Mengambil Hikmah dari Cara Hidup Singa

2
25785

Oleh: JUNAIDI KHAB*

 

Kehidupan di dunia ini secara sederhana dibagi menjadi tiga, kehidupan di udara, darat, dan laut. Di udara ada raja yang menguasai secara gagah, yaitu burung elang dari teritori kehewanan dan angin puting beliung atau tornado dari teritori alam. Di laut ada ikan hiu yang menjadi penguasa luasnya samudera dan dalamnya air asin. Di hutan ada singa yang menjadi raja seluruh hewan. Burung elang, ikan hiu, dan harimau merupakan raja di daerahnya masing-masing.

 

Singa memiliki dua kategori atau karakter antara si jantan (raja)dan si betina (ratu). Kita bisa membedakan antara singa jantan dan singa betina dari bentuk atau postur tubuhnya. Singa jantan bisa dilihat dari bulu-bulu cambangnya yang begitu lebat dan memiliki testis. Namun tanda yang sangat menonjol dan mudah dilihat adalah bulu cambangnya yang begitu elegan dan penuh wibawa serta menyeramkan. Sementara ciri singa betina kebalikan dari ciri singa jantan, di bagian pipi atau lehernya tidak berbulu lebat.

 

Dari sejarah panjang kehidupan tiga raja hewan tersebut, ada secerca hidup dari salah satu raja tersebut yang tidak menjadi cerminan seekor raja yang kuat, gagah, dan perkasa. Raja tersebut adalah singa yang menjadi penguasa hutan secara mutlak atas hewan-hewan lemah lainnya. Dalam lingkungan istana hutan, seluruh wilayah menjadi kekuasaan singa dalam hal teritori untuk dijadikan lahan penyambung hidup dengan memburu binatang-binatang lemah yang dijadikan santapannya.

 

Seluruh binatang jika melihat bayang-bayang singa, mereka akan terperanjat dan segera mengambil langkah seribu untuk meloloskan diri sebelum dirinya ditemukan dan diterkam habis-habisan. Jarang sekali menemukan hewan yang berani menantang kekuatan singa, kecuali binatang-binatang tertentu yang hidup berkoloni, seperti banteng. Hewan yang menjadi target mangsanya sangat sulit lepas dari cengkeramannya.

 

Sayangnya, dalam kehidupan istana kerajaan singa, ada celah yang menjadi pelajaran bagi kita semua. Kita bisa mengambil hikmah dari cara hidupnya yang keras, kejam, dan adu kuat. Singa, atau raja/ ratu hutan tersebut memiliki sifat tertentu yang kadang juga menjadi karakter cara hidup manusia. Hal ini bisa kita lihat dari cara kerja hariannya. Kehidupannya yang serba ditakuti oleh binatang-binatang lemah lainnya, ternyata sang raja tidak mampu menafkahi para istrinya (singa betina). Akan tetapi, yang menafkahi kehidupan sehari-hari untuk makan dan menyambung hidup di kalangan istana hutannya adalah singa betina.

 

Sebagaimana dijelaskan oleh guide (pemandu jalan) Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur pada Selasa, 9 Desember 2014 menyatakan bahwa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan, singa betina yang melakukan pemburuan dan menangkap mangsanya. Singa jantan hanya berdiam di teritorinya menunggu singa betina datang membawa hasil buruannya untuk di makan. Singa jantan tidak banyak memiliki peran dalam persoalan memenuhi kebutuhan untuk menyambung hidup.

 

Salah satu alasan singa betina yang mencari mangsa untuk dimakan, yaitu karena postur tubuh singa jantan yang terlalu besar. Sehingga tidak memungkinkan untuk menerjang dengan kuat terhadap hewan yang menjadi mangsanya. Atau daya larinya tidak sekencang hewan betina karena bobot badannya yang terlalu berat. Sehingga yang bertugas mencari mangsa sebagai makanya adalah singa betina yang bersusah payah.

