Enam Belas Ribu Rupiah Per Bulan

0
1192

Ciri hunian ramah lingkungan adalah hunian yang hemat energi. Tidak boros dalam memakai persediaan energi listrik. Hunian nyaman dan sehat tidak bisa diukur dengan banyaknya penampakan barang-barang bertenaga listrik di dalamnya.

Ramah lingkungan berarti bijak dalam memanfaatkan listrik.

Dari mana kita tahu seberapa banyak listrik yang telah dihabiskan? Dilihat saja dari banyaknya barang yang tersambung ke colokan listrik. TV, kulkas, AC, setrika, dispenser, penanak nasi, penghangat ruangan dan lain sebagainya. Juga bisa dilihat dari tagihan listrik perbulannya.

Saya beberapa kali mengumpulkan struk pembayaran tagihan listrik di rumah. Bukan untuk dikoleksi, tentu saja. Hanya mengumpulkannya saja untuk perbandingan antara tagihan listrik bulan ini dengan bulan-bulan lalu atau bulan-bulan mendatang.

Bulan November lalu, tagihan listrik di rumah saya total bayar enam belas ribu rupiah. Murah? Ya, itu termasuk murah, mungkin paling murah diantara tetangga satu RW. Kenapa bisa seperti itu? Apa karena rumah dibiarkan layaknya gua yang tidak diberi penerangan lampu? Jawabannya, tidak.

Seperti rumah tangga yang lain, keluarga saya juga menyedot energi listrik untuk kebutuhan sehari-hari. Saya menyalakan lampu, menyalakan TV, memakai penanak nasi dengan listrik, memakai pompa air, carger laptop handphone, setrika listrik, radio.

Sama, kan? Apa yang beda? Lalu kenapa bisa tangihan listriknya (hanya) enam belas ribu rupiah?

Saya hanya bisa menjawab bahwa di keluarga kami memakai listrik seperlunya saja.

Menyalakan TV dalam sehari hanya sekitar lima sampai enam jam saja.

Menyalakan pompa air sehari hanya sekali. Kami memakai bak penampungan air. Cukup sekali dalam sehari bak penampungan itu diisi untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih dalam sehari. Jika musim hujan tiba, di rumah sudah menyiapkan bak-bak lain untuk menampung air hujan yang gunanya untuk basuh-basuh.

Menyetrika cukup seminggu sekali dan dalam jumlah banyak. Tidak melulu setiap hari atau setiap mau pergi harus setrika. Ini selain boros listrik juga boros waktu dan energi.

Memakai penanak nasi. Cukup biarkan nasi itu matang selanjutnya copot kabelnya dari colokan. Nasi itu tidak akan basi meski tidak dicolokkan seharian asal saat akan menanaknya harus dicuci dengan cukup bersih. Tinggal nanti jika ingin makan malam cukup dihangatkan/ dicolokkan lagi ke listrik.

Kebutuhan akan radio, carger laptop dan handphone tidak terlalu jor-joran. Sesekali saja dan itu energinya hanyalah kecil.

Keberadaan AC dalam sebuah rumah

Tahukah, keberadaan AC ikut menyumbang pemborosan energi?

Rumah saya tidak perlu repot-repot melengkapinya dengan AC. Sebab selain ventilasinya cukup baik dan memadai juga di sekitar rumah sudah banyak ditanami pepohonan sehingga udara tetap selalu dalam kondisi sejuk. Hal ini seharusnya memang sudah dipikirkan sejak awal perencanaan membangun rumah.

Rumah dan penerangan

Rahasia kenapa rumah saya tidak banyak-banyak bayar tagihan listrik karena lampu penerangan di rumah tidak terlalu banyak. Siang hari tidak perlu memakai cahaya listrik karena rumah didesain dengan cukup asupan cahaya. Pun ketika malam, saat semua beranjak tidur, lampu-lampu yang tampak tidak terpakai dimatikan.

Inilah sedikit yang bisa saya bagikan dari enam ribu rupiah, bukan perkara tentang listriknya, ini tentang cara menghargai alam. Membangunan rumah dengan konsep hemat listrik berarti ikut serta menja alam. Itulah yang sudah saya lakukan. Bagaimana dengan kamu? [MIN]

#jogjahijau #idehijau “Don’t (just) recyle, think first”