Aktualisasi Penyelamatan Satwa

0
561

Kesadaran untuk merawat dan melindungi satwa dalam masyarakat kita khususnya Indonesia sangat minim. Perburuan yang semakin tak terhentikan karena lemahnya pengawasan membuat beberapa binatang asli Indonesia khususnya mengalami kepunahan. Himpitan ekonomi juga turut serta mendasari perburuan satwa yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini pun menjadi landasan bagi pemerintah maupun pihak swasta untuk mendirikan beberapa penangkaran hewan atau kebun binatang. Langkah ini sebagai salah satu bentuk aktualisasi dalam menyelamatkan dan melindungi binatang dari perburuan liar, salah satunya seperti didirikannya Taman Safari II di Prigen, Pasuruan.

Pemanfaatan lahan seluas 350 hektar untuk 200 lebih spesies membuat kawasan ini menarik untuk kunjungi. Penataan kawasan untuk beberapa hewan pun didesain sesuai dengan alam yang sesungghnya. Tidak ada kandang yang membuat mereka terkungkung dengan ruang yang sempit sehingga proses perkembangbiakan dan jangka hidup satwa terjamin. Dalam sebuah perjalanan ‘kunjungan’ satwa salah satu rangkaian dari workshop, lomba blogging, dan fotografi yang diadakan oleh Kompas, 9 Desember 2014 membuat saya ikut merasakan bahwa kelangsungan hidup satwa ini merupakan tanggung jawab besar yang secara tidak langsung diemban oleh petugasnya.

Perjalanan tersebut mengantarkan saya pada sebuah moment di saat petugas ‘penjaga’ memberi makanan kepada tapir. Setelah bertanya kepada pemandu ternyata tapir dengan ukuran kecil ini baru dilahirkan beberapa bulan yang lalu seiringan dengan lahirnya anak gajah. Tapir merupakan hewan asli Sumatera.hewan ini lebih dikenal dengan Tapir Asia. Tinggi Tapir Asia mencapai 90 hingga 107 cm dengan bobot rata-rata 250 hingga 320 kg. Bahkan Tapir Asia terberat adalah 500 kg. Tapir ini merupakan hewan herbivora. Meski memiliki tubuh yang besar namun hewan dapat berlari kencang. Pada umumnya, karakter Tapir Asia adalah kurang menyukai keramaian. Fauna Sumatera ini lebih senang menyendiri. Tapir Asia cukup cerdas dalam membatasi wilayah kekuasaannya agar tidak diganggu oleh kawanan lainnya dengan menyebarkan urine di tumbuhan-tumbuhannya. Sehingga saat mereka bermain-main di hutan, mereka mengenali area dari bau urine tersebut. Tetapi tidak jarang juga area yang ditandai itu adalah bekas milik yang lainnya. (http://www.gosumatra.com/tapir-asia-sumatera/). Tak ayal, ketika rombongan kami memasuki areanya si anak Tapir mulai menjauh. Ketika itu bersamaan dengan munculnya seorang petugas yang member makan.

Keberadaan petugas yang sudah memiliki skill yang bagus dalam merawat satwa di Taman Safari II ikut mempengaruhi kelangsungan hidup satwanya. Perawatan yang baik dan sesuai tidak akan membuat satwa-satwa ini merasa ditelantarkan dan dijauhkan dari dunianya. Maka tak heran jika Taman Safari II ini jauh dari berita matinya salah satu satwa seperti di tempat yang lain. Meski Tapir dapat mencari makanan sendiri karena di area tersebut banyak tumbuhan hijau tak lupa para petugas untuk member rumput sebagai ‘jatah’ makanannya. Hal inilah yang juga menjadi bentuk dari aktualisasi dari penyelamatan satwa. Meski sudah dibuatkan tempat yang bagus dan nyaman namun jika tidak dipelihara dengan baik maka jangan harap satwa itu akan hidup lama.

Penulis

AMINATUN KHARIMAH