Menjaga Keseimbangan Alam

2
10711

Oleh Masduri*)

Manusia selalu mengandaikan kehidupan yang menyejahterakan. Secara sederhana kesejahteraan manusia ditandai, misalnya dengan kesempatan mendapatkan udara segar, air berkecukupan, makan cukup, pepohonan hijau, iklim bagus, dan segenap kebutuhan mendasar yang semua itu bergantung pada kualitas lingkungan yang baik. Tetapi sayangnya, manusia lupa bahwa kesejahteraan hidup itu bergantung pada kehendak diri kita bersama.

Manusia sebagai makhluk paling sempurna mendapatkan anugerah pikiran, yang itu tidak dimiliki oleh makhluk lain di muka bumi. Pikiran manusia itu mampu mengingat yang lalu, berpikir hari ini, dan membayangkan masa depan. Sungguh luar biasa manusia. Tetapi ingat, meski hewan dan tumbuhan tak sesempurna manusia, perannya begitu besar bagi kehidupan manusia. Artinya, manusia tak bisa hidup sendiri tanpa hewan dan tumbuhan. Keduanya bukan hanya berperan besar bagi manusia, tetapi manusia sendiri sejak ada hingga kini hidupnya bergantung pada hewan dan tumbuhan.

Hanya, siapa peduli? Berbagai kerusakan lingkungan akibat kepunahan satwa liar atau pun penebangan hutan sembarangan merupanan penanda bahwa kepedulian manusia terhadap keberdaan satwa dan tumbuhan sangat rendah. Anehnya, ketika terjadi berbagai bencana akibat perbuatannya tersebut, mereka menggerutu tidak jelas, bahkan kadang-kadang lari ke ranah teologis, seolah-olah Tuhan memberikan balak. Mereka lupa bahwa tanggung jawab keberlangsungan hidup manusia di bumi sepenuhnya diserahkan Tuhan pada manusia sendiri. Tuhan telah menyediakan hewan dan tumbuhan sebagai dasar kebutuhan pokok hidup manusia. Selebihnya, manusia harus bisa mengolah dan menjaga kesimbangan alam agar tak terjadi kerusakan seperti bencana dan perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia.

Ancaman kerusakan keseimbangan alam kini semakin nyata, bukan hanya karena pembalakan liar, tetapi juga karena satwa liar yang habitatnya memang di tuhan kini sudah banyak punah. Manusia sering abai tentang pengetahuannya bahwa satwa juga memiliki peranan yang penting bagi keseimbangan alam. Sehingga karenanya kita mesti membangun kesadaran diri untuk menjaga segenap satwa pada habitatnya agar mereka bisa hidup damai dan sejahtera, kita pun demikian mendapatkan manfaat besar dari keberdaan mereka di habitatnya.

 

Peduli Satwa

Kadang kala manusia melakukan hal-hal sederhana, tetapi dapat merusak keseimbangan alam. Seperti memelihara satwa liar. Satwa liar yang tidak dibiarkan hidup di habibatnya akan mengurangi peranan hewan dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Kehadiran hewan-hewan sangat bermakna bagi keberlangsungan hidup. Selama ini betapa banyak manusia yang memelihara burung, ular, macan, singa, penyu, monyet, orang utan, dan satwa liar lain yang sudah dijinakkan.

Mereka yang memelihara seolah-olah tak sadar bahwa apa yang dilakukannya telah turut mendorong kerusakan ekosistem dalam kehidupan. Bahkan anehnya, mereka juga memperjualbelikan satwa liar demi kepentingan komersial. Mereka lupa bahwa jalan hidupnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak uang yang dimiliki, tetapi juga sangat dintentukan oleh seberapa banyak dan seberapa baik kualitas udara, air, makanan, dan ilkim kehidupan.

Sekarang uang memang bisa membeli udara, air, dan makanan, tetapi pada saatnya nanti ketika kerusakan alam terjadi akibat kepunahan satwa di hutan atau pun di laut manusia akan mengalami kerisauan mendalam lantaran tak lagi bisa mendapatkan udara, air, dan makanan yang sehat karena ekosistem tidak berjalan sebagai mana mestinya. Uang tidak akan berarti apa-apa. Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dibeli. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia yang dianugerahkan pikiran harus menjaga anugerah kehidupan yang diberikan Tuhan dengan sangat baik.

Jangan sampai karena nafsu besar memenuhi hasrat pribadi, kesukaan kita memelihara satwa membuat kita alpa bahwa mereka juga berhak hidup bebas untuk ikut serta menjaga keseimbangan ekosistem sehingga kehidupan dapat berjalan dengan sangat baik. Ilustrasi sederhana, kita bisa membayangkan, bagi orang yang suka memelihara orang utan, apakah kita akan merasa nyaman bila kita sebagai manusia dikurung dalam sangkar? Bila kita merasa tak nyaman, begitu juga dengan orang utan, mereka juga tak nyaman. Karena mereka memiliki alamnya sendiri.

Biarkan satwa hidup di alamnya, tumbuhan berkembang biak, dan kita sebagai manusia bisa hidup sejahtera tanpa harus saling mengganggu. Karena semua dari makhluk, baik manusia, hewan, dan tumbuhan memiliki fungsi dan perannya masing-masing. Mari kita jalankan peran kita sebagai manusia dengan sangat baik, sehingga kehidupan ini dapat berlangsung dengan penuh keseimbangan dan kita bisa hidup sejahtera.

*)Masduri, Pengelola Laskar Ambisius (LA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Penulis

Masduri

2 COMMENTS

    • Siap kawan. Terima kasih. Iya salah ketik itu, saya mohon maaf dengan sangat. Maksud saya “habitatnya memang di hutan kini sudah banyak punah”, bukan tuhan sebagai dalam tulisan di atas. Saya sudah tidak bisa mengedit lagi, semoga admin berkenan mengeditnya.