 

Bagi teritori istana kerajaan singa, mungkin cara demikian tidak menjadi persoalan. Namun bagi manusia cara demikian sangat amoral dan tidak layak jika hanya istri (betina) yang bekerja untuk menghidupi keluarganya. Apalagi cara kawinnya yang mengawini sekehendak hati si pejantan, sebagaimana hewan-hewan lainnya yang kawin secara bebas tanpa peduli itu anak atau ibu kandungnya sendiri. Jika hal demikian yang terjadi dalam kehidupan manusia, maka manusia yang melakukan hal demikian akan bereputasi buruk dan menjadi cemoohan masyarakat secara luas.

 

Kita sebagai manusia, jangan sampai meniru sifat atau karakter raja singa dalam menjalani kehidupan ini. Selalu bergantung pada usaha orang perempuan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai pejantan (laki-laki), manusia harus memiliki komitmen kuat untuk menghidupi keluarganya, istri dan anak-anaknya. Bukan menunggu jerih-payah istri untuk makan memenuhi perut.

 

Selain itu, cara hidup atau usaha menafkahi keluarga singa meski sang ratu berusaha tetap tidak layak menjadi contoh yang baik bagi kehidupan manusia. Mereka memangsa sesamanya karena kekuatan yang dimiliki. Jika manusia memiliki sifat atau karakter seperti kehidupan singa, maka siap-siap untuk dibuang dari lingkungan hidupnya dalam masyarakat.

 

Meniru Kehidupan Gajah

 

Gajah merupakan binatang mamalia yang hidup berkelompok. Sama halnya juga dengan singa yang hidup berkelompok. Gajah memiliki postur tubuh yang sangat besar, lebih besar dari singa, dan kulit tebal serta telinga yang lebar. Gajah merupakan gambaran hewan yang sopan, lembut, penyabar, dan pengertian. Hal itu terbukti banyak gajah terlatih yang bisa mengikuti perintah manusia.

 

Sifat atau karakter gajah sangat tepat jika menjadi inspirasi bagi kehidupan umat manusia. Salah satu sifat atau karakter gajah yang sangat mulia jika dipandang dari konteks kehidupan ‘manusia’. Dalam kehidupan kelompok gajah, seekor gajah tidak diperbolehkan mengawini gajah yang sedarah dengannya, baik anak, saudara, atau ibu yang melahirkannya. Jika ada seekor gajah jantan yang mendekati gajah betina yang sedarah, maka gajah lainnya akan mendorongnya hingga menjauh, agar tidak terjadi perkawinan sedarah.

 

Kenyataan demikian juga diceritakan oleh guide (pemandu jalan) Taman Safari Indonesia II Prigen-Pasuruan Jawa Timur pada Selasa, 9 Desember 2014 saat rombongan dalam bus mendekati seekor gajah yang sedang mendorong gajah lainnya agar tidak mendekat dengan gajah yang dianggap sedarah. Peristiwa demikian sangat unik dan menarik. Koloni gajah memiliki karakter yang sangat manusiawi, berbeda dengan singa yang sangat jelas kehewanannya.

 

Selain cara hidup gajah yang sangat manusiawi, cara mencari nafkah hidupnya juga tidak seperti cara singa. Gajah tidak memaksa sesama hewan, namun memakan rerumputan. Mereka sama-sama berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, berbeda dengan singa yang hanya mempekerjakan singa betina untuk mencari makan.

 

Begitulah, manusia harus banyak belajar dari binatang dan mengambil hikmah di balik cara hidupnya. Manusia harus mengambil hikmah dari cara hidup singa, agar tidak mempekerjakan para perempuan atau istrinya untuk menyambung hidup, itu pun usaha si betina dengan cara memakan sebangsanya sendiri. Namun, hiduplah seperti gajah yang sabar, lemah-lembut, dan memenuhi kebutuhan hidupnya secara bersama-sama, ala masyarakat modern, suami-istri bekerja, dan tidak memangsa sesamanya. Lintas perkawinannya juga sangat mulai dari konteks kemanusiaan, yaitu tidak boleh ada perkawinan sedarah dalam kelompok gajah. Cara hidup gajah inilah yang harus kita jadikan pelajaran untuk menjalani kehidupan di dunia. Sedangkan cara hidup singa, bisa kita ambil hikmahnya agar tidak selalu mempekerjakan perempuan dan memangsa sesama dalam memenuhi kebutuhan hidup. Semoga!

 

* Bermukim di Surabaya.

Penulis

JUNAIDI KHAB

2 COMMENTS