Filosofi Rumah

3
6011

Adalah tempat kembali setelah seharian letih beraktivitas. Adalah tempat istirahat yang nyaman. Sebuah tempat nyaman untuk berkumpul bersama keluarga. Adalah tempat mencipta, menyimpan dan mengingat kenangan. Adalah tempat ternyaman untuk melepas lelah. Adalah tempat transit sejenak. Sebuah pelindung dari terik surya dan hujan. Adalah investasi yang harus dimiliki setiap orang.

 

Kurang lebih itulah kumpulan definisi rumah bagi sebagian orang. Saya menyebutnya filosofi rumah.

Setiap orang bercita-cita punya tempat tinggal sendiri. Entah itu rumah sewaan, kontrak, kost dan terpenting rumah milik sendiri. Lalu, bertahun-tahun kemudian bisnis perumahan mulai menjamur. Tidak hanya di kota-kota besar, bisnis yang menjanjikan ini juga mulai merambah di desa-desa kecil. Laju pertumbuhan perumahan berjalan cukup spektakuler dan drastis.

Tujuh tahun yang lalu, beberapa kilo dari tempat tinggal saya masih berupa tanah produktif. Ladang-ladang yang biasa ditanami padi, kacang, jagung dan lain sebagainya. Namun hari ini atau tepatnya sejak empat tahun lalu, tanah produktif tersebut telah disulap menjadi hunian kompleks perumahan dengan beberapa bangunan sebagai tanaman pokoknya.

Entah karena uangnya yang besar, sudah tidak sanggup bercocok tanam lagi atau dapat tekanan dari pihak tertentu (hal ini bisa terjadi), petani-petani itu melepaskan ladang produktifnya untuk kemudian dijadikan perumahan oleh pemilik baru.

Sayangnya, kita terkadang kurang memikirkan hari esok. Hari ini biarkan hari ini, esok kita pikirkan nanti. Padahal hari esok sejatinya tidak lepas dari hari ini. Dengan beralihnya tanah produktif menjadi hunian maka beda pula efek yang dihasilkan.

Tidak masalah jika seseorang ingin membangun sebuah bangunan, baik itu rumah mau pun gedung raksasa. Hanya baiknya perlu diperhatikan tentang prosedurnya. Hendaklah tetap berprinsip kepada kebaikan alam.

Kita kadang lupa, mendirikan bangunan di tempat yang tidak semestinya. Misal di hutan dengan cara membabat hutan tersebut, di rawa-rawa tempat biasa air berkumpul, atau mungkin di lahan pertanian subur. Kita lupa bahwa ada hukum sebab akibat. Melupakan alam berarti telah menciptakan permusuhan dengan alam itu sendiri.

So, bagaimana seharusnya membangun hunian?

Saya bukanlah seorang ahli ilmu alam, juga bukan bisnismen, semata-mata hanya orang biasa yang sering menyaksikan atau sesekali merasakan dampak kurang mengenakkan dari konsep hunian bergaya perumahan ini.

Menurut saya, seorang yang ingin mendirikan bangunan haruslah cermat memilih tempat yang pas. Tempat menentukan segalanya. Bagunan hendaknya dibangunan di area yang semestinya. Jangan di tempat milik air, karena ini akan menimbulkan banjir. Jangan di tempat milik tumbuhan, karena ini akan mengakibatkan longsor.

Rumah yang baik adalah rumah yang memiliki resapan air. Jika membangunan rumah, entah itu besar atau kecil, biasakan untuk menyisakan tanah atau halaman yang tidak disemen sempurna. Hal ini berfungsi sebagai penyerapan air. Jika seluruh tanah tertutup semen, akan menyebabkan banjir dan air tanah menjai kering. Kalau takut jeblok alias becek, kita bisa gunakan batu-batu kali atau kerikil-kerikil kecil sebagai penutupnya. Perhatikan pelataran GreenHost tempat workshop (13/12/14) kemarin berlangsung, itu salah satu contoh resapan air yang dibuat cantik, fungsi jelas penataan enak dipandang dan tidak becek.

Pelataran rumah saya juga tidak seluruhnya tertutup semen. Banyak yang masih dibiarkan berupa tanah yang ditanami berbagai macam tanaman.

Membangun tempat penampungan limbah atau septic tank harus jauh-jauh dari sumber mata air/ sumur. Berikan jarak untuk keduanya, sebab limbah dari septic tank bisa mengalir ke dalam sumur. Jika hal ini terjadi, sangat berbaya untuk orang yang mengkonsumsi air tersebut. Air itu sudah tercemar dan menurut ahli kesehatan sudah tidak layak konsumsi. Di rumah, saya juga mempunya sumur. Jarak sumur dengan septic tank ada sekitar enam meter.

Bagi saya, bagunan sehat adalah bangunan yang cukup penerangan, cukup suplai oksigen, cukup nyaman untuk bergerak. Saya mendapatkan itu semua di rumah saya. Rumah dengan konsep limas. Tersedia banyak jendela dan pintu. Hal ini memungkinkan tidak perlu menyalakan lampu di siang hari juga tidak perlu memakai pendingin ruangan, bahkan kipas angin pun tidak diperlukan. Kebutuhan akan listrik bisa ditekan banyak.

Rumah saya—yang usianya lebih tua dari saya—memang sudah sejuk sejak awal. Di sekelilingnya dikerumini dengan tumbuh-tumbuhan; bunga, pohon mangga, sayuran hijau, juga pohon besar semacam jati dan akasia. Hal ini membuat saya betah karena udaranya yang sejuk dan komposisi warna yang menenangkan dan memberi semangat.

Rumah saya sengaja tidak banyak sekat, hal ini membuat sirkulasi udara tidak pengap dan cahaya matahari pagi benar-benar bisa menerobos masuk.

Saya pernah baca artikel jika rumah ingin terasa sejuk maka bisa menggunakan atap dari bahan tanah. Kebetulan atap rumah saya dari genting tanah dan tidak memakai langit-langit. Tidak adanya langit-langit ini membuat atap rumah terasa tinggi sehingga tidak terasa sumpek. Ada beberapa genting yang sengaja menggunakan genting kaca, hal ini sengaja agar dalam rumah terlihat makin terang. Jangan heran jika belum petang, rumah saya masih belum menyalakan lampu.

Masih banyak lagi sikap yang bisa kita lakukan untuk menjaga agar bangunan kita termasuk dalam kategori bangunan ramah lingkungan.

Hendaknya kembali pada filosofi bangunan itu sendiri. Missal rumah. Membangun rumah fungsinya untuk kenyamanan penghuninya. Berarti kita harus melakukan sesuatu agar rumah itu benar-benar nyaman.

Boleh kita membangun rumah, namun selalu ingatlah kembali ke kelestarian alam. Bukan demi siapa-siapa, karena yang kita lakukan sebenarnya akan berdampak pada diri kita sendiri.

Setiap orang punya jurus sendiri untuk menciptakan kenyamanan bagi huniannya. (Keluarga) saya suda menerapkan beberapa jurus sederhana di atas. Lalu apa saja yang sudah Anda lakukan? Boleh saya dibagi jurusnya? [MIN]

#Jogjahijau #KonsumsiHijau #Don’t(just)Recycle!ThinkFirst

3 COMMENTS