“Rumah gede, tinggi, gak bermodel”, tapi …

3
1021

“Rumah gede, tinggi, gak bermodel”, itulah point keluhan yang sering saya lontarkan ke bapak kala saya masih kecil dan belum paham kenapa rumah yang saya tempati demikian adanya. Dibilang luas yah memang luas, bahkan mungkin kalo dibikin rumah model sekarang bisa dibikin 3 rumah. Dibilang tinggi yah memang tinggi, bahkan jarak antara lantai hingga langit-langit kalo dibikin hotel-hotel seperti di Jogja sudah bisa jadi lantai 2. Dibilang gak bermodel yah memang gak model blas, bahkan mungkin didunia ini gak ada yang menyamai. Yah, memang rumah tempat saya tinggal jauh beda dibanding dengan rumah-rumah sekarang yang cinderung kecil dengan model-model yang bagus.

Tapi kemudian saya bisa memahami kenapa rumah yang saya tinggali itu dibuat tinggi langit-langitnya dengan sejumlah celah dan jendela dan bila dikupas rumah saya yang modelnya gak jelas itu memiliki sejumlah keuntungan.

  • Tingginya langit-langit atap tidak membuat hawa terasa panas ketika musim panas, meski sulit untuk menjangkaunya dikala membersikan.
  • Genting dari tanah, tanpa eternit dan dengan beberapa genting kaca cahaya bisa masuk rumah sehingga lebih terang, menyalakan lampu hanya kala benar-benar petang misal dimalam hari sehingga hemat energi.
  • Banyaknya celah-celah atau dalam bahasa jawanya angin-angin bikin sirkulasi udara bebas keluar masuk ruangan. Tak perlu AC lagi, sehingga lagi-lagi lebih hemat energi.
  • Ruang terbuka dalam rumah (biasanya digunakan untuk menjemur pakaian), dengan peletakan jendela yang sedemikian rupa sehingga sinar matahari pagi bisa masuk ke rumah walau hanya sejenak, bahkan waktu malam bisa lihat rembulan lewat (kalau pas lagi lewat)

Yah setidaknya meski rumah lawas tak bermodel tapi lumayan termasuk kreteria green building, Apa itu green building? Yakni bangungan yang ramah lingkungan mulai dari pembangunan, pemakaian hingga pembuangan.

Bangunan rumah yang ramah lingkungan itu hemat energi dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Hemat energi itu bisa diperoleh dengan tidak menggunakan AC, untuk menyiasatinya bisa dengan memaksimalkan jendela atau celah yang membuat sirkulasi udara lancar. Langit-langit yang tinggi, tidak memakai atap seng atau asbes. Kalaupun terpaksanya menggunakan AC ya pilih yang hemat energi, demikian juga perlengkapan rumah tangga lainnya seperti lemari Es atau pun lampunya pilih juga yang hemat energi. Lalu sisakan tempat untuk penyerapan air, bikin biopori, pembuangan sampah juga diperhatikan.

Satu hal yang kurang ditempat tinggal saya adalah soal pembuangan sampah, dimana tidak seperti dikota ada iuran bayar sampah dan ada petugas yang ngambil sampah itu untuk dibuang ke tempat yang yang jauh dari rumah. Lalu dimana selama ini buang sampah? Kebetulan tempat tinggal saya dekat sungai, jadi sampah tiap hari dibuang dibibir sungai, kala banjir besar lewat sampah bak dijemput secara gratis, sehingga bisa bersih dalam sekejab. Ini adalah penampakan sungai didepan rumah saya yang kebetulan kemarin sampahnya baru saja dijemput sehingga kelihatan bersih.

Tapi terkait soal sampah, sejak bulan Agustus lalu saya tertarik untuk bikin sesuatu dari sampah-sampah plastik yang saya kumpulkan dari sisa-sisa pemakaian sehari-hari, mulai dari plastik bekas pewangi cucian, minyak, mie, kopi, diapers dan yang paling banyak adalah sampah plastik bekas jajanan keponakan saya. Dari sisa-sisa sampah plastik itu awal mulanya tercipta tempat notebook sederhana berjudul “kupinang kau dengan biskuat”. Selanjutnya ingin membuat tempat untuk nyimpen modem, hp dan lain-lainnya, semuanya dari sampah sendiri untuk dipakai sendiri.

Itulah rumah dimana tempat saya tinggal, meski tak bermodel, hemat energi, sejuk tanpa AC, tapi sayangnya ya itu soal pembuangan sampah. Lalu bagaimana dengan tempat tinggal anda? Semoga saja lebih sempurna dan lebih ramah lingkungan.

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recyle, think first”

3 COMMENTS