Ben aku wong cilik, sing penting kuthoku resik

0
840

Pertumbuhan penduduk kota semakin meningkat, mengharuskan timbulnya slum squater pada pudat-pusat kota. Penyediaan lahan perumahan dan permukiman yang layak dan terjangkau belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah ditambah lagi kualitas sarana dan prasarana yang belum dapat memenuhi kebutuhan warga kota. Meningkatknya urbanisasi di wilayah kota berbanding lurus dengan pressure kebutuhan lahan di bidang permukiman. Kebutuhan lokasi hunian yang tinggi, tidak diimbangi dengan ketersedian lahan menyebabkan tingginya harga tanah diperkotaan. Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan terhadap akses lahan, khususnya hak atas tempat tinggal yang terpojongkan bagi kaum menengah ke bawah.   Permasalah tersebut mengakibatkan timbulnya lahan marginal disepanjang bantaran sungan dan rel kereta api sebagai solusi bagi permukiman wong cilik.

Kampung Code berada di pusat kota Yogyakarta, dengan kepadatan penduduk 1000 jiwa/km2, berada pada tiga kelurahan yaitu Terban, Cokrodiningrat dan Jetis. Kepadatan permukiman di bantaran Kali Code merupakan akibat arus urbanisasi dan kebutuhan akan housing di Kota Yogyakarta oleh kalangan menegah ke bawah .Wilayah ini merupakan kawasan pemukiman yang berada di lahan milik sultan (sultan ground) dan memang diijinkan oleh sultan untuk ditinggali. Kawasan hunian di Kali Code juga bersebelahan dengan pemakaman Cina di wilayah Sendowo yang kini dipadati oleh kos-kosan. Lokasi strategis, menjadi faktor penarik bagi seluruh masyarakat, karena kedekatan akses menuju pusat kegiatan.

Kondisi memprihatinkan sebelum tahun 1984, Sungai Code menjadi kawasan mepe(mepet bokong), atau MCK komunal bagi masyarakat sekitar. Bukan hanya MCK, sungai menjadi tujuan akhir pembuangan sampah para penghuninya. Kurangnya ketersediaan fasilitas permukiman, menjadikan wilayah ini semakin kumuh oleh kesemrawutan perilaku masyarakat. Ditambah lagi dengan akar budaya lewat lirik lagu dolanan e.. asune mati, guwa neng kali(anjingnya mati, buang di sungai), semakin merusak citra kawasan sungai Code

Adalah Y.B. Magunwijaya, pelopor pemukiman bagi kaum menengah kebawah di bilangan Kali Code. Keprihatinan Romo Mangun terhadap masyrakat miskin dicurahkan lewat pembenahan kawasan permukiman. Perbaikan fasilitas berupa sanitasi, distribusi air bersih, persampahan dilakukan bersama-sama masyarakat, merubah wajah Code semakin manusiawi.

Kejernihan air sungai berubah dari keruh menjari bening, nampak terlihat kala tampak depan bangunan menghadap ke sungai. Terbesit dalam pandangan pemerhati kota akan konsep water front city.Konsep ini sebenarnya sudah ada diwilayah Code. Sungai bukan menjadi tempat sampah, melainkan lingkungan dengan estetika menarik dan nernilai tinggi(view landscape). Pemanfaatan air dilakukan secara optimal oleh masyarakat dengan krasi filterisasi air minum. Elemen alam juga dihadirkan lewat urban farming berupa kebun mini dengan media pipa paralon. Prinsip masyarakat ben aku wong cilik, sing penting kaliku resik(walaupun aku orang kecil, yang penting sungaiku bersih) tetap dipertahankan oleh masyarakat sekitar.

Green Building dimaknai sebagai sistem orientasi bangunan yang mengedepankan alam bukan sebagai tempat pembuangan akhir, namun menjadi view bagi penghuni bangunan. Memiliki hati terhadap lingkungan, sebuah upaya dalam mencipkan kawasan hijau dengan menghemat sumberdaya alam. Sirkulasi air dari sungai, dimanfaatkan ke dalam rumah tangga, difilterisasi lalu dialirkan ke sungai, adalah rantai asrinya lingkungan permukiman. Tanaman dapat hadir lewat berbagai bentuk, menanam di lahan sempit oleh wong cilik di Code, menjadi refleksi bagi kita, apakah sahabat sudah mencoba menghadirkan alam dalam rumah? Ataukah rumah dengan hiasan tanaman plastik ? Sistem pemanfaatan water supply dan water supply dan water purifier, contoh dari bentuk penghargaan akan nilai tertinggi air didalam rumah. Air memiliki jiwa seperti manusia, yang perlu diperlakukan sebagai salah satu penghuni rumah. Pemanfaatan air secara mandiri, bukti bahawa kawasan Code sudah mencoba menerapkan green building. Teringat akan salah satu perkotaan NIMBY(not in my back yard=jangan dibelakang halaman rumah saya) atau membuang sampah sembarangan bukan menjadi prinsip kaum marginal di Code, kesadaran akan kebersihan lingkungan esensi dari hati yang pedeuli akan alam. Code merupakan kampung kota, kota kampung, mayarakat kampung yang tinggal dikota, namun prinsip kota(terpelajar) ada di pribadi orang kampung. Walupun aku orang kecil yang penting kotaku bersih, hati yang tulus untuk merawat kota, sudahkah anda miliki??

Living with nature