Elang Bondol Tidak Hanya Sekedar Simbol

0
887

Setiap kali mendengar kata “Elang” sebagian besar orang berasumsi ia adalah sosok yang tangguh. Tidak jarang jika Elang selalui dikaitkan dengan karakter yang kuat, jantan, dan melambangkan kepahlawanan. Elang apapun itu tidak pernah luput untuk dijadikan suatu simbol, ambil contoh negara Amerika Serikat yang menjadikan Elang sebagai simbol negara. Indonesia juga tidak mau kalah. Elang Bondol yang tampan pemilik nama latin Haliastur indus pasti sangat sering dilihat warga ibukota berlalu lalang di sekitar Jakarta. Bukan, Elang yang satu ini bukan terbang bebas di angkasa, melainkan berada di salah satu transportasi massal bernama TransJakarta sebagai sebuah ikon DKI Jakarta. Sambil membawa Salak Condet, si Elang Bondol siap mengantarkanmu kemana saja dengan harga yang ramah kantong dan fasilitas yang memuaskan.

Elang Bondol sesungguhnya tidak hanya tersebar di pulau Jawa saja, melainkan juga di Sumatra, Kalimantan, Bali, Maluku, hingga Papua. Salah satu penghuni Taman Safari II Prigen ini mudah sekali dikenali. Bulu di sayap berwarna cokelat sedang bagian tubuhnya berwarna kuning. Pemilik mata kuning ini adalah karnivor seperti Elang jenis yang lain. Ia bisa makan kepiting, anak ayam, hingga hewan berukuran sedang sekalipun. Meskipun menurut PBB Elang Bondol memiliki risiko rendah untuk punah dalam jangka waktu dekat, akan tetapi bukan berarti Elang ini tidak perlu dilestarikan. Bertelur hanya 2-3 butir pada bulan-bulan tertentu menjadi kemungkinan bahwa kehadirannya akan semakin sulit ditemui.

Melalui penggunaan ikon Elang Bondol pada tubuh TransJakarta, secara tidak langsung pemerintah ingin supaya warga Jakarta lebih mengenal dan tahu siapakah Elang tersebut. Karena sebenarnya di pulau Jawa sendiri, kehadiran Elang Bondol sudah sangat sulit ditemui. Sebelum nantinya si tampan ini menjadi satwa endemik, pemerintah lebih senang jika warganya secara bersama ikut menjaga kelestarian habitat dan makhluknya. Namun, jangan salah, Elang Bondol sudah dinobatkan menjadi ikon DKI Jakarta sejak tahun 1989, hanya saja kini melalui transportasi massal TransJakarta, pemerintah ingin membuat warganya semakin aware dengan hewan ini. Bisa saja, semakin sering kita melihat Elang ini berkeliaran, semakin kita mudah mengingat untuk melindunginya.

Penulis

Salahuddin Muhammad Iqbal