Mari Kita Jaga Rumah Mereka!

0
801

Mari Kita Jaga Rumah Mereka!

Sinar matahari pagi pada Selasa, 9 Desember 2014 waktu itu cukup cerah. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam dari Malang kami pun tiba di lokasi Taman Safari Indonesia II. Saya bersama dengan tujuh teman saya langsung menuju ke Elephant room Taman Safari Indonesia II Prigen tempat workshop lomba blog dan foto yang diadakan oleh harian KOMPAS. Workshop dimulai pada pukul 09.30. dipandu oleh pemateri yang sudah handal dan berpengalaman yaitu Bang Bahana Patria Gupta, wartawan fotografi KOMPAS dan Bang Pepih Nugraha, pengasuh Kompasiana kami diberikan pencerahan mengenai dunia fotografi dan menulis lingkungan hidup.

Setelah workshop selesai, pukul 14.00 WIB para peserta langsung diajak keliling taman safari dengan menggunakan bus taman safari yang dipandu oleh Mas Agus Jati, pendamping kami di grup pertama. Pemandu menjelaskan setiap tempat yang kita lalui dengan sangat detail berkaitan dengan hewan dan habitatnya. Ini adalah pengalaman pertama saya berpetualang di Taman Safari Indonesia II yang terletak di Taman Nasional Gunung Arjuna, Desa Cowek Jatirejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Perasaan bangga dan kagum bercampur menjadi satu ketika melihat satwa-satwa liar di lepas bebas di alam dengan jarak yang sangat dekat. Taman Safari Indonesia II dibagi menjadi beberapa zona; diantaranya zona Amerika, Eropa, Asia, Afrika dan zona baby zoo. Kondisi vegetasi satwa disesuaikan dengan zona satwa aslinya. Sebagai contoh di zona Afrika dibuat terbuka dengan banyak ditumbuhi padang rumput. Sedangkan di zona Asia dibangun bangunan candi sehingga menambah kental nuansa Asia-nya.

Dari sekian banyak hewan asli Indonesia yang berada di Taman Safari II Prigen, ada salah satu hewan yang menarik perhatian saya untuk diulas. Hewan ini mempunyai ciri-ciri tubuh yang sangat mirip dengan manusia. Ya.. orang utan namanya. Tingkahnya yang lucu, suka bergelantungan di pohon merupakan kebiasaannya sehari-hari. Tapi sayang hewan ini sudah semakin jarang kita temukan di habitat aslinya. Orang utan merupakan satwa endemik di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Mawas, nama lain dari orang utan mempunyai dua sub-spesies yaitu Pongo pygmaeus hidup di Borneo dan Pongo abelii hidup di Sumatera. Hewan yang hidup di hutan hujan tropis ini memiliki ciri-ciri tubuh yang gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk, dan tidak mempunyai ekor dengan ditumbuhi rambut merah kecoklatan di sekujur tubuhnya.

Jumlah populasi orang utan, dalam 10 tahun terakhir, berkurang secara masif. Saat ini hanya tersisa sekitar 6.000 ekor, dan hanya bisa ditemui di Sumatera dan Kalimantan. Padahal, sebelumnya jumlah satwa ini mencapai ratusan ribu ekor, yang bisa dijumpai di seluruh wilayah Asia, dari Pulau Jawa di ujung selatan hingga ujung utara Pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan (Tempo.co/25 April 2013). Banyak faktor yang menyebabkan berkurangnya orang utan diantaranya pembalakan liar, kebakaran hutan hingga perburuan oleh manusia yang tidak bertanggungjawab. Kalau hal ini terus dibiarkan maka tidak mungkin kalau 20 tahun lagi anak cucu kita nanti tidak bisa melihat lagi orang utan.

Bersyukur masih ada lembaga-lembaga pemerhati satwa dan balai konservasi hewan masih perhatian pada orang utan. Salah satunya Taman Safari Indonesia II Prigen. Di Taman Safari Indonesi II orang utan berada di zona Asia becampur dengan satwa Indonesia lain antara lain; rusa, banteng, siamang, babi kutil, monyet ekor panjang dan masih banyak lagi. Dengan adanya lembaga konservasi maka sedikit bisa membantu keberlangsungan orang utan. Menurut Pepih Nugraha setelah berbincang dengan pengelola Taman Safari Indonesia II daerah yang paling hijau dibanding dengan daerah lain di sekitar Prigen adalah Taman Safari II. Selayaknya kita tambah area hijau untuk menyelamatkan satwa Indonesia. Mari kita jaga rumah mereka atau habitat orang utan dengan tidak menebang hutan secara membabi buta yang berakibat rusaknya habitat satwa sehingga keseimbangan alam bisa terjaga! Save Orang utan!

 

 

 

Penulis

Oky Sofyan Ardiansyah