Taman Safari dan Lembaga Penitipan Warisan Dunia

0
1008

Sebuah notifikasi di gadget menarik perhatian saya ketika menginformasikan bahwa akan dilaksanakan sebuah workshop dan lomba blog & foto. Kompas sebagai pelaksana acara memilih tema Lingkungan Hidup dan Taman Safari II (Prigen) sebagai tempat pelaksanaannya. Saya semakin semangat untuk hadir karena kunjungan terakhir ke Taman Safari sudah sekitar 16 tahun yang lalu. Tak sabar rasanya menunggu hari H untuk bisa berpartisipasi.

 

 

Tibalah hari dimana saya akan bertatap muka dengan rekan – rekan dari Kompas dan peserta workshop lainnya. Langit yang biasanya gelap dikelilingi awan kelabu menjadi cerah dan membiarkan sinar matahari menghangatkan suasana siang itu. Ruang pertemuan seukuran 3/4 lapangan futsal penuh diisi oleh lebih dari 100 orang peserta dan panitia. Meski datang terlambat, saya melihat workshop ini terbilang interaktif karena banyak pertanyaan yang diajukan peserta kepada pemateri.

 

Setelah materi jurnalisme lingkungan hidup selesai disampaikan oleh Kang Pepih Hugraha, para peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan satu persatu keluar dari ruangan workshop. Ada 3 buah minibus Taman Safari (Bus Safari) yang telah menunggu di tempatnya untuk mengantar peserta berkeliling. Semua yang mengantri dan bergantian memasuki bus terlihat antusias, tak terkecuali panitia.

 

Bus Safari berjalan perlahan dan pemandu memperkenalkan diri kepada para peserta. Penampilannya yang masih muda, tinggi sekitar 160cm, dan berpakaian seragam pemandu sesekali mengajak bercanda para peserta workshop yang ada di bus saya. Para peserta yang berebut mendekat ke jendela bus sambil mengarahkan kameranya menjadi tertawa riuh karena ‘guyonan’ yang menghibur. Selain itu tak terhitung berapa kali peserta berteriak, “Maju dikit pak”, “Mundur dikit pak”, “Stop stop pak” hanya untuk mengabadikan momen-momen satwa koleksi Taman Safari II (Prigen).

 

Taman Safari Prigen yang berada di kaki Gunung Arjuna dibangun sebagai tempat wisata berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas. Tempat wisata  dengan luas 350 hektar atau sekitar 450 kali lapangan sepak bola ini merupakan yang terbesar di Indonesia dan bahkan salah satu yang terbesar di Asia. Koleksi  satwa yang berjumlah sekitar 200 spesies pada 2012 menjadi magnet bagi para pengunjung terutama saat hari libur nasional dan hari libur sekolah. Tak heran jika semua peserta workshop terlihat antusias mengikuti rangakaian acara.

 

Berbicara mengenai pelestarian satwa, pemerintah Republik Indonesia ternyata sudah menjadikannya sebagai sebuah kebijakan nasional lewat UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-undang tersebut sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur pemanfaatan satwa bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia.

 

Selain mengatur pemanfaatan sumber daya alam hayati, Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Pasal 37 dalam undang-undang yang telah disebutkan sebelumnya dengan gamblang menjelaskan peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah sebagai pihak pengelola tempat konservasi ditugaskan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan penyuluhan. Konsep taman wisata alam sebagai tempat rekreasi dinilai efektif untuk lebih menyadarkan masyarakat tentang pentingnya melestarikan lingkungan hidup.

 

Taman Safari memiliki peran besar dalam merealisasikan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Kegiatan penangkaran satwa yang dilakukan oleh pengelola Taman Safari dinilai berhasil karena mampu melahirkan anggota keluarga baru dan membesarkannya hingga menghasilkan keturunan lainnya. Kelahiran Billy (bayi Tapir) dan bayi Gajah Sumatera bahkan menjadi kisah yang dibanggakan oleh petugas Taman Safari yang memandu kami selama tour menggunakan mini bus. Tak heran jika Taman Safari Indonesia mendapat predikat terbaik oleh  Kementerian Kehutanan, LIPI, Akademik, dan Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia.

 

Peran lembaga, organisasi, dsb baik milik pemerintah dan swadaya masyarakat yang memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian satwa tentu harus didukung penuh oleh masyarakat. Tanpa kehadiran dan keseriusan mereka, besar kemungkinan anak cucu kita hanya dapat melihat fosil dan gambar satwa yang kita lihat sekarang. Dengan mendukung lembaga konservasi melalui berbagai bentuk usahanya yang legal, secara tidak langsung kita telah mewariskan keanekaragaman hayati kepada anak-cucu kita. Apa betul jika saya menyebut Taman Safari sebagai lembaga penitipan warisan kita?

 

Sudah sekitar 60 menit Bus Safari yang kami tumpangi berkeliling Taman Safari Prigen. Koleksi mulai dari satwa asli Amerika, Afrika, dan juga Asia telah seluruhnya kami kunjungi menggunakan Bus Safari. Tak hanya menggunakan Bus Safari, kami juga jalan santai mengunjungi koleksi satwa yang kebanyakan berjenis primata, reptil, dan unggas (burung). Meski sekitar 2 jam sudah berkeliling Taman Safari, sepertinya saya butuh perpanjangan waktu. Tak mungkin juga rasanya karena arloji sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB sedangkan Taman Safari Prigen tutup pada pukul 17.00 WIB.

 

Terima kasih Kompas Kampus telah memberi kesempatan berkeliling Taman Safari Prigen. Ingin sekali berkunjung kembali ke Taman Safari Prigen dengan durasi yang lebih lama tentunya. Kalau begitu, adakah yang mau mengajak saya berkunjung ke Taman Safari lagi lain waktu? Hehe

 

Salam lestari dan sukses untuk kita semua..

Penulis

Anom Harya Wicaksana