Wong.

Sebagai citra kehidupan, rumah merupakan gambaran dari penghuninya. Rumah khas masyarakat Jawa pada umumnya adalah Joglo, hampir kita temui disetiap sudut kota dengan tampilan tradisonal maupun modern.

Bertandang ke wilayah desa wisata Pentingsari, sekitar 22 km dari pusat kota Yogya, menyejukan hati tiap pengunjung yang sudi berkenan menikmati keagungan rumah khas Jawa dengan suasana alam nan indah. Beratapkan limasan, dengan 4 tiang penopang dari kayu, menempatkan penghuni sebagai raja didalam istana tradisonal. Bangunan tanpa pendingin ruangan memberi kesejukan lewat elemen tanaman hijau disekitar rumah.

Suguhan depan rumah berupa Pendopo terbuka, memberi sirkulasi hembusan angin bagi penguni yang sudi datang. Pringitan ruang antara pendopo dan ruang utama(dalem), memiliki konstruksi sarat makna bahwa masyarakat jawa yang terbuka. Kebersamaan akan terasa ketika memasuku Dalem ruang utama, sebagai ruang publkik bagi penghuni dan tamu. Kekeluargaan dibangun pada lokasi tersebut, harmonisasi alam dan manusia sangat nampak diwarnai ukiran kayu dan bambu. Rasa betah untuk tinggal dijoglo semakin memimakat ketika masuk ke dalam ruang-ruang tidur, dengan jedela-jendela yang cukup lebar. Rasa panas tak akan dirasakan karena atap Joglo berasal dari sususnan genteng yang berjejer rapi membentuk limasan.

Hadap depan bangunandi wilayah Dewiperi(Desa wisata Pentingsari), tidak mengikuti aturan utara-selatan, hal ini dikarenakan tata vegetasi sebagai greenbelt bagi kawasan permukiman. Tumbuhan dapat berfungsi ekologis, ekonomi, estetika, sosial budaya, pengarah, pembatasa dan pelindung. Fungsi ekologis sangat terasa karena 60 % wilayah Dewiperi adalah ruang terbuka hijau. Secara ekologis tanaman di wilayah ini dapat meningkatkan kualitas air tanah, mencegah banjir, mengurangi polusi udara, menjaga kelestarian lingkungan, serta menunjang pelestarian flora fauna dan ekosistemnya.Vegetasi yang menjadi sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur mayur, serta bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan. Masyarakat setempat menanam salak, klengkeng, bahkan tabulapot(tanaman buah dan bungan di dalam pot) disetiap halaman rumah, panenan dari rasa cinta lingkungan dapat dikomersilkan bagi kehidupan sehari-hari dan sebagai upaya mewujudkan wisata hijau.

Pandangan visual terhadap elemen tanaman membentuk lansekap permukiman yang asri.

Rumput-rumputan, tanaman penutup tanah, tanaman semak, dan tanaman perdu yang dapat meningkatkan kenyamanan dan keindahan. Perilaku bersahabat dengan alam selalu diwariskan secara turun-temurun, akan menjadi kebiasaan positif, bermuara pada kebudayaan. vegetasi yang berfungsi sebagai wadah interaksi sosial masyarakat dan wadah rekreasi bagi setiap pengunjung Desa Wisata Pentingsari. Salah satu contoh fungsi sosial budaya lokal yang terlihat jelas yaitu dalam pengelolaan kebun salak yang terjadi interaksi sosial antar pekerja, pemilik kebun bahkan pengunjung Desa Wisata Pentingsari, dan wadah rekreasi berupa arena outbond untuk wisatawan.

Tanaman dapat difungsikan pada jalur-jalur akses atau koridor yang memberikan pengarahan atau kejelasan jalur tersebut. Misalanya sebagai jalur penunjuk jalan, memperjelas arah akses, melalui peletakan tanaman. Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai pengarah adalah jenis perdu ataupun tanaman pengarah yang mempunyai bentuk vertikal seperti tanaman pohon kayu. Siat ruang dalam permukiman dapat dibatas dengan tanaman. Tanaman yang dapat berfungsi sebagai pemisah dapat berupa pohon atau tanaman perdu, dengan bentuk profil yang agak vertikal namun mempunyai tajuk melebar, sehingga dapat berfungsi sebagai pembatas. Tanaman sebagai pembatas ruang ini dapat diletakkan sebagai pemisah antara ruang privat dan publik, atau sebagai pemisah antar zona kelompok ruang. Jenis tanaman yang digunakan sebagai fungsi pembatas di Desa Wisata Pentingsari adalah tanaman hias dan tanaman buah.

Tajuk pohon yang melebar dengan daun lebat, bercabang banyak menjadi pelindung dan pembentuk ruang. Fungsi utamanya adalah untuk melindungi kegiatan yang ada di bawahnya.Kebutuhan akan tanaman pelindung dalam suatu suatu lingkungan sangat penting keberadaannya karena dapat memberikan arti penghijauan dengan wujudnya yang rindang dan teduh, sehingga mampu memberikan suasana desa yang sejuk, indah, asri dan tenang. Selain itu dengan adanya tanaman pelindung diharapkan mampu menetralisir berbagai polusi udara yang ditimbulkan dari hiruk-pikuk kesibukan lingkungan Desa Wisata Pentingsari.

Bersatu dengan alam lewat permukiman, khususnya rumah sebagai jati dir memang sudah dikenal sejak zaman nenek moyang. Aplikasi membangun rumah dengan konstruksi kayu, bambu, genteng sangat dekat dengan rumah-rumah tradisonal diseluruh nusantara. Rumah-rumah sekarang sanagat telihat pada bentuk, tidak pada prinsip.

Deretan beton menbentang diseluruh wilayah perkotaaan, walaupun tampilan tradisonal. Tradisonal dalam hal konten dan konteks bukan berarti kuno, namun lebih mengarah pada harmoni antar manusia dan alam. Bernaung dalam balutan bunda alam, sepatutnya dapat dilakukan dengan menempatkan tanaman disekeliling rumah,sebagai ekpresi sesama penghuni ekosistem. Keterbatasan lahan bukan menjadi perosalan, karena tumbuhan dapat ditempatkan pada setiap sudut rumah, bisa melalui pot, atau atap, dan dinding rumah lewat sentuhan sedikit sentuhan inovasi.

IMG_0020

Dewiperi ialah cerminan komunikasi manusia dan dalam, lewat kawasan permukiman hijau. Jika seluruh wilayah di yogyakarta menempatkan tanam disekitar rumah, hawa panas dimusim kemarau akan terminimalisir.Sejuk, asri, akan menjadi mimpi yang harus di wujudnyatakan pada setiap prinsip bangunan.